Konferensi Anti-Kemiskinan di Ritz
18 Juli 2026 · 567 kata
Konferensi Internasional Eradikasi Kemiskinan ASEAN 2026. Ritz Carlton Mega Kuningan, ballroom utama lantai dua. Dua hari — Selasa dan Rabu. Tiket peserta Rp 12 juta. Tiket VIP Rp 28 juta.
Peserta terdaftar: 340 orang. Sebagian besar: eksekutif NGO, perwakilan kementerian, akademisi, dan perwakilan korporasi sponsor — Pertamina, BNI, Telkomsel, Grab Indonesia.
Pak Bhayu, 36 tahun, manajer CSR di salah satu BUMN energi, hadir dengan tiket reguler. Pakai jas navy, kemeja putih, dasi biru tua, sepatu Aldo.
Pukul setengah sembilan pagi, registrasi. Ballroom sudah dingin — AC di-set 19 derajat. Karpet merah. Backdrop dengan logo sponsor dan tagline: “Toward Zero Poverty 2030.”
Welcome breakfast: bagel, croissant, fruit platter dengan stroberi impor, kopi single-origin, teh Earl Grey, jus jeruk dari konsentrat impor. Catering oleh hotel. Estimasi per kepala: Rp 350 ribu.
Pak Bhayu ambil dua croissant dan satu kopi. Dia duduk di meja yang sudah ditentukan — meja 14, bersama lima orang lain yang dia tidak kenal.
Panel pertama: “Strategi Eradikasi Kemiskinan Ekstrem di Wilayah Perkotaan.” Moderator: pak akademisi dari UI. Pembicara: tiga orang — perwakilan World Bank, perwakilan Bappenas, dan CEO startup fintech yang mengaku “berdampak ke segmen unbanked.”
CEO startup itu bicara empat puluh menit. Slide-nya banyak grafik. Salah satu slide: foto ibu-ibu di pasar tradisional, dengan caption “Beneficiary kami: 380.000 ibu pelaku UMKM di seluruh Indonesia.”
Pak Bhayu menyalin angka itu ke Notes-nya. Dia tidak yakin angka itu akurat — tapi dia perlu untuk laporan internal.
Pukul setengah sebelas, coffee break. Pastry impor dari Perancis — eclair, macaron, opera cake. Kopi single-origin Ethiopia.
Pak Bhayu mengambil dua macaron — pistachio dan raspberry. Dia ngobrol dengan dua perwakilan NGO yang ada di meja yang sama tadi.
“Pak Bhayu, BUMN energi yang mana?”
“Pertamina Hulu.”
“Wah, mantap. Budget CSR-nya berapa tahun ini, Pak?”
“180 milyar.”
“Wow.”
NGO itu memberi kartu nama. Bu Lestari, Yayasan Sahabat Bumi. Pak Bhayu masukkan kartu ke saku jas. Dia tidak akan menelepon Bu Lestari, dia tahu — tapi dia menyimpan kartu untuk berjaga-jaga.
Panel kedua: “Pemberdayaan Ekonomi Kelas Bawah Melalui Teknologi.” Pembicara: dua orang dari fintech, satu dari edtech.
Mereka bicara tentang “leveraging blockchain untuk inklusi keuangan” dan “AI-driven solutions for poverty alleviation.” Pak Bhayu memperhatikan setengah hati. Dia juga membuka HP — mengecek email dari kantor.
Pukul setengah satu, makan siang. Buffet di ballroom sebelah. Menu: nasi goreng kambing, rendang, ayam betutu Bali, sashimi salmon (impor), pasta primavera, soup of the day (mushroom cream), dessert station (gelato, kue tart, fruit cocktail).
Per kepala — Pak Bhayu hitung kasar — sekitar Rp 750 ribu. Lima ratus orang catering, sekitar Rp 375 juta untuk makan siang saja.
Pak Bhayu makan ayam betutu dan sedikit pasta. Dia tidak suka sashimi.
Sore, panel ketiga: “Sustainable Financing untuk Program Anti-Kemiskinan.”
Pak Bhayu sudah capek. Dia keluar ballroom, jalan ke lobby. Di lobby Ritz Carlton, dia melihat seorang anak penjual koran yang masuk sebentar untuk menawarkan koran ke tamu hotel. Satpam mengusir anak itu dalam tiga puluh detik. Anak itu keluar tanpa protes.
Pak Bhayu menatap satpam, lalu anak itu yang sudah hilang di pintu putar.
Dia tidak berkomentar apa pun. Dia jalan ke toilet, cuci muka, lalu kembali ke ballroom.
Pukul lima sore, sesi penutup. Closing remarks dari Direktur Jenderal Bappenas. Standing ovation. Foto bersama semua peserta dengan backdrop “Toward Zero Poverty 2030.”
Pak Bhayu naik mobil dinas Avanza dari Pertamina ke kantor. Di mobil, dia membuka laporan acara di laptop. Dia menulis tiga paragraf. Kata “milestone” dipakai dua kali, kata “kemiskinan” satu kali — di header. Dia kirim ke direktur, lalu menutup laptop.
— Ritz Carlton Mega Kuningan, 18 Juli 2026
Ditulis oleh Bagus Pramudita