Libur Tujuhbelas Agustus Pertama
17 Agustus 2026 · 511 kata
Surat pemberitahuan itu ditempel di papan pengumuman pabrik hari Jumat sore. Rudi membacanya dua kali.
Sehubungan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, seluruh karyawan diliburkan pada tanggal 17 Agustus 2026. Absensi normal kembali berlaku 18 Agustus.
Dia membacanya sekali lagi.
Delapan tahun Rudi kerja di PT Sinar Tirta Garmen, di kawasan industri Cisauk, dekat pertigaan Panongan. Delapan tahun, 17 Agustus selalu masuk. Dulu ada uang lembur, dulu ada bonus kehadiran. Tahun lalu tidak ada bonus, tapi tetap masuk. Sekarang libur.
Rudi tidak tahu harus bilang apa ke istrinya.
Pagi tanggal tujuh belas, dia bangun pukul lima seperti biasa. Refleks. Tubuhnya tidak tahu hari ini berbeda.
Dini sudah di dapur. “Kenapa bangun pagi?” tanyanya tanpa menoleh.
“Biasa.”
“Kan libur.”
“Iya.”
Dia duduk di kursi plastik depan rumah, di gang sempit Perumahan Taman Cisauk Blok C. Tetangganya, Pak Asep, sudah pasang bendera merah putih di depan pagar — bendera kain, bukan plastik. Rudi ingat dia punya bendera di kardus atas lemari. Sudah dua tahun tidak dikeluarkan.
Dia masuk, naik ke kursi, mengambil kardus itu. Bendera kain, agak lusuh, tapi utuh. Dia pasang di depan rumah. Tali diikatkan ke pagar besi. Merah di atas, putih di bawah. Sudah benar.
Pukul delapan, kampung sudah ramai. Ada lomba anak-anak di lapangan RT — balap karung, makan kerupuk. Rudi berdiri di pinggir lapangan, tangan di saku.
Anaknya, Nanda, delapan tahun, ikut lomba balap kelereng. Rudi belum pernah nonton Nanda lomba. Biasanya dia sudah di pabrik jam segini.
Nanda kalah di babak kedua. Kelerengnya jatuh di dekat garis finish. Nanda tidak menangis — dia langsung lari ke pinggir lapangan, minta es serut dari ibu-ibu warung.
Rudi tidak tepuk tangan. Dia cuma berdiri dan melihat.
Dini datang dari belakang, berdiri di sebelahnya. “Nanda tadi lihat kamu,” katanya. “Dia melambai.”
“Kapan?”
“Waktu mau start. Tapi kamu lagi melamun.”
Rudi diam.
Siangnya mereka makan soto Pak Udin di warung depan masjid — soto Betawi, kuah santan, kikil. Dua puluh dua ribu per poreh. Nanda minta es teh manis. Rudi pesan yang sama.
Tidak ada yang istimewa dari makan siang itu. Warungnya sama seperti biasa. Sotonya sama. Mejanya masih miring ke kiri.
Tapi Rudi duduk di sana sampai jam dua siang. Nanda sudah tertidur di pangkuannya.
Dia tidak buru-buru ke mana-mana. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, dia tidak perlu.
Sorenya, ketika bendera di depan rumah mulai terkulai karena tidak ada angin, Rudi berdiri dan meluruskan talinya sedikit.
Cukup.