Bendera Pertama Sejak Ditinggal
15 Agustus 2026 · 512 kata
Sri menemukan bendera itu di dalam lemari plastik cokelat, di rak paling bawah, terlipat rapi dalam kantong kresek putih. Mas Harto selalu menyimpannya di sana setelah 17 Agustus, dilipat empat kali, dimasukkan kantong, disimpan kembali ke tempatnya. Tidak pernah lecek. Tidak pernah salah rak.
Ini pertama kalinya Sri membuka kantong itu sendiri.
Di luar, gang sempit RT 04 Cipondoh sudah ramai bendera sejak kemarin sore. Pak Slamet sebelah pasang dua — satu di pagar, satu di tiang bambu yang ditancapkan di pot semen. Anak-anak karang taruna merentangkan umbul-umbul merah putih dari tiang listrik ke tiang listrik. Sri melihat semuanya dari balik jendela dapur sambil menunggu air mendidih.
Tiang besinya masih berdiri di depan rumah. Mas Harto yang pasang, 2019, dicat ulang 2021 — abu-abu gelap. Setiap tahun sejak 2023, tiang itu kosong di hari kemerdekaan. Pak Slamet tidak pernah bertanya. Ibu-ibu pengajian tidak pernah menyinggung. Mungkin mereka tahu. Mungkin mereka tidak tahu dan tidak peduli. Sama saja.
Sri membawa bendera ke ruang tamu. Dia duduk di lantai, membuka lipatan perlahan. Kain merah putih itu bersih. Mas Harto pernah bilang jangan dicuci terlalu sering, nanti warnanya pudar. Sri tidak ingat kapan terakhir dicuci. Yang dia ingat: Mas Harto berdiri di depan tiang itu, mengikat tali, menarik bendera naik, lalu melangkah mundur satu langkah untuk melihat hasilnya.
Dia selalu mundur satu langkah.
Sri berdiri. Dia keluar ke depan rumah. Pagi Cipondoh sudah terik jam delapan — matahari dari arah Jalan Poris langsung tanpa penghalang, bayangan tiang jatuh panjang ke aspal.
Tali di tiang itu masih ada. Sedikit usang, tapi masih kuat.
Sri mengikat bendera. Tangannya tidak terlalu hafal caranya — simpul apa, ujung mana di atas. Dia coba dua kali. Yang kedua terasa lebih pas. Dia menarik tali, bendera naik pelan, kain merah putih membuka karena angin kecil dari gang.
Dia berdiri diam sebentar.
Tidak ada perasaan besar yang datang. Tidak ada air mata. Yang ada hanya kesadaran kecil bahwa ini — gerakan tangan ini, posisi berdiri ini, sudut pandang ke tiang ini — sudah pernah dilakukan ribuan kali, tapi selalu oleh orang lain.
Di dapur, air sudah mendidih.
Sri masuk ke dalam. Dia matikan kompor. Dia tuang air panas ke teko, taruh teh celup, tunggu. Dari jendela dapur, dia bisa melihat ujung bendera yang berkibar di atas atap tetangga sebelah kiri.
Dia tidak mundur satu langkah. Tidak perlu.