← Kembali

Drama · Kota Tua · 5 menit

Reuni di Cafe Batavia

Reuni angkatan SMA kami diadakan di Cafe Batavia, Kota Tua. Sepuluh tahun kelulusan. Yang mengorganisir Sari — anak yang dulu paling pendiam di kelas, sekarang founder startup AI di Singapore, terbang khusus untuk acara ini. Yang datang sekitar tiga puluh dari sembilan puluh. Yang konfirmasi datang empat puluhan; yang nggak datang di hari H ada sepuluh, alasannya bervariasi. Macet. Anak rewel. Lupa.

Aku datang pukul setengah delapan, lima belas menit telat. Cafe Batavia di malam Sabtu memang ramai. Lampu kuning, kayu tua, suara orkestra di lantai dua. Sari sudah berdiri di pintu masuk, dengan name tag yang dia bikin sendiri di Canva.

“Maya! Senang lihat kamu. Sini, tag-nya.”

Sari menyerahkan name tag dengan nama lengkapku, tahun masuk dan keluar SMA, dan satu kata kunci yang dia pilih dari Instagram-ku: Designer. Aku menempelkan name tag itu di blusku.

“Sari, terima kasih ya. Acara keren banget.”

“Buat angkatan kita doang. Sekali aja seumur hidup, mau yang serius.”


Aku jalan ke meja tengah. Di sana sudah duduk lima orang — Dimas, Vito, Lenny, Anin, dan Bayu. Mereka semua dulu satu kelas denganku di kelas tiga IPA dua. Dimas sekarang advokat. Vito buka kafe specialty di Bandung. Lenny dokter spesialis kandungan. Anin tinggal di Belanda. Bayu… aku belum dapat info tentang Bayu.

Mereka semua menyambutku dengan pelukan, ciuman pipi, tepuk bahu. Vito narik kursi kosong di sebelahnya. Anin langsung nunjuk ke menu wine. Dimas pesan softdrink karena dia bawa mobil. Lenny ngeluh tentang anaknya yang sakit cacar, tapi dengan nada yang bisa dibedakan: bangga, bukan stres.

Bayu duduk paling pojok. Dia tidak terlalu banyak omong.

Aku belum melihat Bayu selama sepuluh tahun. Wajahnya tidak banyak berubah — masih tipis, masih dengan jenggot pendek yang dia coba pertahankan sejak kelas dua. Tapi tatapannya beda. Lebih tenang. Atau lebih cape. Susah dibedakan.


Sekitar pukul sembilan, Anin mulai membuka cerita-cerita lama. Tentang guru biologi yang nyontekin jawaban ke murid kesayangannya. Tentang Lenny yang dulu naksir Bayu tapi gak pernah berani bilang. Lenny menutup wajah dengan tangan, tertawa, “Anin, lo gak boleh buka cerita itu di depan suaminya nanti!”

“Lenny suamimu udah tahu kok, kayaknya.”

“Iya udah tahu, tapi gak perlu di-reminder lah.”

Vito balas, “Lenny kalau tau cerita ini, kamu masih akan nikahin Bayu?”

Lenny mengangkat alisnya. “Mungkin. Mungkin enggak. Tapi yang penting aku gak ditakdirkan ketemu Bayu lagi pas sekolah.”

Semua tertawa. Bayu juga tertawa kecil. Aku perhatikan tawanya — pendek, hampir tidak terdengar, dengan mata yang tidak ikut tertawa.

Aku rasanya tahu sesuatu yang teman-temanku belum tahu.


Pukul setengah sebelas, kebanyakan teman sudah pulang. Aku berjalan keluar dari Cafe Batavia. Bayu sudah di pinggir trotoar, menelepon. Aku mendekat pelan.

“Bayu.”

Dia menoleh. Memberikan senyum kecil. “Maya.”

“Lo bukan kerja di Jakarta lagi ya?”

“Engga. Aku di Bali sekarang.”

“Bali?”

“Pindah dua tahun lalu. Setelah Lina meninggal.”

Aku diam. Lina adalah pacar Bayu sejak kelas tiga. Aku tahu mereka menikah delapan tahun lalu. Aku tidak tahu Lina meninggal. Tidak ada yang memberi tahu — atau mungkin ada yang memberi tahu, tapi aku tidak ingat. Sepuluh tahun adalah waktu yang panjang untuk kabar tidak sampai.

“Bayu, aku… gak tahu. Maaf.”

“Gak apa-apa. Aku gak banyak share.”

“Apa yang terjadi?”

“Kanker payudara. Cepat. Setahun dari diagnosis ke meninggal.”

Bayu mengatakannya dengan datar. Bukan datar karena tidak peduli. Datar karena dia sudah dua tahun bercerita kalimat yang sama ke orang yang sama-sama tidak tahu.

“Anak kalian gimana?”

“Ada satu. Cowok, lima tahun. Sekarang sama mertuaku di Yogya. Aku mau ngambil dia bulan depan, mau ngajak ke Bali.”


Kami berdiri di trotoar Kota Tua. Lampu kuning. Orang berjalan kesana-kemari. Becak ontel berhenti di samping kami. Aku tidak tahu apa yang harus dibilang. Sepuluh tahun lalu kami satu kelas dengan Lina di IPA dua. Lina yang selalu juara umum, yang tinggi, yang tertawanya keras. Lina yang aku kira akan jadi salah satu dari teman SMA yang masih kuingat dengan jelas saat aku tua nanti.

Sekarang Lina tidak ada. Bayu sendiri.

“Bayu,” aku berkata akhirnya, “kalau ke Jakarta lagi, jangan reuni lagi yang lo telepon. Coba telepon aku aja. Aku tau Sari maksudnya baik, tapi reuni gini…”

“Gak akan ada lagi yang lo butuh dengar tentang Lina dari aku.”

“Bukan itu maksudku. Maksudku, kadang lo butuh ketemu satu orang aja, bukan tiga puluh.”

Bayu menatap aku. Pertama kalinya malam itu matanya ikut bergerak. Dia mengangguk pelan.

“Iya. Mungkin lo bener.”

Dia pulang dengan Grab ke hotel. Aku pulang dengan Grab ke Tebet. Pukul sebelas lima belas, di Grab, aku menerima notifikasi WhatsApp dari Bayu — sebuah foto Lina dari tahun terakhir SMA, di lab biologi, sedang tertawa karena Dimas baru saja salah ngomong.

Aku menyimpan foto itu. Aku tidak membalas pesannya malam itu.

Tapi besok pagi, aku balas — pelan, panjang, jujur. Tentang Lina, tentang sepuluh tahun, tentang kenapa orang-orang yang dulu kita kira akan selamanya ternyata cuma sebentar saja.

Bayu balas dua jam kemudian. “Terima kasih, Maya. Kapan-kapan ke Bali.”

“Pasti.”

Kami berdua tahu “kapan-kapan” itu mungkin tidak akan datang. Tapi kami berdua menulisnya seakan akan datang. Itu yang penting.


— Kota Tua, 19 Mei 2026

← Semua cerpen Genre Drama →