Bulan Pertama di Tebet
23 Mei 2026 · 800 kata
Hari kesepuluh kos di Tebet, Rara menyadari pintu kamarnya tidak bisa dikunci dari dalam dengan sempurna. Pegangan kunci akan terkunci, tapi lubang tempat lidah kuncinya masuk ke kusen sudah sedikit longgar — kalau didorong sedikit dari luar, pintu akan bergetar, dan kalau didorong agak keras, lidah kuncinya bisa lepas dari kusennya.
Dia menemukan ini karena suatu malam, sekitar pukul dua belas, dia mendengar bunyi pintu yang seperti diketuk pelan. Bukan ketokan tangan — getaran. Seperti seseorang mengetes apakah pintunya bisa dibuka tanpa kunci.
Dia tidak bangun. Dia berbaring miring, memegang HP, jari di atas tombol panggilan darurat. Bunyi itu berhenti setelah dua menit. Dia tidak tidur lagi sampai pukul lima pagi.
Rara baru pindah ke Jakarta dari Solo tiga minggu lalu. Kerjaan pertama, gaji UMR plus tunjangan transport, kantor di Tebet. Kos yang dia ambil seharga dua koma lima juta sebulan, kamar ukuran tiga kali tiga, kamar mandi dalam yang lantainya selalu lembab, dan WiFi yang lemot setelah jam delapan malam.
Pemiliknya — Bu Yati, sekitar enam puluhan, tinggal sendiri di lantai bawah — mengenalkan dirinya sebagai janda dosen yang ngekos-kan rumahnya supaya tidak sepi. “Kalian semua udah kayak anak saya sendiri,” katanya pada hari Rara pindah masuk. Rara mengangguk sopan dan langsung tahu bahwa kalimat seperti itu di Jakarta tidak selalu berarti apa yang dimaksudkan.
Pagi setelah malam ketokan, Rara turun ke dapur bersama. Empat anak kos lainnya sudah di sana. Dua perempuan — Mbak Dini dan Mbak Astri — yang sudah ngekos enam bulan, dan dua laki-laki, Mas Iwan dan Mas Reza. Mas Iwan sudah delapan bulan. Mas Reza baru dua bulan, lebih dekat dengan Rara dalam timeline.
Rara duduk di kursi yang biasanya kosong. Dia menyeduh kopi instan. Lalu pelan-pelan dia bilang, tanpa melihat siapa-siapa, “Tadi malam ada yang ngetes pintu kamar saya.”
Hening.
Mbak Dini meletakkan sendok. “Ngetes gimana, dek?”
“Pintu saya bergetar. Bunyinya bukan ketokan. Kayak ada yang nyoba dorong.”
Mas Iwan dan Mas Reza saling pandang. Mbak Astri menggigit bibirnya. Dia menatap Rara, lalu menatap meja, lalu menatap Rara lagi.
“Dek,” kata Mbak Astri, “kamarmu yang nomor dua dari ujung kan?”
“Iya.”
“Itu kamar yang lama gak diisi. Sebelum kamu, kosong tiga bulan.”
“Kenapa?”
Mbak Astri tidak menjawab. Mbak Dini menjawab. “Penghuni terakhir, ceweknya, pindah pas tengah malam. Bawa barang, nggak pamit. Dia gak komunikasi sama kita siapapun.”
“Dia gak ada komplain ke Bu Yati?”
“Komplain banyak,” kata Mas Iwan. “Soal kunci. Soal pintu. Soal apa yang dia denger malem-malem.”
Rara menyimpan informasi itu sambil minum kopinya pelan-pelan. Dia tidak mau menunjukkan ekspresi. Di Solo, ibunya selalu mengingatkan: kalau lagi merasa terancam di tempat baru, jangan kelihatan panik dulu. Panik bikin orang yang nyerang lebih percaya diri.
Sore itu Rara pulang kerja lebih cepat. Dia ke Indomaret di samping kos, beli dua karton susu UHT — karton susu UHT lebih berat daripada yang orang kira, dan kalau ditumpuk dua, bisa menahan pintu dari dalam dengan baik. Dia juga beli dua kunci gembok kecil dan satu rantai pendek. Dia tidak tahu bagaimana cara memasangnya, tapi YouTube akan mengajarinya.
Malam itu, dia memasang gembok di handle pintu — gembok kecil yang melilitkan tangkai pintu ke kusen, sehingga pintu tidak bisa terbuka dari luar bahkan kalau kuncinya lepas. Dia juga menumpuk dua karton susu UHT di belakang pintu, posisinya pas kalau ada yang dorong dari luar, pintu akan terhalang.
Lalu dia mengirim pesan ke ibunya: “Bu, di Jakarta semuanya baik-baik aja. Aku mungkin pulang lebih cepet kalau ada cuti panjang.”
Tiga minggu kemudian Rara pindah kos. Tempat baru di Mampang, kamarnya lebih kecil tapi pintunya bisa dikunci dengan kunci yang benar-benar mengunci. Bu Yati hanya bilang “Sayang sekali ya, dek” ketika Rara minta uang depositnya kembali. Bu Yati membayar sebagian saja — “Yang lain saya pakai buat ganti kunci ya, dek. Kamu juga pengertian.” Rara mengangguk dan tidak melawan. Dia tahu sebagian yang hilang itu bukan deposit. Itu pajak Jakarta untuk perempuan muda yang baru pertama kali tinggal sendiri.
Di kos baru, malam pertama, dia tidur dari jam sepuluh sampai jam enam pagi tanpa terbangun. Tidur yang pertama dalam empat minggu.
Hari pertama dia masuk kantor lagi dari kos baru, kakinya pegal karena lebih jauh dari sebelumnya, dompetnya lebih tipis karena ongkos lebih mahal, tapi dia merasa, untuk pertama kali sejak pindah ke Jakarta, dia kembali jadi orang yang utuh.
— Tebet, 23 Mei 2026