Ibu Warung Nasi Manggarai
24 Juni 2026 · 1148 kata
Pukul empat lewat setengah pagi, Manggarai masih gelap dari luar. Tapi di dalam warung Ibu Siti, kompor sudah menyala.
Dia masukkan beras ke dandang besar — beras pera, merek yang sama yang dia beli dari toko yang sama di Gang Wijaya sejak dua puluh dua tahun lalu. Asap putih mulai naik. Dia angkat tutup panci, periksa air, tutup lagi. Semua gerak ini tanpa pikir. Tangannya sudah hafal urutannya sebelum matanya penuh terbuka.
Lauk-lauk dia tata di meja pajang: rendang yang dimasak malam tadi, sambal goreng tempe, perkedel jagung, ikan asin, lalapan timun dan kemangi. Lodeh sudah ada di panci kedua. Dia nyalakan api kecil — biar hangat tapi tidak meluap.
Di luar, suara rel kereta mulai terdengar. KRL pertama dari arah Bogor.
Dua puluh dua tahun.
Ibu Siti ingat waktu warung ini masih berupa meja lipat di pinggir jalan, sebelum dia sewa ruko sempit ini. Waktu itu Stasiun Manggarai belum seperti sekarang — belum ada jalur layang, belum ada lift dan eskalator yang sekarang terus menerus berbunyi kresek-kresek itu. Pelanggannya dulu kebanyakan tukang becak dan pekerja pabrik tekstil yang sudah gulung tikar di awal 2000-an. Sekarang campurannya berbeda. Lebih banyak helm proyek. Lebih banyak kemeja dan sepatu pantofel yang terburu-buru.
Dia tidak tahu mana yang lebih capek.
Pak Sabar datang pukul enam kurang sepuluh, seperti biasa.
Mandor konstruksi itu memarkir motornya di depan, menggantung helmnya di spion, lalu masuk dengan langkah yang sudah Ibu Siti hafal betul — berat di kaki kanan, sedikit pincang sejak dua tahun lalu setelah kecelakaan kecil di lokasi proyek gedung apartemen di Tebet. Dia tidak pernah cerita banyak soal itu. Ibu Siti juga tidak tanya.
“Biasa, Bu.”
Ibu Siti sudah menyendok nasi sebelum Pak Sabar duduk. Rendang. Tempe goreng. Teh manis panas.
Sebelas tahun Pak Sabar makan menu yang sama setiap pagi. Ibu Siti pernah tanya sekali — tahun keempat atau kelima, dia sudah lupa — apakah Pak Sabar tidak bosan. Pak Sabar jawab sambil menyeruput teh: “Kalau udah enak ngapain ganti, Bu.”
Dia bayar, seperti biasa, Rp 18.000.
Harga normal sekarang Rp 22.000. Sudah naik dua kali dalam tiga tahun terakhir — harga beras naik, harga minyak naik, harga cabai naik seperti kenaikan tarif KRL yang tidak pernah minta izin siapapun. Tapi Ibu Siti tidak pernah menaikkan harga untuk Pak Sabar. Bukan karena kasihan. Bukan juga karena tidak butuh uangnya.
Ada hal-hal yang harganya tidak perlu dibicarakan.
Pak Sabar makan cepat. Dua puluh menit, selesai. Dia pamit dengan anggukan, kenakan helm, pergi ke lokasi proyek yang entah di mana sekarang — dia pindah-pindah lokasi tiap beberapa bulan. Tapi warungnya tidak pernah dia tinggal.
Jam tujuh, warung mulai ramai.
Gelombang pertama: pekerja konstruksi dan satpam gedung yang masuk shift pagi. Mereka makan cepat, bayar cash, pergi. Gelombang kedua mulai jam delapan: komuter yang ketinggalan sarapan di rumah, turun dari KRL dengan tas kerja di bahu, sepatu masih mengkilat meski Jakarta belum jam sembilan.
Seorang perempuan muda masuk, blazer abu-abu, rambut diikat rapi. Dia berdiri sebentar di depan meja pajang, menatap lauk-lauk dengan ekspresi yang Ibu Siti sudah hafal: bukan tidak suka, tapi tidak tahu mau pilih apa.
“Mau makan apa, Mbak?”
“Ada yang ringan-ringan, Bu?”
“Tempe goreng, tahu, lalapan. Sama nasi putih.”
“Itu aja deh, Bu.”
Perempuan itu duduk, buka HP, scroll sesuatu — Instagram atau email, Ibu Siti tidak tahu. Tidak melihat ke sekeliling. Makan sambil scroll. Selesai, dia angkat wajah untuk pertama kalinya, bicara ke Ibu Siti: “Bayar pakai GoPay bisa, Bu?”
