Grup WA Keluarga Beda Kota
30 Agustus 2026 · 512 kata
Grup WA Keluarga Besar Tangerang Selatan sudah aktif sejak 2019. Dinda baru masuk dua tahun lalu, setelah Om Hendra — yang pegang admin — akhirnya sadar dia sudah lulus SMA dan layak diajak diskusi soal THR.
Diskusi soal THR tidak pernah terjadi. Yang ada: foto-foto masakan Tante Rini, forward artikel kesehatan dari Pakde Bowo di Surabaya, dan sesekali polling ulang tahun yang tidak pernah diisi lebih dari tiga orang.
Tapi pagi ini, 30 Agustus, grup itu tiba-tiba ramai.
Udah di tol gan, ketik Kak Ariel dari Bandung, 6.12 pagi.
Aku berangkat jam 8 ya Om, balas sepupu Dinda, Reza, yang tinggal di Bekasi.
Jangan lupa bawa martabak keju!! — dari Tante Rini, diikuti tiga emoji tepuk tangan.
Dinda membaca semua itu di kasur kamarnya, di rumah Om Hendra di klaster Foresta, Gading Serpong. Dia sudah di sini sejak kemarin malam. Nenek juga sudah di sini. Ulang tahun Nenek yang ke-72 itu alasan semua orang tiba-tiba ingat satu sama lain.
Acara dimulai pukul 11 siang. Ruang makan Om Hendra penuh: dua meja lipat ditambah, kursi plastik dipinjam dari tetangga, AC split kerja keras. Nenek duduk di kepala meja, pakai kebaya ungu, rambut disanggul rapi oleh Tante Rini sejak jam delapan.
Dinda duduk di samping Reza. Mereka belum ketemu hampir delapan bulan.
“Eh Din, kamu kerja di mana sekarang?” tanya Reza.
“Startup logistik, di Alam Sutera.”
“Oh.” Reza mengangguk. Lalu menatap HP.
Dinda menatap HP juga.
Di grup WA, foto-foto sudah masuk. Kak Ariel memfoto martabak yang baru dibuka dari bungkusnya. Tante Rini mengirim foto Nenek sedang potong kue — padahal mereka semua ada di ruangan yang sama, dua meter dari Nenek.
Cantik banget Bu! ketik Pakde Bowo. Dari Surabaya. Dia tidak datang.
Dinda mengetik juga: Selamat ulang tahun Nek sayang lalu mengirim hati merah. Nenek tidak punya HP. Pesan itu dibaca Tante Rini, yang kemudian menoleh ke Nenek dan berkata, “Nenek, Dinda kirim salam.”
Nenek mengangguk. “Dinda mana?”
Dinda mengangkat tangan. “Di sini, Nek.”
Nenek squint, lalu tertawa kecil. “Kirim salam tapi ada di sini?”
Setelah makan, Dinda duduk di teras belakang yang menghadap taman klaster. Rumput dipotong rapi, ada kolam kecil tanpa ikan. Reza keluar membawa dua gelas es teh.
“Lo tadi ngetik apa di grup?” tanya Reza.
“Salam buat Nenek.”
Reza tertawa. Bukan tertawa mengejek — lebih ke tertawa karena dia juga melakukan hal yang sama.
Mereka duduk diam beberapa menit. Di dalam, Tante Rini masih memfoto dessert. Notifikasi grup terus masuk.
Dinda mematikan notifikasi. Bukan keluar dari grup — cuma mute. Seminggu. Seperti biasa.
Reza melihat layar Dinda. “Gw juga ah.”
Mereka mute bersamaan. Es teh mereka masih ada. Taman klaster diam.