Tukang Bakso Live TikTok
7 Juli 2026 · 547 kata
Bang Toha, 48 tahun, tukang bakso gerobakan di Setiabudi One sejak 2010. Lokasi parkir gerobak: trotoar dekat halte TransJakarta Setiabudi Astra. Buka pukul empat sore sampai pukul sebelas malam.
Sejak tiga bulan lalu, dia mulai TikTok Live. Setiap hari pukul tujuh malam, dia menyalakan HP — Oppo A78 yang dia beli cicilan — di tripod kecil yang dia pasang di atas gerobak.
Live-nya namanya: Bakso Bang Toha (Live Tiap Sore).
Followers minggu ini: 47.000.
Yang dia lakukan di live: jualan bakso seperti biasa. Bedanya, dia ngobrol dengan kamera. Dia kasih lihat proses rebus mie. Dia balas komentar penonton. Dia pakai filter — paling sering filter “Wajah Bayi” yang membuatnya tampak chubby dan polos.
Komentar penonton tipikal:
Bang baksonya 1 mangkok berapa? Bang bisa GoFood? Bang ke Surabaya kapan? Wajah bayinya ngeselin haha.
Bang Toha jawab satu-satu. Sambil ngangkat mie pakai saringan. Sambil ngocok kuah. Sambil teriak ke pelanggan yang lewat, “Mas, mau pesen?”
Omzet sebelum live: Rp 350 ribu/hari. Omzet sesudah live: Rp 850 ribu-1 juta/hari.
Anak sulung Bang Toha, Rendi, 21 tahun, semester lima jurusan Ilmu Komunikasi di universitas swasta di Salemba. Dia tahu bapaknya live TikTok dari teman kuliahnya — yang menemukan akun bapaknya secara tidak sengaja di FYP.
Rendi datang ke gerobak bapaknya, Sabtu sore.
“Pak.”
“Eh, Rendi. Mau bakso?”
“Pak, bapak live TikTok pakai filter wajah bayi?”
Bang Toha terdiam dua detik. Lalu dia tersenyum lebar.
“Iya. Penonton suka.”
“Pak, itu memalukan.”
“Memalukan gimana? Omzet naik tiga kali lipat, Ren.”
“Pak, itu cringe.”
“Cringe apa?”
“Filter wajah bayi, Pak.”
Bang Toha mengangkat HP dari tripod. Dia putar layar ke Rendi. Live sedang berjalan. Komentar penonton:
Bang anaknya yang itu? Ganteng. Halo Mas Rendi. Mas ikut live dong.
Rendi menatap layar. 1.247 viewer real-time.
Rendi duduk di kursi plastik samping gerobak. Bang Toha menyalakan filter wajah bayi lagi. Dia kembali ke kamera.
“Halo semua. Ini anak gw Rendi, dia kuliah komunikasi. Katanya gw cringe.”
Komentar membanjir.
Hai Rendi. Rendi cuek bener. Bang ajak Rendi live dong tiap hari.
Rendi menatap HP itu. Dia menatap bapaknya yang pakai filter wajah bayi sambil ngomong ke kamera. Dia menatap pelanggan yang datang — antrian sudah lima orang.
Dia melepas masker. Dia menatap kamera.
“Iya, gw anaknya. Bapak gw aneh.”
Komentar membanjir lagi.
Hahaha jujur. Mas Rendi ganteng. Bapak Toha terima kasih jujur ya hahaha.
Rendi tinggal sampai live selesai pukul sembilan malam. Dia bantu ngangkat mangkok kotor. Dia ngangkat kompor portabel.
Sebelum pulang ke kos di Manggarai, dia menatap bapaknya.
“Pak, omzet beneran segitu?”
“Beneran. Tabungan udah lumayan.”
“Buat apa?”
“Buat kamu lulus, Bapak gak utang lagi.”
Rendi diam. Dia mengangguk. Dia tidak komentar lagi soal filter.
“Pak.”
“Apa?”
“Filter-nya jangan tiap hari pakai bayi. Variasi.”
“Apa yang bagus?”
“Filter kucing kadang-kadang. Penonton TikTok suka.”
Bang Toha mengangguk. Dia mengeluarkan HP. Dia mencatat di Notes: Filter kucing — kata Rendi.
Senin sorenya, Bang Toha live pakai filter kucing. Telinga lancip di atas kepala. Hidung pink kecil.
Omzet Senin malam: Rp 1.2 juta.