← Kembali

Satire · SCBD · 3 menit

Bos Bilang Kita Keluarga

Senin pagi, ruang all-hands kantor agensi kreatif di SCBD — lantai 28, view ke Monas yang terhalang gedung lain. Pak Devan, 41 tahun, CEO, founder, partner dari salah satu KOL paling viral di Indonesia.

Dia berdiri di depan layar projector. Slide pertama: “State of the Company — Q2 2026.”

Empat puluh dua karyawan duduk di kursi-kursi yang disusun teater. Tim creative, tim account, tim production, tim operations.


“Halo semua. Selamat pagi.”

“Pagi, Pak Devan.”

Pak Devan tersenyum lebar. Dia memang punya senyum yang bagus — itu yang sering dia tunjukkan di video YouTube agensinya tentang “culture kita.”

“Saya tahu beberapa minggu terakhir banyak rumor. Saya mau ngomong langsung. Saya selalu transparan ke kalian.”

Slide ke-2: foto seluruh tim, diambil di team building tahun lalu di Anyer.

“Yang penting buat saya — kalian harus ingat ini — kita di sini bukan cuma kantor. Kita keluarga. Saya mempertahankan tradisi itu sejak hari pertama saya buka agensi ini di apartemen saya tahun 2018.”

Beberapa karyawan mengangguk. Beberapa, yang sudah lebih lama di sana, tidak.


Pak Devan lanjut: “Tahun ini berat. Klien kita kehilangan dua kontrak besar — saya tidak akan sebut namanya. Revenue Q2 turun 18%. Kita harus restrukturisasi.”

Slide ke-3: bar chart turun.

“Restrukturisasi ini tidak terhindarkan. Tapi saya janji — saya pribadi janji — kita akan tetap jadi keluarga. Yang tetap di sini, kalian aman. Yang harus pergi, kita akan support sepenuhnya.”

Tangan-tangan terangkat. Pak Devan menunjuk satu — Yola, account manager, 28 tahun.

“Pak, layoff berapa orang?”

“Twelve. Dua belas.”

Suara ruangan jadi pelan.

“Tapi please ingat — ini keputusan business, bukan personal. Saya cinta kalian semua. Saya minta kalian bantu saya melewati ini bersama.”


Hari Rabu, dua hari kemudian. Tim HR mengirim email ke 12 orang yang di-layoff. Email datang pukul 11 pagi, semua sekaligus — sudah disiapkan template-nya.

Yang di-layoff: tiga senior copywriter, dua art director, dua project manager, tiga account, dua tim produksi.

Yang menarik: semua yang di-layoff punya gaji lebih dari Rp 18 juta sebulan. Yang tidak di-layoff: junior dan mid-level dengan gaji di bawah itu.

Pak Devan, di Slack, ngomong: “Tim, ini hari yang berat. Yang harus pergi, please tahu kalian akan selalu di hati saya. Yang stay, mari kita bangun lagi bersama.”

Emoji love dari Pak Devan sendiri: 47.


Wuri, salah satu yang di-layoff — senior copywriter, 32 tahun, sudah empat tahun di agensi — menerima email pukul 11 lewat tiga menit. Dia masih duduk di mejanya. Dia membaca email. Tiga kali.

“Sehubungan dengan restrukturisasi internal, kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kerja Anda efektif tanggal 1 Agustus 2026…”

Wuri menutup laptop. Dia tidak menangis. Dia jalan ke pantry. Dia membuat kopi sachet Indocafe.

Di pantry, dia bertemu Yudha — project manager, 35 tahun, juga di-layoff. Mereka berdiri di counter pantry.

“Lo juga?”

“Iya.”

“Anjir.”

“Iya.”


Hari Kamis, WA grup “Keluarga Besar [Nama Agensi]” — yang Pak Devan buat tahun 2020 — diam-diam dimatikan oleh admin. Group tetap ada, tapi tidak ada yang chat lagi. Pak Devan sendiri keluar dari group sehari sebelumnya, alasan: “Mau buat group baru yang lebih fokus.”

Group baru namanya: “Inner Circle [Nama Agensi].” Yang masuk: 18 orang — semua orang yang tidak di-layoff dan punya posisi di atas mid-level.

Yang di-layoff tidak diundang.


Hari Senin minggu berikutnya, kantor agensi tetap jalan. Pak Devan tetap senyum lebar di all-hands. Dia bilang, “Tim, kita sudah lewat masa berat. Saya bangga sama kalian. Kita keluarga.”

Karyawan yang stay mengangguk. Tidak ada yang menatap satu sama lain. Mereka butuh gaji.


— SCBD, 19 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Satire →