Anggota DPR Lewat Gang
27 Mei 2026 · 720 kata
Pak Hambali datang ke gang kami pukul sembilan pagi. Bukan dia sendiri — bersama satu rombongan: dua mobil hitam Pajero, satu mobil putih untuk tim, satu mini-van wartawan, dan setidaknya delapan orang dengan kemeja seragam kuning bertanda partai-nya.
Gang Lurah Bahar di Tanjung Priok, tempat saya tinggal sejak lahir, biasanya tidak menerima kunjungan seperti ini. Anggota DPR yang kami pilih lima tahun lalu — itu yang terakhir saya tahu kabarnya, sampai pagi ini.
Pak Hambali turun dari Pajero pertama. Berusia 50-an, perut sedikit buncit yang ditutup dengan baju koko hitam yang tampaknya baru. Senyum lebar yang dia praktekkan di depan kamera. Tangan kanan menggenggam ulang gambar mikrofon yang belum lagi dipakai.
Acaranya: bagi-bagi sembako. Beras 2 kilo, gula 1 kilo, minyak goreng 1 liter, mi instan 5 bungkus. Dua ratus paket. Untuk dibagi-bagi ke “warga kurang mampu” — kata staffer Pak Hambali yang berdiri di mikrofon.
Ibu-ibu di gang sudah dikumpulkan sejak pukul tujuh pagi. Tim Pak Hambali datang sejak pukul enam untuk setting. Tenda biru dengan banner partai. Kursi plastik untuk ibu-ibu. Microphone untuk pidato.
Saya, di rumah saya yang menghadap gang, melihat semuanya dari jendela. Saya tidak ngantri sembako — bukan karena saya tidak butuh (saya juga butuh, sebenarnya), tapi karena saya tidak mau jadi backdrop foto.
Pak Hambali memberi pidato 5 menit. Isinya: dia “mendengar suara rakyat”, “memprioritaskan rakyat kecil”, “ini bukan kampanye, ini panggilan hati”. Pidato dia hampal — saya bisa lihat dia mengulang frase yang sama yang dia ucapkan di video YouTube partai tahun lalu.
Setelah pidato, pembagian dimulai. Foto-foto. Pak Hambali menyerahkan paket ke ibu-ibu pertama. Wartawan motret. Selfie individual dengan ibu-ibu yang dipilih.
Salah satu staffer-nya — perempuan 20-an, jelas baru lulus kuliah komunikasi politik — mengarahkan anak-anak yang dipanggil untuk berdiri di belakang Pak Hambali saat dia menyerahkan paket. “Adek, ke sini ya. Senyum yang lebar. Aaa~~”
Anak-anak gang Lurah Bahar — yang umumnya tidak senyum lebar ke orang asing — diintsruksikan tertawa. Mereka tertawa palsu untuk foto, lalu kembali ke ibu mereka untuk menerima paket.
Saya melihat semuanya. Saya merasa malu — bukan untuk anak-anak (mereka tidak tahu lebih baik), bukan untuk ibu-ibu (mereka butuh sembako, itu adalah pertukaran wajar), tapi untuk Pak Hambali. Yang dia mengira dia membantu tapi sebenarnya dia membayar kami untuk jadi backdrop politiknya.
Tidak. Bukan “kami”. Saya, di balik jendela, tidak menjual diri.
Yang menjual diri adalah anak-anak yang dipanggil ke depan. Yang menjual diri adalah ibu-ibu yang harus duduk diam selama dua jam tanpa minum kopi pagi.
Pak Hambali yang membeli. Tarifnya dua ratus paket sembako. Itu adalah harga jual gang kami pagi itu.
Pukul setengah dua belas, rombongan Pak Hambali pamit. Dia berpidato lagi — kali ini lebih pendek — mengucapkan terima kasih. Dia masuk ke Pajero. Mobil-mobil pergi. Wartawan ikut pergi. Tenda biru dibongkar oleh staffer-nya. Tinggal sampah plastik di tanah, kantong plastik bekas paket sembako, dan stand mikrofon yang ditinggal di pojokan.
Bu Nani, tetangga saya sejak 30 tahun, datang ke pintu saya. “Mas, gak ngantri tadi?”
“Tidak, Bu.”
“Saya dapat dua paket. Yang kedua buat kamu. Beras sudah habis di rumahmu sejak Minggu, kan?”
Saya menerima paket itu dengan dua tangan. Bu Nani menatap saya, lalu, “Saya juga tidak suka pertunjukan tadi. Tapi beras tetap beras, mas.”
Dia kembali ke rumahnya.
Sore itu, saya memasak nasi pakai beras dari paket Pak Hambali. Berasnya OK — sama seperti beras yang saya beli sendiri di warung Bang Asep. Tidak istimewa, tidak buruk.
Saya menyendok nasi ke piring, makan dengan tempe goreng dan kecap. Saya tidak merasa Pak Hambali sebenarnya memberi saya makan. Saya merasa Bu Nani memberi saya makan. Pak Hambali hanya kebetulan jadi alat distribusi yang efisien sehari itu.
Tahun depan, Pak Hambali akan kampanye lagi. Dia akan datang lagi ke gang Lurah Bahar dengan kemeja koko baru, dengan senyum yang sama, dengan staffer yang akan memanggil anak-anak ke depan untuk berfoto.
Saya akan tetap menonton dari jendela. Bu Nani akan tetap dapat dua paket dan memberi yang kedua ke saya. Beras akan tetap beras.
Begitu siklus politik Indonesia bekerja: pertunjukan di permukaan, ekonomi pertukaran kecil di bawahnya. Yang menang biasanya yang punya stok sembako terbanyak.
Saya yang menonton dari jendela, ya, saya tahu saya juga ikut menerima manfaat sistemik dari pertunjukan ini. Lewat Bu Nani. Saya tidak suci. Saya hanya tidak mau di depan kamera.
Tahun depan, saya mungkin tidak ada di gang Lurah Bahar lagi. Tapi gang ini akan tetap ada. Bu Nani akan tetap ada. Anak-anak yang dipaksa tertawa akan tumbuh dewasa, dan satu-dua dari mereka akan jadi staffer politik yang memanggil anak-anak generasi berikutnya untuk berfoto.
Begitulah lingkaran ini. Yang menang adalah waktu, yang netral.