← Kembali

Drama · Sudirman · 5 menit

Lantai Empat Belas, Pukul Tujuh Malam

Andi sudah dua minggu tidak benar-benar ke kantor. Dia berangkat setiap pagi pukul setengah delapan dari kos di Pejompongan. Dia naik MRT ke Bundaran HI. Dia jalan kaki ke kantornya di Tower B, lantai empat belas. Dia masuk lobby, tap kartu, naik lift. Tapi pintu menuju ruang kerja timnya — di sebelah selatan lantai empat belas — dia tidak pernah buka lagi sejak Senin dua minggu yang lalu.

Sebagai gantinya, dia jalan ke sisi utara lantai itu, ke ruang meeting kecil yang jarang dipakai. Dia menutup pintunya, menyalakan laptop, dan duduk di sana sampai pukul tujuh malam. Dia tidak kerja. Dia membuka spreadsheet pekerjaan, tatap layar selama tiga puluh menit, lalu pindah ke YouTube. Dia menonton video dokumenter tentang lebah madu. Dia menonton video orang membersihkan rumah orang tua mereka yang baru meninggal. Dia menonton video resep kari Jepang yang dia tahu tidak akan dia masak.

Manajer Andi mengirim Slack messages yang Andi balas dengan “Noted, dikerjakan” atau “Lagi review file.” Andi tidak review apa pun. Andi mendelegasikan setiap tugas baru ke timnya dengan tag yang sama: “Tolong handle ini ya, gw lagi banyak meeting.” Tim Andi mulai curiga di hari ketiga. Di hari ketujuh mereka sudah pasrah. Di hari keempat belas — hari ini — Andi tahu dari Slack bahwa Pak Bram, head of department, mengundang dia ke meeting empat mata besok pagi.

Andi tahu meeting itu untuk apa.


Andi tinggal sendiri di Pejompongan. Kontrakan kos sejak lulus kuliah. Tidak ada pacar, tidak ada kucing. Orang tuanya di Tegal, terakhir telepon dua minggu lalu. Adiknya, satu-satunya, sudah pindah ke Belanda sejak tiga tahun lalu dan jarang ada di timezone yang sama.

Hari pertama dia tidak masuk ruang kerjanya, Andi belum bermaksud begitu. Dia hanya, pagi itu, di lift, tidak bisa menekan tombol untuk masuk pintu ruang kerja. Tubuhnya berhenti. Dia menatap pintu kaca itu selama dua menit penuh sebelum kakinya akhirnya bergerak — bukan ke arah pintu, ke arah berlawanan, ke ruang meeting kosong.

Dia menamai apa yang terjadi padanya dengan “aku cuma butuh napas dulu.” Selama satu hari, kalimat itu masuk akal. Dua hari, masih masuk akal. Sepuluh hari kemudian, kalimat itu sudah berubah menjadi alibi yang dia ucapkan ke dirinya setiap pagi seperti mantra.


Hari ini, hari keempat belas, pukul tujuh malam. Andi masih di ruang meeting kosong. Lantai empat belas sudah hampir sepi. Cleaning service sudah selesai vacuum karpet sisi utara dan sekarang vacuum sisi selatan.

Andi membuka WhatsApp ibunya. Pesan terakhir dari ibu, sebelas hari lalu: Andi, jangan lupa makan ya nak. Mama lagi bikin sambel terasi, kapan pulang?

Andi belum membalas. Bukan karena marah, atau karena malas. Dia tidak tahu cara menulis kalimat yang ibunya tidak akan khawatirkan.

“Bu, aku gak bisa ke kantor.”

Terlalu jujur. Ibunya akan langsung naik pesawat.

“Bu, kerjaan lagi banyak.”

Terlalu bohong. Ibunya akan tahu.

“Bu, sehat.”

Terlalu pendek. Ibunya akan curiga.

Andi menutup WhatsApp tanpa membalas. Dia menutup laptop. Dia menatap dinding ruang meeting yang ada gambar burung — bukan poster, lukisan asli — yang entah dipasang siapa.

Burung itu, dia akhirnya menyadari, sudah memandanginya selama empat belas hari berturut-turut.


Dia mengeluarkan satu tas yang sudah dibawanya sejak dua minggu lalu. Di dalamnya: laptop charger, satu kaos ganti, sebuah botol obat tidur yang dia beli di apotik dua minggu lalu tapi belum diminum, dan sebuah amplop yang berisi surat pengunduran diri yang sudah dia tulis di hari kedua.

Surat itu pendek. Cuma dua paragraf. “Yang terhormat HR, dengan ini saya, Andi Pratama, mengajukan pengunduran diri efektif tanggal…” Dia belum mengisi tanggalnya. Dia menyimpan amplop itu di tas setiap hari, dan setiap malam dia tidak mengisi tanggalnya.

Malam ini, dia mengeluarkan pulpen. Dia menulis tanggal: 30 Mei 2026. Dua hari lagi.

Lalu dia berdiri, mengambil tasnya, mematikan lampu ruang meeting, dan keluar.

Di lift, dia tidak menekan tombol lobby. Dia menekan tombol roof. Lift naik dua lantai lagi. Di lantai roof — yang seharusnya butuh kartu akses tapi malam itu pintunya entah kenapa terbuka — dia keluar ke atap gedung.

Sudirman dari atap pukul tujuh malam: lampu-lampu, klakson yang teredam oleh angin, garis mobil-mobil yang mengular di sepanjang tol. Andi berdiri di pinggir, tidak terlalu dekat, hanya cukup untuk melihat.

Dia tidak loncat. Dia tidak punya niat untuk loncat. Dia hanya butuh, untuk sekali ini, melihat Jakarta dari sudut yang tidak biasa — bukan dari dalam mobil yang macet, bukan dari kamar kos yang kecil, bukan dari kursi kantor di lantai empat belas.

Dari roof, Jakarta tampak indah. Itu yang paling menyakitkan.

Andi menelepon ibunya. Ibunya angkat di dering kedua.

“Bu,” katanya, “Aku pulang besok. Boleh aku tinggal di Tegal sebentar?”

Ibunya tidak menanyakan kenapa. Ibunya hanya bilang, “Mama tunggu, nak. Mama bikinin sambel terasi favoritmu.”

Andi menutup telepon. Dia menatap Jakarta sekali lagi. Lalu dia turun dengan lift, ke lantai empat belas, ke ruang HR, dan dia memasukkan amplop pengunduran dirinya ke dalam kotak surat staff.

Dia naik MRT ke Pejompongan. Malam itu dia tidur delapan jam.


— Sudirman, 21 Mei 2026

← Semua cerpen Genre Drama →