← Kembali

Slice of Life · Tangcity Mall, Kota Tangerang · 5 menit

Shift Malam di Tangcity

Pukul sepuluh lewat lima belas malam, Tangcity sudah kosong dari pengunjung.

Pak Darto mendorong troli kebersihannya keluar dari gudang di lantai dasar, roda-rodanya berderit pelan di lantai yang tadi masih ramai. Ember, kain pel, botol pembersih, sarung tangan karet yang ujung jarinya sudah menipis. Semua sudah di tempatnya. Semua sudah hafal di tangannya.

Lampu utama sudah diredupkan setengah. Eskalator berhenti, anak-anak tangganya diam seperti tulang punggung besi yang sedang beristirahat. Musik yang seharian mengalun dari pengeras suara sudah dimatikan. Yang tersisa hanya dengung AC yang belum sepenuhnya padam dan suara langkah petugas lain di lantai atas, samar-samar.

Sembilan tahun.

Pak Darto ingat pertama kali dia masuk kerja di sini, waktu anak bungsunya masih SD. Sekarang anak itu sudah lulus SMK, sudah kerja di pabrik sepatu di daerah Cikupa. Waktu jalan cepat sekali kalau diukur dari tinggi anak. Tapi kalau diukur dari kain pel, waktu jalan pelan — satu lantai, satu koridor, satu malam, berulang-ulang.

Dia mulai dari koridor dekat pintu utara.


Mengepel mall malam hari punya iramanya sendiri.

Siang hari, lantai kotor oleh sepatu ribuan orang — jejak lumpur, tumpahan es, remah makanan. Malam hari, semuanya diam. Pak Darto bisa mendengar suara kainnya sendiri menyapu keramik. Basah, geser, angkat. Basah, geser, angkat. Bau pembersih lantai bercampur aroma food court yang sudah tutup, sisa minyak dan bumbu yang menempel di udara.

Dia suka jam-jam begini, sebetulnya. Tidak ada yang menyuruh minggir. Tidak ada anak kecil yang berlari melewati lantai basah meski sudah dipasang papan “Hati-hati Lantai Licin”. Tidak ada yang menatapnya seolah dia bagian dari lantai itu sendiri.

Di sini, di malam hari, Pak Darto merasa mall ini seperti miliknya sebentar. Dia yang menjaganya sampai pagi.

Dia sampai di area dekat food court lantai satu. Kursi-kursi sudah ditumpuk oleh petugas tenant, meja-meja sudah dilap. Tinggal lantainya. Pak Darto memarkir trolinya, memeras kain pel, mulai dari sudut.

Saat itulah dia melihatnya.


Sebuah dompet, tergeletak di kursi tunggu panjang dekat kolom, setengah terselip di antara bantalan.

Pak Darto berhenti. Dia lihat ke kanan-kiri. Tidak ada orang. Petugas lain masih di lantai atas.

Dia dekati kursi itu, ambil dompet itu dengan tangan yang masih memakai sarung tangan karet. Dompet kulit cokelat, sudah agak lecek, tapi tebal. Dia buka.

Ada KTP. Ada beberapa kartu — kartu ATM, kartu anggota entah apa. Dan ada uang. Lembaran seratus ribuan, dilipat rapi. Pak Darto tidak menghitungnya, tapi dari tebalnya dia tahu itu bukan jumlah kecil. Mungkin cukup untuk belanja bulanan keluarganya. Mungkin lebih.

Untuk sesaat, tangannya diam.

Dia bukan orang kaya. Gajinya pas-pasan, dibagi untuk kontrakan, listrik, dan kiriman ke kampung untuk ibunya yang sudah sepuh di Serang. Bulan ini genteng kontrakannya bocor, belum sempat dibetulkan. Selalu ada yang lebih mendesak.

Dia menatap uang itu. Lalu dia menutup dompetnya.

Dia teringat sesuatu yang pernah dikatakan almarhum bapaknya, tukang tambal ban di pinggir jalan raya Serang dulu: “Rezeki yang bukan hak kita, Le, dibawa ke mana pun bakal jadi beban. Bukan berkah.”

Pak Darto membawa dompet itu ke pos sekuriti.


Pak Herman, sekuriti yang jaga malam itu, menerima dompet itu dan mencatatnya di buku barang temuan. Nama penemu: Darto. Waktu: 22.40. Lokasi: kursi tunggu food court lantai satu.

“Ada uangnya, Pak,” kata Pak Darto. “Lumayan. Tolong dicatat juga biar jelas.”

Pak Herman mengangguk, menghitung uangnya di depan Pak Darto, menuliskan jumlahnya. Mereka berdua tanda tangan.

“Mantap, Pak Darto,” kata Pak Herman sambil menutup buku. “Banyak yang nggak bakal balikin, tau.”

Pak Darto cuma tersenyum tipis. Dia tidak merasa dirinya melakukan sesuatu yang hebat. Dia hanya merasa lega — seperti orang yang baru meletakkan beban yang untung tidak sempat dia pikul terlalu jauh.

Dia kembali ke trolinya. Masih ada tiga koridor dan satu toilet lantai dua sebelum shift selesai. Malam masih panjang.


Hampir tengah malam, saat Pak Darto sedang mengepel koridor lantai dua, HT di pinggangnya berbunyi.

“Pak Darto, ke lobi utama bentar. Ada yang nyariin.”

Di lobi, seorang lelaki paruh baya berdiri di samping Pak Herman, wajahnya lega dan cemas bercampur jadi satu. Dompet cokelat itu sudah ada di tangannya.

“Bapak yang nemuin?” tanya lelaki itu begitu melihat Pak Darto.

Pak Darto mengangguk.

Lelaki itu maju, menjabat tangan Pak Darto erat-erat — tangan yang masih basah dan bau pembersih lantai, tapi dia tidak peduli. “Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak. Itu uang buat bayar rumah sakit istri saya besok pagi. Saya panik setengah mati baru sadar dompetnya ketinggalan pas udah sampai rumah.”

“Alhamdulillah ketemu, Pak,” kata Pak Darto pelan.

Lelaki itu buka dompet, menarik beberapa lembar. “Ini buat Bapak, sedikit—”

Pak Darto mundur selangkah, mengangkat tangannya. “Nggak usah, Pak. Sudah jadi tugas saya jaga tempat ini. Itu memang hak Bapak.”

Lelaki itu terdiam. Lalu matanya berkaca. Dia genggam tangan Pak Darto sekali lagi, lebih lama. “Orang kayak Bapak ini yang bikin saya masih percaya sama orang.”


Pak Darto kembali ke trolinya setelah lelaki itu pergi.

Koridor lantai dua sudah setengah selesai dia pel. Lantainya mengkilap memantulkan lampu yang diredupkan, memanjang sepi sampai ke ujung. Dia peras lagi kainnya, lanjutkan dari tempat dia berhenti tadi.

Basah, geser, angkat. Basah, geser, angkat.

Gajinya tetap pas-pasan. Genteng kontrakannya masih bocor. Besok malam dia akan masuk shift lagi, mengepel lantai yang sama, koridor yang sama. Tidak ada yang berubah dari itu semua.

Tapi ada yang terasa berbeda di dadanya malam itu — sesuatu yang tidak dia dapat dari amplop mana pun, dan tidak akan dia tukar dengan lembaran seratus ribuan yang tadi hampir jadi miliknya.

Orang kayak Bapak ini yang bikin saya masih percaya sama orang.

Pak Darto mengepel sampai ujung koridor. Di luar jendela besar lantai dua, lampu-lampu Kota Tangerang masih menyala, kuning dan tenang, membentang sampai jauh.

Sebentar lagi pagi. Sebentar lagi mall ini akan ramai lagi, dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi di sini semalam.

Pak Darto tidak butuh mereka tahu.

Dia dorong trolinya menuju gudang, langkahnya ringan.


— Tangcity Mall, Kota Tangerang, 18 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →