← Kembali

Drama · Bekasi · 3 menit

Bapak Lupa Nama Saya

Bowo masuk pintu rumah bapaknya di Bekasi Utara pukul sebelas siang hari Selasa. Bapaknya, Pak Sumardi, 71 tahun, pensiunan PNS Dinas Tata Kota, sedang duduk di kursi rotan di teras. Sedang membaca koran Kompas cetak — bapaknya satu dari sedikit orang yang masih langganan koran cetak harian.

“Pak.”

Pak Sumardi mengangkat wajahnya. Kacamata baca jatuh ke pangkalnya. Dia menatap Bowo lima detik.

“Mas, sudah datang? Silakan duduk.”

Bowo terdiam sebentar. Dia duduk di kursi rotan sebelahnya.

“Pak, ini Bowo. Anaknya.”

Pak Sumardi mengangguk. “Iya, iya. Bowo. Sudah, Mas. Sudah duduk.”


Bibik Marni — pembantu yang merawat Pak Sumardi sejak istrinya wafat tiga tahun lalu — keluar dari dapur membawa nampan teh manis dan pisang goreng.

“Pak Bowo, sudah lama menunggu?”

“Belum, Bik. Baru sampai.”

Bibik Marni menatap Bowo. Dia paham. Dia bawa nampan ke meja, lalu pergi ke dapur lagi.

Pak Sumardi membuka koran lebih lebar. “Mas, sudah baca berita politik? Pemilihan presiden tahun depan ramai sekali.”

“Iya, Pak. Saya juga baca.”

“Mas pilih siapa?”

“Belum pilih, Pak.”

“Bagus, Mas. Jangan terburu-buru. Politik itu rumit.”

Bowo mengangguk. Dia menyeruput teh manisnya. Dia memperhatikan tangan bapaknya yang gemetar pelan saat memegang koran.


Bowo membawa hasil tes laboratorium dari kontrol bulan lalu. Dia mengeluarkan map dari tasnya.

“Pak, ini hasil lab kemarin.”

Pak Sumardi melihat map. “Mas, ini punya saya?”

“Iya, Pak.”

“Mas siapa ya, maaf?”

Bowo menatap bapaknya. Lima detik penuh.

“Bowo, Pak. Anaknya Bapak.”

Pak Sumardi terdiam. Kacamatanya ditarik turun lagi. Dia menatap wajah Bowo dengan ekspresi orang yang sedang mencari sesuatu di dalam ingatannya.

“Ah. Iya. Bowo. Maaf, Bowo. Bapak baru bangun tidur tadi. Masih agak…”

Pak Sumardi tidak menyelesaikan kalimatnya.


Bowo membuka map dan membacakan hasil lab. Gula darah 158 (turun dari bulan lalu 187). Kolesterol 220 (masih agak tinggi). Asam urat normal. Tekanan darah dari catatan bibik: rata-rata 130/85.

Pak Sumardi mendengarkan. Tidak mencatat. Tidak bertanya. Hanya mengangguk-angguk.

“Pak, bulan depan kontrol di Dr. Yusuf ya.”

“Dr. Yusuf siapa?”

“Internist langganan Bapak. Di RS Hermina.”

“Oh. Iya, iya.”


Pukul setengah satu, Bowo bersiap pulang. Dia bekerja di kantor BUMN di Sudirman, dia ambil cuti setengah hari untuk jenguk bapaknya.

“Pak, Bowo pulang dulu ya. Bowo ke kantor.”

Pak Sumardi mengangguk. Dia tersenyum tipis. “Iya, Mas. Hati-hati di jalan.”

Bowo tidak mengoreksi panggilan “Mas” sekali itu. Dia hanya tersenyum balas.

Di pintu, Bibik Marni mengantar Bowo.

“Bik, kalau Bapak ada apa-apa, segera hubungi saya. Jangan tunggu sampai parah.”

“Iya, Pak Bowo. Saya selalu di sini.”

“Bik, terima kasih ya.”

Bibik Marni mengangguk pelan.


Di mobilnya, Bowo duduk lima menit sebelum menyalakan mesin. Dia membuka HP. Dia menelepon istrinya, Mira.

“Mi, Bapak makin parah ya kayaknya. Tadi dia panggil aku Mas dua kali.”

Mira di seberang line terdiam beberapa detik. “Bang, mau aku temani next visit?”

“Boleh, Mi.”

“Bang, Bapak inget aku?”

“Iya, dia masih inget kamu. Tadi dia nyebut nama kamu waktu Bibik Marni nyenggol soal mantu.”

Mira tertawa kecil. “Bang, jangan kecil hati. Mungkin Bapak hanya capek.”

“Iya, Mi. Mungkin.”

Bowo menutup telepon. Dia menyalakan mesin. Dia keluar dari halaman rumah bapaknya.

Di kaca spion, Pak Sumardi masih duduk di teras, sekarang dengan koran terlipat di pangkuan. Pak Sumardi melambai. Bowo melambai balik.

Lalu Bowo masuk ke jalan Bekasi Raya. Macet seperti biasa. Dia menyalakan radio. Talk show pagi tentang ekonomi. Dia tidak terlalu mendengar.


— Bekasi, 19 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Drama →