Satpam yang Tahu Terlalu Banyak
7 Agustus 2026 · 521 kata
Hendra hafal bunyi knalpot Fortuner hitam di unit B-14 — sedikit berat di putaran bawah, punya karakter. Sudah tiga tahun dia jaga malam di Cluster Mahoni, Lippo Karawaci. Posnya kecil, atap seng, satu kipas angin yang mati kalau tegangan turun. Tapi dari sana dia bisa lihat seluruh mulut gang.
Shift-nya mulai pukul sembilan malam, selesai pukul enam pagi. Gaji 2,8 juta. Tidak ada lembur resmi.
Malam itu — dia tidak ingat tanggal pasti, tapi musim hujan belum selesai, mungkin Maret — Fortuner B-14 masuk jam 11 malam. Biasanya jam delapan. Hendra mencatat di buku log: B-14, 23.04. Standar.
Yang tidak standar adalah: penumpang yang turun dari pintu belakang.
Bukan istri Pak Arif. Bukan juga kerabat yang pernah dia lihat sebelumnya. Perempuan, sekitar tiga puluhan, jaket abu-abu, masuk cepat lewat pintu samping. Pak Arif tidak turun dari mobil sampai perempuan itu masuk ke dalam rumah. Baru setelah pintu tertutup, Pak Arif keluar, slempang tas, masuk dengan santai seolah dia pulang sendiri.
Hendra menutup buku log.
Seminggu kemudian, Bu Rina — istri Pak Arif — mampir ke pos. Dia biasa begitu. Kadang bawa kopi sachet, kadang cuma tanya-tanya cuaca.
“Pak Hendra, seminggu ini aman kan?”
“Aman, Bu.”
“Gak ada yang aneh-aneh?”
Hendra menatap halaman depan cluster. Satu kucing kampung duduk di dekat tanaman hias Bu Susi nomor B-09.
“Gak ada, Bu.”
Bu Rina mengangguk. Pergi. Hendra tidak tahu apakah Bu Rina curiga atau memang cuma basa-basi. Dia tidak mau tahu.
Masalahnya bukan soal mau bilang atau tidak.
Masalahnya adalah setelah malam itu, setiap kali Pak Arif lewat pos dan bilang “Selamat malam, Pak Hendra,” Hendra harus memutuskan dalam satu detik ekspresi apa yang harus dia pasang. Terlalu biasa terlihat pura-pura. Terlalu dingin akan aneh. Dia akhirnya selalu pilih yang ketiga: mengangguk sambil lihat ke arah lain, pura-pura ada sesuatu di ujung jalan.
Pak Arif tidak pernah tahu. Atau pura-pura tidak tahu. Sama saja.
Suatu malam, rekan shift Hendra — Agus, yang sudah lima tahun di sini — duduk di sebelahnya sambil makan nasi kucing bungkus dari warung dekat pintu tol Karawaci.
“Lo pernah liat sesuatu yang bikin susah tidur?” tanya Agus, tanpa konteks.
Hendra makan nasi kucing-nya.
“Pernah.”
“Terus?”
“Terus lupa.”
Agus mengangguk seolah itu jawaban yang masuk akal. Mereka makan dalam diam. Di luar, Fortuner B-14 melintas pelan, masuk ke carport. Lampu teras menyala otomatis.
Hendra tidak mencatat jam di buku log malam itu.