← Kembali

Komedi · Tol Dalam Kota · 4 menit

Tiga Jam Empat Belas Kilometer

Kami berangkat dari Karawaci jam setengah enam. Suami saya bilang kalau berangkat sebelum jam enam, kami pasti sampai meeting di Sudirman pukul setengah sembilan. Asumsinya didasari pada satu kali pengalaman lima tahun lalu, hari Senin pertama bulan puasa, ketika seluruh Jakarta sedang tidur. Suami saya cenderung mengingat data secara selektif.

Penumpang lain di mobil: anak kami yang sembilan tahun, pemegang resmi remote AC; mbak saya yang baru pertama kali ke Jakarta dari Yogya, masih takjub dengan setiap jembatan layang; dan saya, yang sebenarnya hanya butuh ke Tanah Abang tapi diajak ikut karena mobil cuma ada satu.

Jam tujuh, kami baru sampai pintu tol Karang Tengah. Bukan masuk tol — antri masuk. Suami saya menyalakan playlist yang dia bikin sendiri di Spotify. Track pertama: lagu pop tahun 2014 yang waktu itu hits di radio Prambors. Anak saya melirik dari kursi belakang dan bertanya, “Itu lagu apa, Pa?”

“Lagu pas Papa nembak Mama.”

“Mama jawab apa?”

“Mama jawab ‘pikir-pikir dulu’.”

Mbak saya tertawa. Suami saya cepat-cepat ganti track. Track kedua: lagu yang sama, versi akustik.


Jam delapan kurang lima, kami akhirnya masuk tol. Kilometer pertama kami tempuh dalam empat menit, dan kami semua menyangka ini adalah keajaiban. Kilometer kedua butuh tujuh menit. Kilometer ketiga, lima belas menit. Setelah itu kami berhenti menghitung.

Di depan ada truk gandeng yang oleng karena ban kanannya kempes setengah. Di sebelah kami, mobil pribadi dengan plat genap di hari ganjil — pengemudinya mencoba terlihat tidak panik sambil terus melihat ke arah polisi yang berdiri di pos. Polisi tersebut, kami lihat dari jendela, sedang asyik nonton sesuatu di handphone-nya. Mungkin tutorial cara nge-tag orang di TikTok. Mungkin video kucing.

Anak saya bertanya kapan kami sampai. Saya bilang setengah jam lagi. Saya selalu bilang setengah jam lagi. Anak-anak di bawah sepuluh tahun belum punya konsep waktu yang akurat, dan saya berniat memanfaatkan ini sampai dia masuk SMP.


Mbak saya mengeluarkan termos kecil dari tasnya. “Saya bawa wedang jahe. Mau?”

Saya hampir menangis. Tidak karena terharu — karena saya baru sadar saya lupa sarapan, dan badan saya mulai memberi sinyal-sinyal yang biasanya muncul tepat sebelum saya marah pada orang yang tidak bersalah.

Suami saya, yang mungkin merasakan getaran emosi yang mulai naik di kursi sebelah, berinisiatif memutar track ketiga. Track ketiga: lagu yang sama, versi DJ.

“Pa, ini lagu yang tadi lagi.”

“Ini beda, Nak. Yang tadi versi asli. Yang ini versi remix.”

“Suaranya sama persis.”

“Liriknya beda.”

“Liriknya sama.”

Anak saya, sembilan tahun, sudah lebih jeli daripada generasi seumuran saya saat menonton MTV di studio. Saya bangga. Saya juga lelah.


Pukul sepuluh, kami sampai pintu tol Cawang. Empat belas kilometer dalam tiga jam empat puluh menit. Suami saya, yang seharusnya sudah di kantor satu setengah jam lalu, mengirim WhatsApp ke timnya: “Maaf, ada urusan keluarga mendadak. Bisa di-reschedule jam dua belas?” Tim suami saya membalas dengan dua emoji jempol dan satu emoji cry-laughing. Mereka semua tinggal di Bekasi, atau di BSD, atau di Bogor. Mereka sudah hafal alur ini.

Anak saya tertidur di kursi belakang dengan mulut sedikit terbuka. Mbak saya memandang jendela, sudah tidak takjub lagi pada jembatan layang. Saya membuka WhatsApp Mama saya dan menulis: “Bu, kapan-kapan kita ngajak Mbak balik Yogya lewat kereta aja ya, biar gak trauma.”

Suami saya, di kursi pengemudi, memutar track keempat. Track keempat: lagu yang sama, versi orkestra. Anak saya mengaduh kecil dalam tidurnya, mungkin bermimpi tentang kemacetan yang abadi.

Di radio, penyiar pagi membaca laporan lalu lintas dengan suara yang terlalu ceria. “Pukul sepuluh tepat. Selamat pagi semua! Jakarta hari ini cerah, suhu 31 derajat, lalu lintas padat merayap di Tol Dalam Kota. Tetap semangat ya!”

Saya menutup mata dan berdoa agar lagu kelima bukan versi orkestra yang sama.

Track kelima dimulai. Lagu yang sama, versi orkestra dengan paduan suara anak-anak.

Saya berdoa lebih keras.


— Tol Dalam Kota, 28 Mei 2026

← Semua cerpen Genre Komedi →