← Kembali

Komedi · Kemang · 3 menit

Kucing Mengamuk di Cafe Kemang

Kafe Bonnet di Kemang Raya 21 — pet-friendly, kursi rotan, dinding warna sage green — pukul tiga sore. Sembilan meja terisi. Tiga anjing kecil. Dua kucing. Belasan freelancer dengan Macbook.

Najwa duduk di meja pojok dekat jendela. Dia membuka Figma. Dia memesan matcha latte iced — Rp 65.000, tanpa whipped cream, oat milk extra Rp 8.000.

Di meja sebelahnya, seorang lelaki berusia tiga puluhan duduk dengan kucing oranye besar di pangkuannya. Kucing itu pakai harness pink. Lelaki itu pakai kemeja linen, jam Garmin, AirPods Pro. Dia minum Americano, tidak mengetik, hanya scroll TikTok.


Najwa pertama tahu kucing itu bernama Bakwan ketika lelaki itu berbisik, “Bakwan, jangan turun.”

Bakwan turun.

Bakwan jalan ke meja Najwa. Bakwan memandangi matcha latte. Bakwan mengintip Figma di laptop.

“Maaf ya, Mbak.” Lelaki itu setengah berdiri. “Bakwan suka warna hijau.”

Najwa tersenyum. “Gak apa-apa.”


Yang terjadi berikutnya berlangsung selama empat detik.

Bakwan melompat ke meja Najwa. Kakinya menyenggol matcha latte. Gelasnya — gelas kaca tinggi, bukan plastik — jatuh ke samping. Matcha tumpah ke keyboard Macbook Pro M3 14-inci milik Najwa. Najwa bilang “eh.” Bakwan loncat lagi, kali ini ke kursi sebelah Najwa, lalu ke lantai, lalu kabur ke arah dapur.

Lelaki itu berdiri. “Bakwan! Bakwan!”

Najwa mengangkat laptopnya. Matcha menetes dari keyboard. Layar masih menyala, masih nunjukin file Figma yang dia kerjakan untuk klien — deck pitch yang due besok pagi pukul sepuluh.

Pegawai kafe datang dengan lap. Tiga lembar tisu. Satu botol semprot.


Lelaki itu kembali ke meja Najwa, tanpa Bakwan — Bakwan berhasil ditangkap pegawai kafe, sekarang dikurung di harness, marah-marah di lantai.

“Mbak, aduh, maaf banget. Itu laptopnya bagaimana?”

Najwa membuka laptop. Layar masih jalan. Tapi spasi bar sudah lengket. Tombol E tidak respon. Tombol F sudah respon, tapi mengeluarkan suara “klik” yang aneh.

“Saya bayar perbaikannya,” kata lelaki itu. “Saya bayar.”

Najwa mengangguk pelan. “Mas…”

“Bramantya. Bram aja.”

“Mas Bram, laptop ini sebenarnya masih cicilan.”

“Berapa lagi cicilannya?”

“Empat belas bulan.”

Mas Bram diam dua detik. Lalu dia mengeluarkan dompet. Lalu dia membuka aplikasi BCA mobile.

“Saya transfer sekarang berapa?”


Lima menit kemudian, Najwa menerima Rp 12 juta di rekening BCA-nya. Mas Bram melakukannya tanpa banyak basa-basi. Dia hanya bilang, “Buat servis. Kalau kurang, bilang aja. Bakwan emang gini orangnya.”

Najwa menatap notifikasi BCA. Dia menatap Mas Bram. Dia menatap Bakwan yang sekarang sudah duduk tenang di pangkuan Mas Bram lagi, seakan-akan tidak ada yang terjadi.

“Mas,” Najwa akhirnya berkata, “Bakwan dipanggil Bakwan kenapa?”

“Bulunya kayak bakwan goreng. Coklat-oranye.”

Najwa mengangguk. “Masuk akal.”


Najwa tidak melanjutkan Figma di kafe itu. Dia menutup laptop, mengelap keyboard dengan tisu, dan pergi ke Pacific Place. Di sana ada Apple Service Center.

Di MRT, dia menerima WA dari Mas Bram.

Mbak, sekali lagi maaf. Kalau servisnya butuh sparepart impor, bilang aja, saya tambah.

Lalu, satu menit kemudian:

PS: Bakwan bilang minta maaf juga. Tapi dia bohong. Dia gak ngerasa bersalah sama sekali.

Najwa tertawa di gerbong MRT. Penumpang di sebelahnya menatap dia. Najwa tidak merasa harus menjelaskan.

Di Pacific Place, teknisi Apple bilang servis butuh sembilan juta. Najwa transfer balik tiga juta ke Mas Bram. Mas Bram balas: Buat beli matcha latte yang baru.


— Kemang, 1 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Komedi →