Kebersihan TransJakarta Halte Karet
9 Juli 2026 · 545 kata
Pukul enam pagi, halte TransJakarta Karet. Bu Sri, 52 tahun, pakai rompi oranye, mengepel lantai halte dengan pel ungu dari Carrefour yang sudah lima tahun.
Dia sudah datang pukul setengah lima. Mengganti baju di toilet petugas. Mengeluarkan alat: pel, ember, kain lap, semprotan disinfektan. Mengepel mulai dari ujung selatan halte ke ujung utara.
Halte Karet tidak besar. Empat puluh dua meter persegi. Empat tiang. Dua gate.
Bus 1 jurusan Blok M-Kota sudah lewat empat kali sejak Bu Sri mulai.
Penumpang pukul enam: anak-anak SMA, mahasiswa, pekerja kantoran shift pagi. Beberapa dia hafal.
Pak berkacamata, kemeja biru muda, tas selempang hitam — Senin sampai Jumat, pukul enam lewat tiga, ke arah Bundaran HI. Selalu pakai Flazz BCA. Selalu mengangguk ke Bu Sri sebelum tap.
“Selamat pagi, Bu.”
“Pagi, Pak.”
Lalu mahasiswi, kerudung ungu, tas ransel Eiger merah, sepatu Vans putih. Pukul enam lewat sepuluh. Ke arah Blok M. Bayar dengan QR code di HP.
“Pagi, Bu Sri.”
“Pagi, neng.”
Bu Sri tidak ingat nama mahasiswi itu. Tapi mahasiswinya tahu nama Bu Sri — karena ada di name tag.
Bu Sri tinggal di Pesakih, Cengkareng. Berangkat pukul empat subuh, naik motor diantar suami sampai stasiun KRL Pesing. Lalu KRL ke Sudirman. Lalu jalan kaki ke Karet — sepuluh menit.
Pulang pukul setengah enam sore. Sama rutenya, terbalik.
Gajinya Rp 4.2 juta sebulan. Suaminya, pensiunan PNS golongan dua, Rp 2.8 juta sebulan. Cucu satu di rumah, kelas tiga SD. Anak perempuan Bu Sri bekerja di pabrik tekstil di Tangerang, shift malam.
Pukul tujuh pagi, halte mulai sangat ramai. Antrian gate sampai tiga puluh orang. Bus 1 datang setiap tiga menit.
Bu Sri tidak ngepel selama jam padat. Dia pegang sapu kecil, berdiri di pojok, ambil sampah yang dijatuhkan penumpang — tisu, plastik permen, sedotan kopi takeaway.
Dia melihat satu pak buang puntung rokok di dekat tempat sampah, bukan ke dalam. Bu Sri jalan, ambil puntung itu dengan tangan, buang ke tempat sampah. Pak itu sudah masuk gate, tidak melihat.
Pukul setengah sembilan, jam padat mulai turun. Halte kembali ke ritme normal. Bu Sri mulai ngepel lagi — yang kedua kali hari itu.
Mas Hendro, petugas tiket, keluar dari kios. “Bu Sri, mau kopi?”
“Mau, Mas. Sachet aja.”
Mas Hendro masuk lagi ke kios. Dia menyeduh dua kopi sachet — Indocafe, dua sendok gula. Dia bawa keluar dengan gelas plastik.
“Bu, hujan kayaknya nanti siang.”
“Iya, Mas. Awan udah hitam dari Senayan.”
Mereka duduk di bangku halte yang biasanya untuk penumpang. Empat menit istirahat sebelum jam padat sore.
Pukul empat sore, halte ramai lagi. Penumpang pulang kantor. Bu Sri sudah berdiri sejak pukul setengah empat — pegang sapu, ambil sampah, kasih senyum tipis ke penumpang yang menatap dia.
Pak berkacamata kemeja biru muda yang tadi pagi, balik lagi pukul empat lewat lima puluh. Dia lihat Bu Sri. Dia angguk.
“Sore, Bu Sri.”
“Sore, Pak.”
Pak itu masuk gate. Bayar Flazz. Naik bus.
Bu Sri menatap punggung pak itu sampai dia masuk bus. Dia tidak tahu nama pak itu. Pak itu tahu nama Bu Sri.
Itu — di halte ini — adalah pertukaran yang adil.
Pukul setengah enam, Bu Sri ganti shift dengan Bu Tini. Dia titip pel, ember. Dia ganti baju. Dia jalan ke Sudirman.
Di gerbong KRL ke Pesing, dia duduk di pojok. Dia menyandarkan kepala di kaca. Dia tertidur empat puluh menit sampai stasiun Pesing.
Suaminya menunggu di pintu stasiun dengan motor Honda Supra yang lampunya satu mati sejak Maret.