← Kembali

Drama · Ciputat · 3 menit

Angkot Terakhir Tanpa Ongkos

Angkot itu sudah hampir kosong ketika Rama naik di depan Pamella Swalayan, Ciputat, pukul sembilan lewat dua puluh. Satu penumpang lain — perempuan, ransel hitam, earphone di telinga kiri — duduk di pojok dekat pintu.

Rama duduk di sisi kanan. Dia membuka HP, pura-pura cek sesuatu.

Angkot jalan.


Lima menit kemudian, Rama memasukkan tangan ke saku celana. Kanan. Kiri. Lalu ke saku jaket.

Dompet tidak ada.

Dia ingat: dompet ditinggal di laci meja kantor. Dia pulang tergesa-gesa karena rapat molor sampai pukul delapan setengah dan dia langsung berlari ke angkot terakhir ini begitu melihatnya di pertigaan.

HP ada. Tapi baterai empat persen. Dan aplikasi dompet digital-nya butuh konfirmasi OTP yang dikirim ke nomor lama yang sudah tidak aktif.

Rama menghitung ongkos angkot trayek ini: empat ribu rupiah. Dia tidak punya uang tunai sepeserpun.


Di pojok sana, perempuan itu melepas earphone-nya. Dia juga sedang menggeledah tasnya — dengan cara yang tidak terlihat seperti mencari lipstik.

Rama menatap ke luar jendela. Lampu merah Jalan Ir. H. Juanda sudah lewat. Masih dua kilometer ke arah Pamulang.

“Mas,” perempuan itu bicara. Suaranya pelan tapi cukup jelas. “Maaf. Mas kebetulan bawa uang kecil?”

Rama berbalik.

“Saya juga lagi nyari,” jawabnya.

Perempuan itu terdiam. Lalu: “Oh.”

Mereka saling menatap sebentar — bukan dengan cara yang dramatis, lebih ke cara orang yang baru menyadari sedang berada di situasi yang sama-sama konyol.

“Dompet ketinggalan?” tanya Rama.

“QRIS-nya error dari tadi. Saldo ada tapi aplikasinya loading terus.”

“Saya ketinggalan dompet di kantor.”

Perempuan itu mengangguk pelan. “Kita ketinggalan sama-sama.”


Sopir angkotnya — kira-kira enam puluhan, kaos oblong abu-abu, kaca spion kanan diikat tali rafia — menoleh sebentar dari balik kemudi.

“Mana ongkosnya?”

Rama maju ke depan. Dia menjelaskan dengan singkat: ketinggalan dompet, tidak ada uang tunai, rumahnya di Serua.

Sopir itu diam. Lalu bilang, “Kamu yang di belakang juga?”

Perempuan itu mengangguk. “Iya, Pak. Maaf.”

Sopir menatap ke depan lagi. Lampu jalan menerangi mukanya sebentar — tidak marah, hanya lelah.

“Ya sudah. Besok bayar. Kamu lewat sini lagi kan?”

“Iya, Pak. Pasti.”

“Kamu juga?”

Perempuan itu menjawab, “Iya.”


Angkot berhenti di persimpangan Serua. Rama turun. Perempuan itu masih di dalam — tempat tujuannya rupanya lebih jauh.

Sebelum pintu angkot ditarik, perempuan itu ngomong ke Rama: “Makasih ya, Mas. Jadi ada temannya.”

Rama tidak sempat menjawab. Pintu sudah menutup.

Dia berjalan kaki tiga ratus meter ke kos-nya di gang belakang Masjid Al-Ikhlas. Udara malam Ciputat bau asap knalpot dan sedikit tanah basah.

Di mejanya, dompet itu memang ada — persis di laci paling atas, di bawah charger laptop yang sudah dia cari-cari sejak Selasa.


— Ciputat, 11 Agustus 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Drama →