← Kembali

Drama · Menteng · 5 menit

Pegawai Bank Pensiun

Pak Hardjono pensiun resmi dari Bank di Menteng pada hari Jumat sore. Acara perpisahan: makan-makan kecil di kantin kantor, kue ulang tahun pernikahan ke-25 dia dan istri (yang kebetulan bersamaan dengan tanggal pensiun, sehingga kantin double cake), sambutan singkat oleh Direksi, foto bersama. Pak Hardjono dapat satu set jam Casio dari kantor, satu plakat marble, dan satu amplop berisi uang pesangon yang nilai-nya rahasia tapi memenuhi standar industri.

Senin pagi, Pak Hardjono bangun pukul lima — kebiasaan 38 tahun. Mandi, sarapan, kopi tubruk. Pukul setengah enam dia mendongok ke arah lemari kemeja kantor yang berjajar rapi di rak. Dia memilih kemeja batik hijau yang biasanya dia pakai hari Senin. Memakai dasi merah hati yang biasa dipakai hari Senin. Memasukkan barang ke tas selempang yang sudah dia bawa selama 12 tahun.

Pukul tujuh kurang, dia keluar rumah. Bu Hardjono melihat dia, “Pa, ke mana?”

“Ke kantor.”

“Pa, kamu pensiun Jumat lalu.”

Pak Hardjono diam tiga detik. “Aku tahu. Aku mau ke kantor sebentar untuk pamit ke kasir, minta cap kartu identitas lama biar bisa pakai akses parkir.”

Bu Hardjono mengangguk, tahu suaminya butuh ini.


Pak Hardjono naik mobil ke kantor di Menteng. Parkir di bay yang dia parkir selama 12 tahun terakhir — di lot 23-A, yang dia bayar Rp 600.000 sebulan untuk reservasi tetap. Dia turun. Mengenakan name tag bank yang sudah dia lepas Jumat lalu — tapi dia putuskan untuk pakai pagi ini.

Di lobby gedung, security: “Selamat pagi, Pak Hardjono.”

“Pagi, Mas Yanto.”

“Pak, hari ini mau ke lantai berapa?”

“Lantai 14, biasa.”

Pak Yanto, security, ragu sebentar. “Pak, sistem akses Pak udah dicabut Jumat sore. Saya gak bisa masukan.”

Pak Hardjono menatap Pak Yanto beberapa detik. Pak Yanto tahu pakai Hardjono sejak 8 tahun. Sopan, profesional, tapi sistem adalah sistem.

“Saya cuma mau minta cap kartu identitas dari kasir, Mas. Sekali aja. Setelah itu aku pulang.”

“Pak, saya benar-benar gak bisa. Manajemen ngomong tegas, mantan pegawai gak boleh akses lantai operasional kecuali ada appointment. Pak harus janjian dulu di-email manager Pak.”

“Manager saya pensiun sebulan lalu, Mas.”

“Berarti manager pengganti, Pak.”

“Saya gak tahu siapa manager pengganti saya.”

Pak Yanto diam. Pak Hardjono diam.


Lima detik kemudian, Pak Yanto berkata pelan, “Pak, kalau Pak mau, saya bisa antar ke konter customer service di lantai 1. Bukan area pegawai. Pak bisa minta apa-apa di situ.”

Pak Hardjono menatap konter customer service. Konter biasa dengan dua perempuan muda berseragam, melayani nasabah. Konter yang Pak Hardjono lewati tanpa ngomong setiap hari selama 12 tahun terakhir.

“Saya nasabah, Mas? Saya bukan nasabah. Saya pegawai.”

“Pak, Pak sekarang nasabah. Pak punya rekening di bank ini, kan?”

Pak Hardjono diam. Iya. Dia nasabah sejak tahun 1987.

Dia mengangguk pelan. “OK, Mas. Saya ke customer service.”


Pak Hardjono jalan ke counter customer service. Dia ditunggu oleh perempuan muda yang terlihat sibuk. Saat dia sampai, perempuan itu menatapnya: “Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya… saya pegawai pensiun bank ini. Saya mau minta cap kartu identitas.”

“Cap apa, Bapak?”

“Cap stempel, untuk akses parkir.”

“Bapak akses parkir di sini?”

“Saya bayar reservasi parkir lot 23-A setiap bulan, sudah 12 tahun.”

“OK, Bapak. Reservasi sudah include akses tanpa cap. Bapak bisa pakai aplikasi parkir.”

Pak Hardjono tidak pakai aplikasi parkir. Dia pakai kartu identitas dengan cap. Bertahun-tahun.

“Mbak, aplikasi yang mana?”

“Aplikasi MyParking. Bapak download, register dengan plat nomor, otomatis terhubung dengan reservasi Bapak.”

Pak Hardjono menatap perempuan itu. Beberapa detik diam. Lalu, “Mbak, saya pensiun Jumat. 38 tahun di bank. Saya minta cap stempel, kalian kasih saya aplikasi.”

Perempuan itu tampak agak panik. Dia tidak tahu cara menjawab kalimat itu. Dia hanya bilang, “Pak, kalau mau saya bantu install aplikasi?”

Pak Hardjono menggeleng pelan. “Tidak. Tidak perlu. Terima kasih, Mbak.”

Dia pergi.


Pak Hardjono kembali ke mobilnya di lot 23-A. Duduk di kursi sopir tanpa menjalankan mesin. Dia menatap gedung bank tempat dia kerja 38 tahun. Lantai 14 dengan jendela kaca yang dia hafal pemandangannya — Monas di kejauhan, Tugu Tani lebih dekat, pohon-pohon Menteng di sekitar.

Dia tidak tahu apa yang dia harapkan pagi ini. Mungkin tidak ada yang spesifik. Mungkin dia hanya tidak siap untuk Senin pertama tanpa kantor.

Dia menelepon Bu Hardjono. “Ma, aku pulang. Pagi ini mau di rumah aja.”

“OK Pa. Aku siapin sarapan kedua.”

Pak Hardjono menyalakan mesin. Keluar dari parkir lot 23-A. Mobil masuk ke arus Menteng pagi. Dia masuk ke arah rumah.

Di kaca spion, dia bisa lihat gedung bank menjauh. Setiap minggu, dia akan lihat lebih sedikit gedung itu. Setiap bulan, lebih sedikit lagi. Sampai suatu hari, gedung itu hanya akan jadi salah satu gedung di antara banyak gedung Menteng yang dia lewati saat antar cucu sekolah.

Itu yang pensiun maksudkan: bukan kehilangan pekerjaan. Kehilangan tempat yang dulu dia disetel untuk ada di sana setiap hari kerja, lalu pelan-pelan tempat itu menyetel dirinya untuk tidak ada lagi.

Pak Hardjono sampai di rumah pukul setengah delapan. Bu Hardjono sudah menyiapkan kopi kedua. Mereka sarapan kedua bersama. Pak Hardjono mengganti kemeja batik dan dasi merah hati dengan kaos polo biru kasual. Lalu duduk di teras membaca koran. Dia tidak buka HP.

Senin pertama tanpa kantor. Pelan-pelan, dia akan biasakan diri.


— Menteng, 23 Mei 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Drama →