← Kembali

Satire · Setiabudi · 3 menit

CEO Startup Donasi Foto

Pak Reno, 34 tahun, CEO startup edtech Series B, valuasi 80 juta dolar, kantor di Setiabudi 8. Sabtu pagi, dia datang ke yayasan dhuafa kecil di gang sempit di Setiabudi Barat. Pakai kemeja putih lengan disingsing, celana chinos, sneaker Common Projects.

Yang ikut: dua orang dari tim PR (perempuan, 28-an, laptop terbuka), satu fotografer (lelaki, 35, kamera Sony A7), satu video editor (laki, 27, gimbal di tangan), dan dua orang dari yayasan (Pak Hasan, 60-an, ketua yayasan, dan Bu Yenti, sekretaris).


Donasi: 20 paket beras 5 kg, 20 botol minyak goreng, 20 dus mi instan. Total: kira-kira Rp 4 juta — tim PR sudah hitung di Excel.

Pak Reno turun dari mobil Range Rover Velar putih. Dia masuk gang. Setiabudi Barat — rumah-rumah berdempetan, gang lebar dua meter, jemuran melintang.

Pak Hasan menyambut di pintu yayasan. Bangunan kecil, dua lantai, cat hijau muda yang sudah pudar.

“Pak Reno, terima kasih sudah datang.”

“Pak Hasan, semoga bermanfaat.”

Fotografer langsung memotret.


Tim PR sudah brief Pak Hasan dua hari sebelumnya: foto donasi akan dipakai untuk caption LinkedIn dan Instagram. Pak Hasan dimohon untuk pose dengan Pak Reno saat menyerahkan paket beras. Pose: dua tangan menerima, kepala sedikit menunduk, senyum tipis.

Bu Yenti, di belakang, memanggil tiga anak yatim binaan yayasan untuk ikut dalam foto. Anak-anak 7-10 tahun. Mereka pakai baju koko bersih — yang Bu Yenti pinjamkan dari stok yayasan.

“Adek, senyum ya. Bilang ‘cheese’ kalau Om motret.”

Anak-anak menatap kamera. Mereka tidak senyum lebar — yang paling besar, namanya Fadli, hanya melirik fotografer dengan ekspresi netral.

Fotografer ambil dua puluh foto. “Pak Reno, sekali lagi. Tangan saat menyerahkan kardusnya.”

Pak Reno mengulang gerakan. Lima kali. Sudut yang pas akhirnya dapat.


Setelah foto, video editor minta Pak Reno bicara di kamera.

“Pak, lima belas detik aja. Soal kenapa Bapak peduli pendidikan anak yatim.”

Pak Reno mengangguk. Dia menatap kamera.

“Pendidikan adalah hak setiap anak. Sebagai CEO startup yang fokus di edtech, saya merasa berkewajiban memberikan akses kepada mereka yang kurang beruntung.”

Video editor: “Cut. Bagus. Sekali lagi, tapi sedikit lebih natural, Pak. Coba senyum sebentar.”

Pak Reno mengulang. Tiga kali. Take ketiga lulus.


Pak Hasan dan Bu Yenti diam selama proses pemotretan. Mereka tidak ikut bicara. Mereka berdiri di sebelah, menunggu sampai selesai.

Setelah tim PR puas, Pak Reno menyalami Pak Hasan dengan dua tangan.

“Pak Hasan, semoga bermanfaat.”

“Terima kasih, Pak Reno.”

Pak Reno keluar gang dengan tim PR. Range Rover-nya parkir di Jalan Setiabudi Tengah. Dia naik, AC menyala, dia membuka HP.


Tiga hari kemudian, post LinkedIn Pak Reno tayang. Foto: Pak Reno menyerahkan kardus beras ke Pak Hasan. Caption: “Hari ini saya berkesempatan untuk berbagi dengan saudara-saudara kita di Setiabudi. Sebagai pelaku startup, kepedulian sosial adalah bagian integral dari visi kami. #BetterTogether #EdtechForAll”

Komentar: 847. Like: 12.300. Share: 412.

Tim PR di Slack mengupdate ROI: cost Rp 17.5 juta (donasi + fotografer + copywriter + ads boost), reach 380.000 impressions, engagement 4.2%, valuasi brand naik kira-kira (mereka estimasi) sebesar 0.3 persen di mata investor pre-Series C.

Di yayasan Pak Hasan, 20 paket beras dibagi merata ke 35 keluarga. Tiap keluarga dapat sedikit dari setiap kardus — Pak Hasan tidak mau pilih kasih.

Tiga minggu kemudian, paket habis. Yayasan butuh donasi lagi. Pak Hasan menelepon tim PR Pak Reno. Tidak diangkat. Dia kirim WA. Centang dua, tidak dibalas.

Pak Hasan mengangguk pelan ke HP-nya. Dia masukkan ke kantong. Dia jalan ke yayasan untuk mengajar anak-anak baca Quran sore itu.


— Setiabudi, 15 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Satire →