Kursi Plastik di Lapangan Karawaci
16 Agustus 2026 · 512 kata
Kursi plastik itu merah. Kakinya sedikit tidak rata — kalau Pak Suherman bergeser ke kiri, kursi itu sedikit goyang. Dia tidak bergeser.
Lapangan RT 07 Karawaci — sebetulnya bukan lapangan, hanya tanah kosong bekas ruko yang tidak jadi dibangun — penuh orang pagi itu. Spanduk merah putih plastik diikatkan ke tiang bambu. Di sudut kanan, speaker Bluetooth besar memainkan lagu-lagu patriotik dari playlist YouTube yang judulnya Lagu Kemerdekaan Indonesia 2026 FULL.
Pak Suherman tiba pukul tujuh kurang dua puluh. Dia ambil kursi plastik sendiri dari tumpukan di depan pos ronda. Dia pilih yang merah.
Dia duduk di barisan paling pinggir, di bawah pohon mangga yang daunnya sudah jarang. Dia tidak membawa kipas. Dia tidak bawa air minum. Dia hanya duduk.
Tahun 1979, Pak Suherman berdiri di lapangan Kopassus Cijantung selama empat jam. Upacara pelantikan. Matahari tidak ada yang menghalangi. Dia tidak bergerak. Kakinya mati rasa pukul dua tapi dia tidak roboh. Tiga orang di barisannya roboh. Satu orang pingsan sebelum upacara selesai.
Dia tidak pernah cerita ini ke siapa-siapa. Bukan karena malu. Bukan juga karena bangga. Hanya karena tidak ada yang tanya dengan cara yang benar.
Anak-anak masuk karung sekarang. Delapan anak, usia mungkin delapan sampai sebelas tahun. Panitia — seorang ibu-ibu berkaos merah bertuliskan PANITIA HUT RI RT 07 — meniup peluit.
Anak pertama langsung jatuh. Tawaan meledak. Anak kedua melompat terlalu besar, tersandung sendiri, jatuh ke kanan hampir menimpa anak ketiga.
Pak Suherman tidak tertawa. Tapi bibirnya bergerak sedikit.
Satu anak — anak laki-laki, berkaus kuning, rambutnya acak-acakan — tidak jatuh. Dia melompat kecil-kecil, ritme stabil, mata ke depan. Dia menang dengan selisih dua badan.
Pak Suherman memperhatikan cara anak itu berdiri setelah menang. Tidak loncat-loncat. Tidak teriak. Dia hanya berdiri dan menunggu dipanggil panitia.
Anak itu tahu caranya menang tanpa ribut, pikir Pak Suherman.
Setelah balap karung, ada lomba makan kerupuk. Kerupuk digantung di tali rafia. Pak Suherman tidak terlalu memperhatikan. Dia mulai mengantuk.
Cucunya — Raka, 9 tahun — berlari ke arahnya setelah kalah di lomba kelereng.
“Kakek, ikut lomba dong.”
“Lomba apa?”
“Lempar bola ke ember.”
“Kakek udah tua.”
“Ya kan bisa duduk.”
Pak Suherman menatap cucunya sebentar. “Nanti ya. Kakek duduk dulu.”
Raka sudah berlari lagi sebelum kalimat itu selesai.
Pukul sepuluh pagi, matahari sudah masuk ke bawah pohon mangga. Pak Suherman berdiri. Tulang lututnya bunyi dua kali. Dia angkat kursi plastiknya, dia kembalikan ke tumpukan di pos ronda.
Dia berjalan pulang. Rumahnya tiga gang dari lapangan, di Jalan Anggrek Raya, gang masuk ketiga. Dia beli es teh di warung Ibu Lastri di pojokan — dua ribu rupiah, sudah naik dari seribu lima ratus sejak lebaran.
Dia minum es teh berdiri di depan warung. Habis. Dia pulang.