Anak Drop Out Kuliah
22 Juni 2026 · 599 kata
Bagas duduk di kos AC-nya di Depok pukul sembilan malam. Laptop terbuka. WhatsApp web. Chat dengan Ibu di pinned chat.
Pesan terakhir dari Ibu, dua hari lalu: Gas, jangan lupa transfer uang kos ya nak. Ibu sudah kirim tadi siang.
Bagas membalas waktu itu: Iya Bu, makasih.
Bagas belum bilang ke Ibu bahwa dia sudah drop out semester lima Manajemen UI. Sudah resmi sejak Senin lalu — dia tidak ambil mata kuliah, IPK sudah di bawah threshold, sudah berkonsultasi dengan dosen wali, sudah keluarkan surat keputusan akademik.
Tiga bulan lagi dia harus angkat barang dari kosnya. Atau cari kerjaan untuk bayar sendiri.
Bagas mengetik draft pesan ke Ibu. Pukul sembilan-tiga puluh.
Bu, aku mau cerita sesuatu…
Hapus.
Bu, aku ada kabar yang…
Hapus.
Bu, soal kuliah aku…
Hapus.
Dia menatap layar. Dia berdiri, mengambil air mineral dari kulkas mini di kos. Dia duduk lagi.
Pukul sepuluh, dia mengetik lagi.
Bu, semester ini aku gak ambil matkul. IPK aku kurang. Aku mungkin gak bisa lanjut.
Hapus. Terlalu banyak alasan.
Bu, aku gak kuliah lagi.
Hapus. Terlalu langsung.
Pukul sebelas, Bagas keluar dari kos untuk merokok di depan gang. Dia tidak biasa merokok — dia mulai sejak semester empat ketika kuliahnya mulai berantakan. Sampoerna Mild. Lima belas ribu sebungkus.
Dia menyalakan rokok. Dia menatap motor-motor yang lewat di jalan Margonda. Pukul sebelas malam, masih ramai. Mahasiswa pulang dari kelas malam, ojol jemput orderan, anak-anak nongkrong di warkop.
Dia memikirkan Ibu. Ibu di Tangerang, single mother sejak bapaknya wafat saat Bagas SMP. Ibu kerja di koperasi karyawan sebagai bendahara. Gaji 5 jutaan. Kos Bagas 2,3 juta per bulan.
Bagas menghela napas. Asap rokok keluar berbarengan.
Pukul setengah dua belas, dia kembali ke kos. Dia duduk di kursi belajarnya. Dia membuka WA lagi.
Dia mengetik:
Bu, aku DO. Maaf.
Tiga kata. Itu saja.
Dia menatap layar lima menit. Lalu dia menekan send.
Centang abu-abu satu. Lalu dua. Lalu biru — Ibu membaca dua menit kemudian.
Ibu mengetik (dot dot dot terlihat di layar). Lalu berhenti. Lalu mengetik lagi. Lalu berhenti.
Tiga belas menit kemudian, balasan masuk:
Kamu udah makan belum, Gas?
Bagas menatap pesan itu. Dia tidak tahu cara menjawab. Dia baru sadar dia belum makan sejak pagi.
Dia mengetik:
Belum, Bu.
Ibu membalas dalam 30 detik:
Pergi makan. Ibu tunggu.
Bagas keluar dari kos. Dia ke warung nasi padang di seberang jalan. Dia pesan nasi rendang, telur dadar, sambal hijau. Total 22 ribu.
Dia makan di warung. Sendiri. Pukul tengah malam.
Setelah selesai, dia balik ke kos. Dia membuka WA.
Dia mengetik:
Sudah makan, Bu.
Ibu membalas:
Bagus. Tidur. Besok pagi kita ngobrol.
Bagas mengangguk di layar. Dia tidak membalas. Dia menaruh HP di meja.
Dia mematikan lampu kamar. Dia berbaring. AC nyala di 23 derajat. Dia menatap langit-langit.
Pukul satu kurang sepuluh, HP-nya bergetar. Notifikasi WA dari Ibu:
Gas, Ibu sayang kamu apa pun yang terjadi. Tidur ya.
Bagas membaca itu. Dia tidak membalas. Dia memejamkan mata.
Sepuluh menit kemudian, air mengalir di pipinya. Dia membiarkannya. Dia tidak menghapus.
Tidur datang pelan, hampir pukul dua pagi.
Esok paginya, Ibu menelepon pukul setengah delapan. Bagas mengangkat. Mereka bicara dua puluh menit. Tidak ada teriakan. Tidak ada vonis. Hanya pertanyaan: Sekarang rencana kamu apa, Gas?
Bagas tidak punya jawaban final. Tapi Ibu mendengarkan.