← Kembali

Slice of Life · Cikupa · 3 menit

Lulus SNBT, Tidak Bisa Kuliah

Notifikasi itu masuk pukul 08.14, tapi Dani baru membukanya pukul 09.00 — waktu istirahat sepuluh menit, di samping mesin press nomor tujuh, lantai dua gedung B.

Selamat! Anda dinyatakan lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.

Dani membaca dua kali. Lalu sekali lagi.

Program studi: Teknik Industri, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang.

Dia tidak tahu harus bilang apa ke siapa. Di sekitarnya, tiga rekan shift sudah kembali ke posisi masing-masing. Bel tanda akhir istirahat berbunyi satu menit kemudian.


Pabrik tempat Dani bekerja membuat komponen bracket untuk industri otomotif. Lokasinya di kawasan industri Cikupa — dekat Jalan Raya Serang, masuk ke dalam sekitar dua kilometer, di antara deretan gudang dan pagar seng. Dani mulai kerja di sini delapan bulan lalu, dua minggu setelah lulus SMK Negeri 4 Tigaraksa.

Gaji sebulan: 2,4 juta. Setara UMK Kabupaten Tangerang.

Uang pangkal Teknik Industri Untirta: 7,5 juta. UKT semester satu: 2,1 juta. Total yang harus disiapkan sebelum masuk: hampir 10 juta.

Dia sudah menghitung ini dua hari sebelum pengumuman, sebelum yakin dirinya lulus. Angkanya tidak berubah.


Malam itu Dani cerita ke ibunya di kontrakan Gang Mawar, belakang pasar Cikupa. Ruang tamu dan dapur menyatu. Kipas angin meja menyala.

“Lulus,” kata Dani. Singkat.

Ibunya, Bu Nanik, mengelap tangan di kain lap. “Lulus apa?”

“SNBT. Masuk Untirta.”

Bu Nanik diam beberapa detik. Lalu: “Selamat ya.”

“Tapi uang pangkalnya tujuh setengah.”

Diam lagi. Bu Nanik duduk. “Bapakmu bulan ini belum kirim.”

Bapak Dani kerja di proyek konstruksi Bekasi, pulang tidak tentu.

“Iya, Buk.”

“Ada beasiswa?”

“KIP harusnya bisa, tapi kemarin saya baca, pendaftarannya sebelum SNBT. Saya waktu itu tidak daftar.”

Bu Nanik mengangguk pelan. Dani tahu ibunya tidak tahu apa itu KIP. Tapi ibunya mengangguk dengan cara yang artinya: Iya, nak. Ibu ngerti.


Tiga hari kemudian, Dani masuk shift pagi seperti biasa. Mesin press nomor tujuh. Sabuk pengaman. Sarung tangan. Kacamata pelindung.

Temannya, Rohmat — 21 tahun, sudah dua tahun di pabrik — tanya waktu istirahat: “Jadi kuliah?”

“Belum tahu.”

“Ditunda?”

“Mungkin.”

Rohmat mengangguk sambil minum teh kotak. “Gue dulu juga nyoba. Tidak jadi.”

Dani tidak tanya kenapa. Rohmat tidak cerita. Mereka duduk berdampingan di bangku panjang besi dekat pintu darurat, melihat keluar ke halaman parkir motor yang penuh.

Bel istirahat selesai.

Dani berdiri. Rohmat berdiri.

Di ponsel Dani, tab browser masih terbuka: laman resmi penerimaan Untirta, kolom batas waktu konfirmasi. Tiga hari lagi.

Dia mengunci layar. Memasukkan ponsel ke saku celana. Berjalan kembali ke mesin press nomor tujuh.


— Cikupa, 3 Agustus 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →