← Kembali

Politik · Kampung Melayu · 3 menit

DPR Bagi Bingkisan Banjir

Hari kedua banjir Kampung Melayu, air masih setinggi betis di Jalan Jatinegara Barat. Pak Marno mengayuh perahu karet yang dipinjamkan dari BPBD, dari ujung gang ke posko di mulut jalan.

Di posko, sudah ada tenda biru, mobil komando, dan tiga mobil hitam yang baru tiba. Anggota DPR. Pak Suryadi. Dapil tiga.

Pak Marno mengikat perahunya di tiang listrik. Dia melangkah ke trotoar yang masih basah.


Pak Suryadi turun dari mobil dengan sepatu boots karet baru. Hitam mengkilap. Belum pernah dipakai untuk benar-benar masuk genangan.

Stafnya — enam orang berkaos merah bertanda partai — sudah menyusun 300 bingkisan di meja panjang. Setiap bingkisan: satu kardus berisi mie instan, biskuit, susu kotak, sarung, dan satu surat dari Pak Suryadi yang ditandatangani fotokopi.

Wartawan tiba. Dua kamera TV, empat fotografer, dan satu reporter perempuan dari kantor berita online.

Pak Suryadi berpidato di mikrofon. Lima menit. Isinya: dia “prihatin”, dia “akan memperjuangkan anggaran banjir di komisi V”, dia “tidak akan diam”.

Pak Marno menonton dari pinggir. Dia sudah lima belas tahun tinggal di Kampung Melayu. Dia sudah pernah menonton pidato seperti ini, oleh orang yang berbeda, di tempat yang sama. Mungkin tujuh kali.


Pembagian dimulai. Warga antri. Ibu-ibu di depan, bapak-bapak di belakang.

Pak Marno tidak ikut antri. Dia berdiri di samping perahu karetnya.

Satu staffer Pak Suryadi — pemuda 20-an, kacamata, lanyard partai di leher — mendekati Pak Marno.

“Pak, gak antri, Pak?”

“Tidak, Mas.”

“Yah Pak, sayang, kan untuk Bapak juga.”

“Saya sudah dapat tahun lalu.”

Staffer itu terdiam. Dia tersenyum tipis. “Tahun lalu bukan dari Pak Suryadi, Pak.”

“Sama saja, Mas. Isinya sama.”

Staffer itu mengangguk pelan, lalu pergi.


Pukul setengah dua belas, pembagian selesai. Pak Suryadi foto bersama sepuluh warga yang dipilih staffernya. Mereka tersenyum lebar untuk kamera. Pak Suryadi memberi bingkisan, salaman, lalu lepaskan tangan.

Tenda biru dibongkar. Mobil-mobil pergi. Wartawan ikut pergi.

Tinggal posko BPBD, perahu Pak Marno, dan kardus-kardus bingkisan yang masih dibawa warga ke rumah masing-masing.

Pak Marno mengayuh perahunya kembali ke gang. Air masih setinggi betis. Anaknya, Galih, 17 tahun, menunggu di pintu depan rumah yang lantai bawahnya sudah jadi kolam.

“Pak, dapat bingkisan?”

“Tidak, Galih.”

Galih menatap Pak Marno. “Kenapa, Pak?”

“Pak gak antri.”

Galih tidak bertanya lebih. Dia masuk ke dalam rumah, ke lantai dua, di mana mereka tidur sejak banjir.


Sore itu, Bu Yuli, tetangga sebelah, datang dengan perahu plastik kecil. Dia membawa satu bingkisan dari Pak Suryadi.

“Pak Marno, ini buat Bapak.”

“Bu Yuli, Bapak gak ngantri tadi.”

“Iya saya tahu. Saya antri dua kali. Satu buat saya, satu buat Bapak.”

Pak Marno menatap bingkisan itu. Mi instan Indomie ayam bawang. Biskuit Roma kelapa. Susu Ultra. Sarung kotak-kotak hijau.

Dia menerima. “Terima kasih, Bu.”

Bu Yuli mengayuh perahunya kembali ke rumahnya, tiga pintu jauh.


Malam itu, Pak Marno dan Galih makan mi instan dari bingkisan. Air rebusan dari panci yang ditaruh di kompor portabel di lantai dua.

“Pak, kapan banjir surut?”

“Besok, mungkin. BMKG bilang.”

Galih makan mi-nya. Pak Marno makan mi-nya. Tidak ada lampu, hanya senter HP yang ditegakkan di samping piring.

Pak Marno menatap surat fotokopi dari Pak Suryadi yang masih ada di kardus. Tanda tangan, foto setengah badan, slogan partai. Dia menggulungnya, lalu memakainya untuk menyumbat lubang ventilasi yang dimasuki nyamuk.


— Kampung Melayu, 5 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Politik →