KRL Pertama Pulang Kampung
3 Juni 2026 · 780 kata
Saya pulang kampung sendirian tahun ini. Dua tahun terakhir saya pulang bersama Mira, kawan kos saya yang juga dari Solo. Tahun ini Mira tidak pulang — dia ngambil shift Lebaran di restoran tempat dia kerja, dapat dua kali gaji. Saya hormati keputusannya. Tapi pulang kampung sendirian terasa berbeda.
Tiket kereta jam empat pagi dari Pasar Senen. Saya pesan dua bulan sebelumnya. Tahun depan saya akan pesan lebih lama lagi.
Tas hijau yang saya bawa berisi: tiga baju, dua celana, satu jaket, sepasang sepatu cadangan, dompet, charger HP, dan empat amplop dengan uang Lebaran untuk dua keponakan, satu sepupu kecil, dan satu pakdhe yang tinggal sendiri.
Pukul dua dini hari, saya bangun. Ngecek alarm tiga kali. Sikat gigi pelan-pelan supaya tidak bangunkan tetangga kos. Kosong di dapur bersama. Pukul dua tiga puluh saya keluar kamar dengan tas di pundak.
Di depan kos, gang sempit di Tebet, tidak ada satu pun yang bangun. Lampu di tiang listrik menyala redup. Suara satu-dua motor di kejauhan. Saya menutup pintu kos pelan-pelan. Saya tidak buka WhatsApp untuk pamit ke Mira; dia tidur dengan HP di-silent.
Saya pesan Gojek. Driver datang dalam tujuh menit. Pak Suwarno, 50-an, suara seperti yang baru bangun. Saya naik. Dia tidak banyak omong, saya juga tidak.
Di tengah jalan menuju Pasar Senen, kami melewati Pasar Tebet yang sudah mulai ramai. Pedagang sayur sedang nurunin keranjang dari pikulan. Tukang kopi sudah buka. Lampu neon hijau dan kuning di warung-warung yang baru buka.
Pak Suwarno akhirnya bicara. “Pulang kampung, Mbak?”
“Iya, Pak.”
“Sendirian?”
“Iya, sendirian.”
Dia diam beberapa detik. Lalu, “Hati-hati di kereta. Bawa makanan ringan. KRL ke Solo lama, makan susah.”
Saya bilang terima kasih. Kami sampai Pasar Senen pukul tiga lewat lima belas. Saya bayar via aplikasi, bonus seribu lebih dari biasanya. Pak Suwarno tersenyum tipis, mengucapkan “selamat sampai tujuan”, lalu menjalankan motornya.
Pasar Senen jam tiga subuh ramai dengan jenis orang yang sama dengan saya: yang naik kereta ekonomi pagi pulang kampung, sendirian atau dengan keluarga kecil. Yang membawa kardus, koper, tas hijau seperti saya, atau bungkusan plastik berisi oleh-oleh.
Saya duduk di kursi tunggu yang dingin. Di samping saya, ibu dengan dua anak kecil, yang kakak laki-laki kira-kira tujuh tahun, yang adik perempuan empat tahun. Anak kecil tertidur di pangkuan ibunya. Ibu itu memandangi papan pengumuman dengan mata yang sudah lelah.
Anak laki-laki yang tujuh tahun melihat ke arah saya, lalu ke tas hijau saya. Dia berkata, “Tas Tante mirip tas Mama.”
Saya tersenyum. “Iya. Mama beli di mana?”
“Pasar Tanah Abang.”
“Punya saya di pasar yang sama. Mungkin dari toko yang sama.”
Anak itu mengangguk, lalu kembali memandang ibunya. Ibunya melihat saya sebentar, mengangguk sopan, lalu kembali memandang papan pengumuman.
Pukul tiga lewat lima puluh, kereta saya diumumkan boarding. Saya pamit pada anak yang tujuh tahun. Dia melambaikan tangan.
Di kereta, saya duduk di kursi 4A, dekat jendela. Kursi 4B kosong sampai stasiun berikutnya. Saya menatap ke luar jendela yang masih gelap, lampu Pasar Senen yang masih menyala, dan ibu dengan dua anak yang naik di kursi 5A — beberapa baris di depan saya.
Pukul empat tepat, kereta jalan. Saya menutup mata, tidak untuk tidur, hanya untuk menutup mata.
Di kepala saya, ibu di Solo sedang menyiapkan opor ayam, masakan yang sama setiap Lebaran sejak saya kecil. Adik saya yang tinggal dengan ibu pasti masih tidur. Bapak — yang sudah meninggal tiga tahun lalu — ada di foto di ruang keluarga, dengan kerangka kacamata yang sama yang dia pakai sejak saya remaja.
Saya tidak menangis. Saya hanya menutup mata.
Kereta melewati Bekasi, lalu Cikarang, lalu Karawang. Saya membuka mata pelan-pelan saat matahari mulai muncul di Cirebon.
Dunia di luar jendela berubah dari kota ke sawah, dari sawah ke kampung kecil, dari kampung kecil ke sawah lagi.
Saya pulang. Pelan-pelan, tapi pulang.