Bisa.
Dua bulan lalu, Tari — putri Ibu Siti yang tinggal di Bekasi — datang satu Minggu pagi dan bilang: “Bu, warungnya perlu QR code. Banyak orang sekarang nggak bawa cash.” Setengah jam kemudian QR code itu sudah terpasang di meja kasir, dicetak di atas kertas laminasi biru.
Ibu Siti menatap kode itu agak lama setelah Tari pulang.
Sekarang dia sudah terbiasa. Tapi setiap kali ada yang bayar scan, dia masih menunggu notifikasi bunyi di HP sebelum merasa transaksinya benar-benar selesai. Kalau cash, dia tahu langsung. Kalau GoPay, ada jeda satu detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya.
Pukul setengah sepuluh, warung sepi.
Ini jamnya. Antara gelombang komuter pagi dan gelombang pekerja yang istirahat siang. Ibu Siti duduk di kursi plastik di belakang meja, kaki sedikit diangkat ke atas papan kayu di bawah meja kasir. Kebiasaan lama untuk ngurangi pegal.
Dia buka WhatsApp.
Pesan dari Tari, dikirim kemarin malam pukul 21:47:
“Bu kapan rencananya istirahat dari warung? Teman Tari ada yang butuh bantuan jaga toko online, dari rumah bisa. Nggak capek.”
Ibu Siti membaca pesan itu untuk ketiga kalinya. Kalimat yang sama sudah datang dalam berbagai bentuk sejak dua tahun lalu. Kadang lebih lembut — “Bu jaga kesehatan ya” — kadang lebih langsung seperti ini.
Tari tidak salah. Tari sayang ibunya. Ibu Siti tahu itu.
Dia letakkan HP di meja. Di luar, suara KRL lewat di atas — rel layang itu selalu bunyi seperti siulan besi panjang yang malas. Sudah dua tahun telinga Ibu Siti hafal bedanya: KRL yang mau berhenti di Manggarai bunyinya berbeda dengan yang langsung lewat.
Dia tidak menjawab pesan Tari.
Pukul sebelas, seorang lelaki muda masuk. Bukan pelanggan lama. Ibu Siti belum pernah lihat mukanya.
Dia pakai kaos polos, celana jeans, sandal jepit. Bukan pekerja konstruksi, bukan komuter kantor. Mungkin dari proyek yang baru mulai di seberang jalan — ada gedung baru lagi yang sedang dibangun, kerangka besinya sudah kelihatan dari warung.
Dia berdiri di depan meja pajang, menatap semuanya dengan serius, seperti orang yang benar-benar tidak tahu mau pilih apa.
“Enaknya apa, Bu?”
“Ikan asin sama lalapan, Mas. Kalau mau yang nendang.”
Dia mengangguk. “Itu aja.”
Dia duduk di meja paling ujung. Makan dengan tenang. Tidak buka HP.
Setelah beberapa suapan, dia angkat kepala: “Ibu udah lama di sini?”
“Dua puluh dua tahun.”
Dia berhenti mengunyah sebentar. Lalu bersiul pelan. “Gak capek?”
Ibu Siti tersenyum.
Bukan senyum yang menjawab. Bukan juga senyum yang menghindar. Hanya senyum yang sudah dia pakai untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak butuh jawaban — karena jawabannya sudah ada di sini, di dandang yang sudah dua puluh dua tahun dia nyalakan sebelum subuh.
Lelaki muda itu tidak tanya lagi. Dia lanjut makan.
Pukul dua siang, Ibu Siti mulai beberes.
Sisa lauk dia masukkan ke wadah plastik besar — yang masih layak untuk dijual sore, yang tidak dia sisihkan untuk makan malam sendiri. Kompor dia matikan. Meja dia lap dengan kain basah. Kursi-kursi dia tata lagi.
Hari ini cukup. Tidak lebih, tidak kurang. Angkanya kasar di kepala: pemasukan segini, pengeluaran beras dan lauk segitu, sewa segitu, sisanya cukup.
Cukup sudah lama jadi ukurannya.
Dia duduk sebentar sebelum pulang, buka WhatsApp lagi. Pesan Tari masih ada di sana, belum dibalas.
Ibu Siti mengetik satu kata.
Belum.
Dia kirim. Dia tutup HP.
Di luar, kereta lagi lewat di atas. Manggarai terus bergerak — rel baru, gedung baru, wajah-wajah baru yang mampir sebentar lalu pergi. Dan warungnya tetap di sini, di sudut yang sama, dengan dandang yang sama, menunggu besok pagi pukul empat setengah.
Seperti biasa.
— Manggarai, Jakarta Selatan, 24 Juni 2026
Ditulis oleh Bagus Pramudita