Warung Ibu, Suami Sakit
2 Agustus 2026 · 521 kata
Sri bangun pukul empat pagi. Bukan karena alarm — alarm HP-nya sudah rusak sejak Maret dan dia belum sempat beli yang baru. Dia bangun karena sudah terbiasa.
Dapur tiga kali empat meter di belakang rumah kontrakan di Gang Kenanga, Ciledug Utara. Kompor dua tungku. Panci besar buat nasi. Wajan hitam buat tumis. Semuanya sudah dia hafal gerakannya dalam gelap.
Tiga minggu sejak Pak Hendra masuk RS Umum Daerah Tangerang — lambung, kata dokter, sudah ada gejala sejak tahun lalu tapi mereka berdua tidak sempat periksa. Sri memasak sendirian sekarang. Dulu Hendra yang belanja ke Pasar Ciledug subuh, yang angkat galon, yang cuci piring siang hari sambil dengerin radio dangdut. Sekarang Sri yang semuanya.
Pukul setengah enam, warung buka. Warung nasi ini tidak punya nama papan. Orang-orang di gang tahu saja lokasinya — dua pintu dari mushola, kain plastik biru di depan, tiga meja plastik putih dan satu meja kayu panjang yang Hendra beli dari tukang loak empat tahun lalu.
Pelanggan pertama biasanya Pak Slamet, satpam perumahan yang habis jaga malam. Dia pesan nasi sayur sop dan tahu goreng. Delapan ribu.
“Bu, Pak Hendra gimana?”
“Masih di RS, Pak. Sudah agak mendingan katanya.”
“Alhamdulillah. Semoga cepat pulih.”
Sri mengangguk. Dia tidak bercerita lebih. Bukan karena tidak mau — dia tidak punya waktu untuk itu.
Pukul sebelas siang, porsi hampir habis. Delapan belas dari dua puluh. Sisa dua porsi dia simpan buat makan siang sendiri dan buat dibawa ke RS sore nanti.
Uang di laci: 187 ribu. Hari ini lumayan.
Kemarin 163 ribu. Hari sebelumnya 145 ribu. Sri tidak pakai catatan buku — dia hafal angka-angka itu seperti dia hafal urutan memasak.
Biaya RS sebulan ini: 2,4 juta. BPJS mereka tidak aktif — sempat menunggak empat bulan waktu warung sepi awal tahun. Sri sudah bayar tunggakan, tapi klaim baru bisa aktif lagi minggu depan. Tiga minggu ini bayar sendiri.
Uang simpanan tinggal 800 ribu.
Sri duduk di bangku plastik dekat kompor. Dia minum segelas teh — sudah tidak panas lagi, tapi tidak apa-apa. Dia makan nasi sisa dengan tempe goreng yang agak keras karena terlalu lama di wajan.
Di luar, motor lewat. Anak-anak SD pulang sekolah ribut di gang. Suara adzan dhuhur dari mushola dua pintu sebelah.
Pukul empat sore Sri tutup warung. Dia naik angkot 05 jurusan Ciledug–Karang Tengah sampai pertigaan, lanjut ojol ke RS.
Hendra sudah bisa duduk hari ini. Mukanya masih pucat tapi matanya lebih hidup dari kemarin.
“Gimana warung?” tanya Hendra.
“Oke,” kata Sri.
Hendra tahu “oke” itu artinya banyak hal. Dia tidak bertanya lebih.
Sri duduk di kursi plastik di sisi ranjang. Mereka diam sebentar. Di luar kamar, suara trolley obat lewat.
“Kamu makan?” tanya Hendra.
“Udah.”
“Beneran?”
Sri tersenyum tipis. “Beneran.”