← Kembali

Slice of Life · Lebak Bulus · 3 menit

Magang Naik MRT Lebak Bulus

Tia, 21 tahun, semester enam jurusan Manajemen di universitas swasta di Jaksel, masuk gerbong MRT di Stasiun Lebak Bulus Grab pukul setengah delapan pagi. Hari kerja keempat magang. Kantor di Wisma 46 Sudirman.

Dia berdiri di gerbong nomor tiga. Pegangan tangan kanan. HP di tangan kiri. Earphone berkabel Sennheiser — KW dari Shopee Rp 38 ribu — di telinga.

Tapi telinga kiri tidak ada suara. Hanya telinga kanan yang jalan.

Dia tidak mengganti earphone. Sudah dua minggu seperti itu. Sebenarnya dia mau beli yang asli, tapi belum sempat ke Roxy.


Lagu pertama di playlist Spotify-nya hari ini: “About You” — The 1975.

Vokal masuk di telinga kanan. Bass-nya hilang. Drum-nya separuh. Versi mono mendadak.

Dia tidak peduli. Lagu masih lagu.


Penumpang di sekitarnya, pagi ini: dua bapak-bapak kantoran dengan tas Aigner imitasi, satu mbak yang sedang scroll TikTok dengan volume agak keras sampai Tia bisa dengar walaupun pakai earphone, seorang ibu dengan anak balita yang sedang nangis pelan, dan satu mahasiswi yang Tia kira dia kenal dari kampus tapi setelah dilihat lebih jelas — bukan.

Di Stasiun Fatmawati, dua bapak turun. Ibu dengan balita juga turun.

Di Stasiun Cipete Raya, mahasiswi yang mirip kenalan Tia juga turun. Ternyata bukan satu kampus.

Tia masih berdiri. Gerbong masih sesak. Dia tidak dapat tempat duduk.


Lagu kedua: “Sunday Best” — Surfaces.

Tia bergerak sedikit ke ritme. Bukan joget — hanya goyangan kepala yang hampir tidak kelihatan. Bapak-bapak di sebelahnya, 40-an, lihat dari sudut mata. Tia tidak peduli.

Dia membuka WhatsApp di tangan kanannya — sambil tetap pegangan tangan kanan. Susah. Ada cara: jepit HP di antara dua jari, scroll dengan jempol.

Pesan dari atasannya, Pak Aryo:

Tia, lagi di mana? Brief urgent dari klien jam 8.

Tia balas: Otw Pak. MRT sebentar lagi sampai HI.

Pak Aryo balas: Oke.


Stasiun Senayan. Beberapa orang turun, lebih banyak yang masuk. Tia tergeser ke pojok gerbong. Sekarang dia menempel ke pintu yang tertutup.

Lagu ketiga: “Cinta Luar Biasa” — Andmesh.

Tia sebenarnya tidak masukin lagu ini ke playlist commute-nya. Pasti Spotify random fitur “smart shuffle.” Dia mendengar tiga detik. Dia tekan skip.

Lagu keempat — yang dia memang masukin: “Sucker” — Jonas Brothers.


Di Stasiun Dukuh Atas BNI, Tia turun. Lima menit dari masuk MRT.

Di eskalator naik, dia melepas earphone. Lagu masih jalan di HP-nya. Dia matikan dengan tombol power Spotify di lock screen.

Di pintu keluar Dukuh Atas, dia membuka GoFood. Dia order Americano dari kedai dekat kantor — Rp 28 ribu plus delivery Rp 12 ribu. Driver-nya nanti datang ke lobby kantor.

Dia jalan ke Wisma 46. Tiga menit dari Dukuh Atas.


Di lobby, dia tap kartu visitor magang. Dia naik lift ke lantai dua puluh delapan. Dia masuk kantor.

Pak Aryo sudah di mejanya. Dia mengangguk ke Tia.

“Brief klien jam delapan ya. Sebentar lagi.”

“Iya, Pak.”

Tia duduk di meja magangnya — meja kecil di pojok, tanpa drawer. Dia buka laptop. Dia menerima notifikasi GoFood: Americano sudah sampai lobby.

Dia turun lagi ke lobby. Dia ambil Americano. Dia kasih bintang lima ke driver. Dia kasih tip Rp 3 ribu.

Dia naik lift lagi. Earphone-nya yang setengah mati dia masukkan ke saku tas. Hari ini, di kantor, dia tidak butuh musik.


— Lebak Bulus, 10 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →