Mobil Komando Lewat Bintaro
12 Juni 2026 · 524 kata
Pukul sembilan pagi hari Minggu, Maya sedang menidurkan anaknya kembali. Risa, dua tahun, baru tidur jam tujuh tadi setelah semalaman batuk dan rewel.
Maya berbaring di samping Risa di kasur lantai kontrakan Bintaro Sektor 9. Lampu dimatikan. Tirai ditutup. AC nyala di 26 derajat.
Lalu suara itu datang.
“Pilih Caleg Hartono nomor urut sebelas! Hartono! Untuk Bintaro yang lebih maju! Hartono!”
Pengeras suara mobil komando. Volume penuh. Lewat di depan rumah pelan-pelan. Suara musik dangdut campur, lalu jingle partai, lalu nama Pak Hartono diulang-ulang dengan irama yang sengaja dibuat catchy.
Risa membuka matanya.
Maya menahan napas. Dia mengelus kepala Risa pelan. “Tidur lagi sayang.”
Risa menangis. Tangisan kecil dulu, lalu meningkat. Mobil komando sudah lewat — tapi di gang berikutnya, tiga puluh meter dari rumah Maya, mereka berhenti. Berhenti! Untuk apa?
Maya mendengar volume pengeras suaranya naik lagi.
“Saudara-saudara warga Bintaro Sektor 9! Pilih Hartono! Hartono!”
Risa menangis lebih keras.
Maya bangun. Dia menggendong Risa. Dia berjalan ke ruang tamu, menjauh dari jendela.
Suaminya, Andre, sedang main PS5 di ruang tengah. Dia langsung menatap Maya.
“Si bocah?”
“Bangun. Lagi.”
Andre menatap jendela. “Mobil komando ya?”
“Iya.”
Andre menghela napas. Dia mematikan PS5. “Mau aku keluar negur?”
“Buat apa, Bang? Mereka cuma kerja.”
Andre mengangguk. Dia membuka kulkas. Dia mengambil susu UHT cokelat — dia tahu kalau Risa menangis pagi-pagi, susu cokelat yang menenangkan.
Mobil komando masih di gang. Sepuluh menit. Akhirnya pelan-pelan menjauh — terdengar ke arah Sektor 7.
Maya duduk di sofa, Risa di pangkuannya, susu UHT cokelat di tangan kanan. Risa minum dengan sedotan. Tangisannya berhenti.
Andre duduk di sebelahnya.
“Mi, mau aku posting di Twitter?”
“Posting apa?”
“Komplain ke akun Pak Hartono. Mention Bawaslu.”
Maya menggeleng. “Bang, gak usah. Capek.”
“Tapi mereka salah, Mi. Hari Minggu, jam segini, di area perumahan.”
“Iya, mereka salah. Tapi mau ngapain juga. Risa sudah bangun. Sudah tenang. Sudah.”
Andre terdiam. Dia mengangguk pelan.
Pukul sepuluh, Risa mau tidur lagi. Maya membawanya ke kamar. Dia berbaring di sebelahnya. Risa tertidur dalam lima belas menit.
Maya tetap berbaring. Dia mendengar di luar — kicauan burung, suara motor lewat sesekali, anjing tetangga menggonggong di kelokan gang.
Dia mengeluarkan HP-nya. Dia membuka Instagram. Reels pertama yang muncul: video kampanye Hartono. Senyum, jabat tangan, slogan “Untuk Bintaro yang Lebih Maju”.
Dia menggeser. Reels kedua: meme tentang anak kecil yang dibangunkan mobil komando. 47 ribu like.
Dia menggeser lagi. Reels ketiga: video masak nasi goreng spesial.
Maya menonton resep nasi goreng. Tidak karena dia tertarik masak. Karena dia ingin pikirannya jauh dari Hartono.
Siang itu pukul dua belas, Andre memesan ShopeeFood. Nasi goreng dari warung dekat Bintaro Plaza. Risa makan dua suap. Maya makan setengah piring.
Sore, mobil komando lewat lagi. Kali ini partai berbeda. Jingle berbeda. Nama caleg berbeda. Lewat di depan rumah pelan-pelan, lima menit.
Risa lagi makan biskuit Marie Susu. Dia mendengar suara mobil komando, lalu menoleh ke Maya.
Maya hanya tersenyum. “Bising ya, sayang.”
Risa kembali ke biskuitnya.