← Kembali

Drama · Cikampek · 4 menit

Ibu Kena Stroke di Pintu Tol

HP Anggi berdering pukul tiga kurang sepuluh pagi. Dia bangun setelah dering ketiga. Suaminya, Wira, masih tidur.

Layar HP: Bapak.

Bapaknya jarang menelepon malam.

“Halo Pak?”

“Nggi,” suara bapaknya bergetar, “Ibu di rumah sakit Cikampek. Pingsan di mobil di pintu tol. Tadi dia di sebelah Bapak, kami balik dari Cirebon. Tiba-tiba dia jatuh ke samping. Bapak nelpon ambulans.”

Anggi langsung bangun. Wira ikut bangun, melihat ekspresi Anggi.

“Pak, sekarang gimana?”

“Lagi diperiksa. Dokter bilang kemungkinan stroke. Nggi, lo bisa ke sini sekarang?”

“Iya Pak. Anggi berangkat sekarang.”


Wira mengantar. Anggi tidak bisa setir, tangannya gemetar. Mereka keluar dari kontrakan Bekasi Timur pukul setengah empat. Tol Jakarta-Cikampek pagi itu lengang. Wira menyetir konsisten 100 km/jam.

Anggi menatap jalan. Tidak banyak bicara. Dia memikirkan kalimat terakhir ibunya, tiga hari lalu di telepon:

“Mama jangan disuruh diet ya, Nggi. Mama mau makan apa aja Mama suka.”

Anggi yang bilang itu. Karena dokter waktu kontrol gula bulan lalu sudah warning ibunya — gula 280, harus dijaga. Anggi memarahi ibunya. “Ma, kamu masih sering makan kue cubit ya? Kemarin Anggi liat foto Mama di IG.”

Ibunya tertawa. “Bukan kue cubit, Nggi. Itu sekali-sekali. Mama jangan disuruh diet ya.”

Anggi waktu itu menutup telepon dengan kesal. Sekarang dia menyesal.


RS Mitra Keluarga Cikampek. UGD. Pukul setengah enam pagi.

Bapaknya menunggu di kursi tunggu, masih dengan baju yang sama dari kemarin — kemeja batik coklat. Wajahnya pucat.

“Pak.”

“Nggi.”

Anggi memeluk bapaknya. Bapaknya tidak menangis, tapi badannya gemetar.

“Pak, gimana Ibu?”

“Stroke iskemik. Tersumbat di pembuluh otak kanan. Dokter bilang dia masuk di window time — tiga jam dari onset. Kalau cepat, masih bisa diatasi. Sekarang lagi infus obat penghancur gumpalan.”

Anggi menatap pintu UGD. Tertutup. Lampu hijau menyala di atasnya.

“Bisa ditemui?”

“Belum, Nggi. Tunggu dulu.”


Mereka menunggu dua jam. Wira pergi mengambil kopi dari kafetaria RS. Anggi duduk di samping bapaknya. Mereka tidak banyak bicara.

Pukul setengah delapan, dokter keluar dari UGD. Perempuan 40-an, kacamata, name tag Dr. Sari Pratiwi, Sp.S.

“Keluarga Bu Ratna?”

Anggi dan bapaknya berdiri.

“Iya, Dok. Saya anaknya.”

“Bu Ratna sudah stabil. Trombolisis berhasil. Tapi dia masih perlu observasi di ICU dulu untuk 48 jam ke depan.”

Anggi mengangguk. Dia tidak tahu apa itu trombolisis. Dia hanya tahu satu kata: stabil.

“Apa ada gejala sisa, Dok?”

“Belum bisa kami pastikan. Tangan kiri masih lemah. Bicara sudah lancar tapi pelan. Kami akan evaluasi penuh setelah keluar ICU.”

“Boleh ditemui?”

“Tunggu 30 menit. Sementara dia mau istirahat dulu.”


Setengah jam kemudian, Anggi masuk ICU. Ibunya berbaring. Selang oksigen di hidung. Selang infus di tangan kanan. Mata ibunya terbuka.

“Nggi…”

Suaranya pelan. Tapi sadar.

“Ma.”

Anggi memegang tangan kanan ibunya. Hangat.

Ibunya mencoba senyum. “Mama gak boleh makan kue cubit lagi ya, Nggi.”

Anggi tertawa. Air mata keluar bersamaan.

“Ma, mau makan apa Ma mau Anggi suka, asal Mama sehat.”

Ibunya menutup mata. “Mama capek, Nggi. Mama tidur dulu ya.”

“Iya Ma. Tidur.”


Anggi keluar dari ICU pukul sembilan pagi. Bapaknya masih duduk di kursi tunggu. Wira juga.

“Pak, Ibu sudah bicara. Bisa kenali Anggi.”

Bapaknya menutup wajahnya dengan dua tangan. Anggi duduk di sebelahnya. Dia tidak memeluk lagi. Dia hanya duduk.

Wira memberi kopi yang dia bawa dari kafetaria. Dingin sekarang. Anggi menyeruput tanpa keluhan.

Pukul sebelas siang, dia ke kantin RS. Dia membeli nasi soto. Dia makan setengah piring lalu berhenti. Dia menatap soto yang masih bersisa.

Dia berpikir tentang kue cubit. Bukan kesedihan. Hanya pikiran.

Lalu dia kembali ke kursi tunggu, di samping bapaknya, dan menunggu jam besuk ICU berikutnya.


— Cikampek, 18 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Drama →