← Kembali

Slice of Life · Serpong · 3 menit

Pulang Serpong Setelah Tiga Tahun

Rendra turun di Stasiun Rawa Buntu pukul setengah tiga sore. Satu koper besar, satu ransel, satu tas kain dari minimarket Surabaya yang isinya charger, obat maag, dan dua bungkus rengginang oleh-oleh untuk ibu.

Tiga tahun.

Dia berdiri sebentar di depan pintu keluar stasiun. Grab tidak muncul-muncul — zona sepi, lima menit. Dia menunggu di bawah kanopi yang catnya sudah mengelupas setengah. Di seberang jalan, Alfamart masih di tempat yang sama. Di sebelahnya, warung soto yang dulu dia sering singgahi sebelum SMA sudah berubah jadi bengkel motor.

Grabnya datang. Mobil Avanza putih, pengemudi bernama Pak Suharto, 4.9 rating.

“Ke Griya Serpong mas?”

“Iya, Pak.”

Pak Suharto tidak bicara lagi. Rendra menatap jendela. Jalan Raya Serpong macet seperti biasa — truk beton, motor, Innova hitam dengan stiker Dilarang Mendahului. Di kanan jalan ada spanduk properti baru: The Orchard Residences — Starting from 800 Juta. Di sampingnya, warung nasi uduk yang papan namanya sudah pudar tapi tetap buka.

Rendra membuka WA. Ada tiga pesan dari ibunya sejak pagi: Nanti makan apa Ren, Kamarmu sudah Ibu bereskan tapi lemari lama masih di situ, Hati-hati di stasiun banyak copet.

Dia tidak membalas. Nanti saja, kalau sudah sampai.


Rumah itu sama. Cat cokelat muda, pagar besi yang berkarat di bagian bawah, pohon mangga di samping yang sekarang lebih tinggi dari atap carport.

Ibunya sudah berdiri di depan pintu ketika Avanza berhenti.

“Sudah makan belum?”

“Belum, Bu.”

“Masuk dulu. Ibu masak sop.”

Bapaknya ada di ruang tengah, duduk di kursi rotan, menonton berita. Dia tidak langsung berdiri. Hanya melirik ke pintu masuk, mengangguk sekali.

“Gimana Surabaya?”

“Ya gitu, Pak.”

Bapaknya mengangguk lagi. Kembali ke TV. Di layar, seorang pejabat daerah sedang menyerahkan sertifikat tanah ke warga.


Kamarnya memang sudah jadi gudang — setengah gudang, setengah kamar. Lemari lama bapaknya berdiri di pojok, isinya dokumen lama dan dua jas yang tidak pernah dipakai. Kasur masih di tempat yang sama. Rendra meletakkan kopernya di lantai. Dia duduk di tepi kasur.

Dari jendela, dia bisa melihat gang sempit di samping rumah. Dulu ada anak-anak main bola di sana tiap sore. Sekarang sepi. Mungkin anak-anak itu sudah SMA. Atau sudah pergi juga ke kota lain.

Dia membuka laptop. Inbox: dua puluh tiga email yang belum dibaca, sebagian besar newsletter yang tidak pernah dia unsubscribe.

Satu email dari portal kerja: 5 lowongan baru di area Tangerang Selatan yang cocok untuk profilmu.

Dia menutup laptop.

Sop ibunya sudah matang. Dari dapur, aromanya sampai ke kamar — bawang merah, daun bawang, sedikit merica. Sama persis seperti yang dia ingat.

Rendra berdiri. Dia keluar kamar.


— Serpong, 26 Agustus 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →