Ojol Hafal Lagu Tata Janeeta
4 Juli 2026 · 538 kata
Mas Yono, 41 tahun, ojol Gojek sejak 2017. Honda BeAT hitam, plat B-3847-XYZ. Tinggal di kos petak di Tanjung Duren Selatan. Anak satu, kelas tiga SD, di Bekasi sama ibunya.
Dia menerima order pagi ini pukul setengah delapan. Tanjung Duren ke kantor di Slipi. Penumpang: Dini.
Dia datang lima menit, helm pinjaman di tangannya. Dini sudah nunggu di depan kos. Dia naik. Mas Yono nyalakan motor.
Speaker Bluetooth kecil di setang motor — Mas Yono pakai itu setiap ngojek — menyala. Dia menekan play.
Lagu Tata Janeeta. “Sang Penggoda.”
Dini, di belakang Mas Yono, mendengar intro lagu. Dia tersenyum tipis di balik masker.
“Pak, lagunya enak.”
“Iya, Mbak. Tata Janeeta.”
“Saya tahu.”
Mas Yono tidak menjawab. Motor jalan ke S. Parman.
Di lampu merah, lagu masuk ke chorus. Mas Yono menyenandungkan pelan. Dini, di belakang, ikut menyenandungkan. Tidak keras. Hanya samar.
Lagu selesai. Berganti ke “Bukan Cinderella.”
Dini sekarang menyenandung lebih jelas.
Sampai di kantor Dini, di Slipi, perjalanan empat belas menit. Tujuh lagu Tata Janeeta seluruhnya sudah lewat. Dini bayar di GoPay — Rp 22.000 plus tip Rp 5.000.
Sebelum dia turun dari motor, dia menanyakan, “Mas, playlist-nya ini cuma Tata Janeeta?”
“Iya, Mbak. Sejak 2008.”
“Sejak album yang mana?”
“Kedua.”
“Sang Penggoda.”
“Iya.”
Dini mengangguk. “Bapak hafal semua lagunya?”
“Tujuh lagu. Hafal.”
“Saya juga.”
Mas Yono menatap Dini. Dini menatap Mas Yono. Helm Dini masih di tangannya.
“Mbak, lain kali order ojek pagi, kalau ada saya, saya hafal Mbak suka yang mana.”
“Saya juga punya request.”
“Apa, Mbak?”
“‘Bukan Cinderella’ nya dua kali. Yang sekarang kependekan.”
Mas Yono tertawa. Dia mengangguk.
Dini turun. Dia masuk lobby kantor. Mas Yono jalan ke ojol parking. Order baru masuk — Slipi ke Tomang. Dia accept.
Sampai di Tomang, dia drop penumpang lakinya yang tidak bicara sepanjang jalan. Dia menerima rating bintang lima.
Pukul setengah sebelas, dia istirahat di warteg pinggir jalan Tanjung Duren Raya. Pesan nasi sayur asem, ayam goreng, sambal. Total Rp 18.000.
Dia membuka GoPay. Tip dari Dini masuk — Rp 5.000 tadi pagi. Notifikasinya saja: Tip dari customer. Komentar: “Lagu kedua harusnya ‘Bukan Cinderella’.”
Mas Yono tertawa di warteg. Mas warteg menatap dia.
“Kenapa, Pak Yono?”
“Nggak. Penumpang tadi pagi lucu.”
“Cewek?”
“Iya. Tata Janeeta fan juga.”
Mas warteg menatap Mas Yono lima detik. Lalu dia tertawa.
“Pak Yono, tujuh lagu doang kok belum bosen?”
“Mas, tujuh lagu itu cukup buat ngojek sampai pensiun.”
Sore itu, Mas Yono dapat order lagi. Tanjung Duren ke Mall Taman Anggrek. Penumpang: bukan Dini.
Dia menjalankan playlist Tata Janeeta seperti biasa. Penumpangnya — bapak-bapak 60-an — tidak menyenandungkan apa pun. Hanya minta volume diturunkan.
Mas Yono turunkan volume.
Sampai di mal, bapak itu turun. Mas Yono jalan kembali ke ojol parking. Dia menaikkan volume lagi.
“Sang Penggoda” mulai dari awal. Mas Yono menyenandungkan sambil menyetir, sendirian, di tengah macet S. Parman pukul setengah enam sore.
Di kos malam itu, dia menerima pesan dari GoPay — bukan tip, hanya cashback. Tapi notifikasi di apps Gojek menunjukkan: Customer Dini menyimpan profil Anda sebagai favorite driver.
Mas Yono mengangguk pada layar HP-nya. Dia tidur dengan playlist Tata Janeeta yang masih jalan di Bluetooth speaker, volume rendah, sampai baterai habis sendiri menjelang subuh.