Paket Nyasar ke Tetangga
4 Agustus 2026 · 416 kata
Paket itu datang hari Rabu siang. Aldi tahu karena aplikasinya notifikasi: Paket telah diterima. Bukti: foto tanda tangan.
Dia buka fotonya. Tanda tangan itu bukan miliknya.
Nama penerimanya tertulis: Yanti/tetangga. Alamatnya benar — Cluster Mahoni, Gang Flamboyan 7, Serpong. Tapi yang buka pintu bukan dia, karena dia sedang di kantor Bintaro dan istrinya sedang di Tangerang kota jemput anak.
Malam itu Aldi ke rumah Bu Yanti. Rumahnya persis di seberang gang, nomor 6. Lampunya menyala. Suara TV terdengar.
Dia ketuk pintu. Bu Yanti membuka, sedikit.
“Bu Yanti, tadi siang ada kurir ke sini? Paket saya kayaknya salah kirim ke sini.”
Bu Yanti mengernyit. “Paket apa? Saya tidak terima paket.”
Aldi menunjukkan layar HP-nya — foto tanda tangan, nama Yanti/tetangga. “Ini bukan tanda tangan ibu?”
Bu Yanti menatap layarnya dua detik. “Itu tulisan siapa? Bukan saya.”
Aldi menghela napas pelan. “Bu, isi paketnya blender. Kotak cokelat, ada gambar pisau di sisinya.”
“Oh, itu.” Bu Yanti mengangkat alis. “Itu tadi memang diantarkan ke sini. Tapi saya kira barang saya dari kakak saya di Bandung.”
“Jadi… ada di dalam?”
“Sudah saya buka.”
Hening.
“Boleh saya ambil, Bu?”
Bu Yanti menghilang ke dalam rumah. Aldi berdiri di depan pintu. Dari dalam terdengar suara laci dibuka, kertas diremas. Lima menit. Enam menit.
Bu Yanti keluar lagi — tanpa paket.
“Begini, Pak Aldi. Saya sudah capek-capek buka, plastiknya sudah saya buang. Kalau mau klaim ke kurir, saya tidak bisa bantu. Itu salahnya pengirim, bukan saya.”
“Saya mau minta barangnya dulu, Bu. Blendernya.”
“Nah, blendernya sudah saya cuci.”
Aldi menatap Bu Yanti. Bu Yanti menatap Aldi. Di balik punggung Bu Yanti, TV menyiarkan kuis malam — seseorang baru saja memenangkan kulkas dua pintu.
“Ibu sudah nyuci blendernya?”
“Biar bersih. Kan baru.”
Aldi memutuskan untuk tidak berdebat soal logika itu.
Aldi berdiri diam sebentar. Dia tidak tahu harus bilang apa ke orang yang mencuci blender yang bukan miliknya dengan keyakinan penuh itu miliknya.
Dia pulang. Dia buka aplikasi marketplace. Dia klik Laporkan Masalah. Dia isi formulir: bukti foto, nomor resi, keterangan penerima salah. Prosesnya tiga hari kerja. Mungkin lebih.
Seminggu kemudian, refund-nya cair. 780 ribu — dipotong biaya ongkir yang tidak bisa dikembalikan.
Aldi beli blender lagi. Kali ini dia tulis catatan di kolom catatan pengiriman: Jangan dititipkan ke tetangga. Jangan dititipkan ke siapapun. Telepon dulu.
Paket kedua datang hari Jumat. Kurir menelepon. Aldi turun sendiri, tanda tangan sendiri, bawa masuk sendiri.
Di seberang gang, pintu nomor 6 setengah terbuka. Bu Yanti berdiri di teras, memandang.
Aldi tidak melambaikan tangan.
Bu Yanti juga tidak.