← Kembali

Drama · Mampang · 5 menit

Pukul Tiga Pagi, Air Sudah Sampai Lutut

Pukul tiga pagi, Ibu Surti dibangunkan oleh suara serak dari pengeras suara mesjid. Bukan adzan — masih satu jam lagi. Yang dia dengar adalah suara Pak RT, parau, agak tergesa, “Warga RT 005, tolong segera mengamankan barang ke lantai dua. Air sudah masuk gang. Air sudah sampai lutut.”

Ibu Surti mengusap matanya. Dia tinggal di rumah satu lantai. Tidak ada lantai dua. Dia melompat dari tempat tidur dan langsung menyalakan lampu — lampu tidak menyala. PLN sudah mati sejak satu jam lalu, mungkin lebih, dia tidak tahu karena dia tidur sebelum sempat sadar.

Dia menyalakan senter HP. Air sudah masuk ke kamar. Tidak banyak — semata kaki — tapi naik dengan kecepatan yang membuat dia berhenti dan menghitung sebentar. Kalau naik segini cepat, dalam lima belas menit kasur akan tenggelam.


Yang harus diselamatkan pertama, dia tahu dari pengalaman lima tahun lalu: ijazah anak-anak, sertifikat tanah, KK, dan satu kotak biskuit kaleng yang sebenarnya isinya foto-foto suaminya almarhum. Dia menyimpan semuanya di plastik kresek dobel, mengikatnya rapat, dan menggendongnya dengan kain panjang. Lalu dia mengambil ponsel, dompet, dan kunci.

Pintu depan dia buka — air di luar sudah selutut, lebih tinggi dari di dalam rumah. Lampu jalan masih nyala dari emergency power. Bu Erni, tetangga depan, sudah berdiri di teras rumahnya yang lebih tinggi, melambai.

“Bu Surti! Sini, naik ke rumah saya dulu!”

Ibu Surti menyeberang gang — tiga meter, terasa tiga puluh — dengan satu tangan memegang plastik berisi dokumen, satu tangan lain memegang dinding rumah orang. Air sudah sampai pinggang. Kalau dia menunggu lima menit lagi, dia tidak akan bisa berdiri.

Bu Erni menariknya naik. Rumah Bu Erni dua lantai, kuat. Mereka naik ke lantai dua bersama, dan dari jendela mereka melihat gang yang sekarang sudah menjadi sungai. Tetangga lain juga keluar — Pak Hadi dengan dua anaknya digendong di pundak, Bu Yati sambil menggendong panci, Mbak Ina yang membawa kucing dalam keranjang.

Semua naik ke rumah-rumah yang lebih tinggi. Yang punya rumah dua lantai dengan otomatis membuka pintu. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang menawar.


Mereka berenam — Ibu Surti, Bu Erni, Bu Yati, Mbak Ina, dan dua anak Pak Hadi karena Pak Hadi balik turun untuk mengambil tabung gas dan kompor portable — duduk di lantai dua Bu Erni sampai matahari terbit. Bu Erni masak bubur instan dengan dua tabung gas portable. Mereka makan dari mangkok yang berbeda-beda, sendok dari laci Bu Erni, dengan tatapan yang sama-sama belum sepenuhnya bangun.

Anak Pak Hadi yang kecil, tujuh tahun, bertanya pada Bu Yati, “Tante, ini banjir mana?”

Bu Yati berpikir sebentar. “Ini banjir lima tahunan, Nak.”

“Yang dulu pernah ke rumah saya?”

“Iya.”

“Berarti besok banjirnya pulang lagi?”

Bu Yati ragu menjawab. Dia tahu prakiraan cuaca. Dia tahu hujan masih tiga hari lagi. Dia tahu air ini mungkin tidak akan surut sebelum minggu depan. Tapi dia menjawab, “Insya Allah, Nak. Banjirnya cepat pulang.”

Anak itu mengangguk, dan kembali makan bubur.


Ibu Surti pertama kenal Bu Erni saat banjir tahun 2020. Sebelumnya mereka cuma saling tegur sapa di gang, tahu nama tapi tidak tahu cerita. Banjir tahun 2020 mengubah itu. Bu Erni mengundang Ibu Surti ke rumahnya selama empat hari, masak untuknya dan dua anaknya, meminjamkan kasur lantai atas, dan menolak ketika Ibu Surti mau bayar.

“Saya bukan kos, Bu Surti,” kata Bu Erni waktu itu.

Sejak itu, mereka saling pinjam dapur. Bu Surti pinjam wajan besar Bu Erni kalau bikin rendang. Bu Erni pinjam panci presto Ibu Surti kalau bikin balung. Anak-anak Bu Erni — yang sekarang sudah SMP — kadang dititipkan ke Ibu Surti saat Bu Erni jualan jamu keliling. Bu Surti memanggil mereka “anak titip”; mereka memanggil dia “Tante Surti”.

Banjir telah membongkar batas-batas yang biasanya ada di antara tetangga Jakarta. Yang tadinya cuma tahu nama, sekarang tahu pintu mana yang seretnya, dan jam berapa Bu Surti tidur, dan apa yang Pak Hadi tidak boleh makan karena darah tingginya.


Pagi itu, ketika matahari sudah cukup terang dan air mulai turun pelan-pelan, Ibu Surti melihat ke arah jendela. Gang masih basah. Sampah-sampah plastik mengambang. Mobil tetangga yang diparkir di luar sudah tenggelam sampai roda atas. Itu akan jadi masalah baru, dia tahu.

Tapi sekarang, di lantai dua Bu Erni, dengan bubur instan di tangan dan anak Pak Hadi tertidur di bahunya, Ibu Surti merasa sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Banjir memang menyebalkan. Tapi Jakarta tanpa banjir, mungkin, akan jadi kota di mana dia tidak akan pernah tahu nama tetangganya.


— Mampang, 25 Mei 2026

← Semua cerpen Genre Drama →