Tukang Solder HP di Roxy
13 Juli 2026 · 520 kata
Roxy Mas, lantai dasar, Blok B Nomor 47. Kios berukuran 1.5 x 2 meter. Meja kerja di tengah, dua kursi plastik untuk pelanggan, satu kursi sandaran untuk Pak Iman.
Di atas meja: solder station Hakko KW (kerja sama dengan yang asli, tapi separuh harganya), microscope digital, multimeter, blower hot air, dan stok IC kecil di kotak organizer plastik.
Pak Iman, 39 tahun, buka kios pukul sepuluh pagi sampai pukul sembilan malam. Sudah dua belas tahun di Roxy.
Pelanggan pertama hari ini: mahasiswi 20-an, masalah layar Samsung A52 retak.
“Mas, bisa diperbaiki?”
“Bisa. Ganti LCD.”
“Berapa?”
“Original 800 ribu, KW 350 ribu.”
“KW aja, Mas.”
“Tunggu satu jam. Sambil minum kopi di Excelso.”
Mahasiswinya angguk, kasih HP, ambil bon, dan pergi ke arah eskalator.
Pak Iman buka casing. Lepas baut-baut kecil — empat baut di bawah, dua di samping. Lepas konektor flex cable. Ganti LCD. Tutup casing. Tes layar.
Empat puluh lima menit. Beres.
Pelanggan kedua: ibu 50-an, baterai iPhone XR drop, baru 30 persen sehari.
“Pak, harus ganti baterai?”
“Iya, Bu. Ini umur baterai sudah 3 tahun lebih.”
“Original Apple bisa?”
“Bisa, 750 ribu. Atau yang KW kualitas A, 400 ribu.”
“Original aja, Pak.”
“Tunggu dua jam, Bu. Kalo perlu pesen dulu ke supplier.”
Ibu itu mengangguk. Dia keluar untuk ke food court.
Pak Iman menelepon supplier-nya di lantai dua. “Wa, baterai iPhone XR original ada? Satu.”
“Ada. Dua puluh menit gw anter.”
Pelanggan ketiga: bapak 45-an, kemeja batik, datang dengan iPhone 12 yang casingnya sudah dibuka pakai obeng kembang yang salah.
“Pak Iman, ini kemarin saya mau bersihkan sendiri.”
“Casing-nya?”
“Iya.”
Pak Iman melihat HP itu. Casing belakang dilepas paksa. Lem kering pecah. Satu klip plastik di dalam patah. Lebih parah: IC board ditemukan penyok di pojok.
“Bapak ketuk pakai apa?”
“Obeng minus.”
Pak Iman menatap bapak itu. Lima detik. Dia tidak bicara.
“Pak, ini IC board-nya penyok. Saya tidak bisa servis. Harus ganti motherboard. Itu sama dengan beli HP baru.”
“Pak Iman, ayo lah.”
“Pak, saya tukang solder, bukan tukang sihir.”
Bapak itu marah. Dia ambil HP-nya. “Yaudah.” Dia jalan keluar tanpa bayar — Pak Iman tidak charge, karena memang dia tidak servis apa-apa.
Pak Iman menatap punggung bapak itu sampai dia hilang ke arah lift.
Pelanggan keempat datang pukul satu siang. Pemuda 25-an, masalah IC charger Vivo Y15.
“Mas, charger gak masuk port.”
“Lihat dulu.”
Pak Iman pakai microscope. Dia lihat port USB-C. Ada serpihan plastik biru di dalam port — sepertinya pecahan dari kabel yang dipaksa.
“Mas, charger kemarin patah di dalam?”
“Iya, Mas. Saya nggak sengaja.”
“Lima belas menit. 50 ribu.”
Pak Iman ambil tweezer presisi. Dia keluarkan serpihan plastik satu-persatu. Lima belas menit memang. Selesai. Dia tes — charger masuk, mengisi.
Pemuda itu bayar lewat QRIS. Dia ucap terima kasih dan pergi.
Pukul dua siang, supplier dia datang dengan baterai iPhone XR. Pak Iman bayar Rp 500 ribu cash. Dia pasang baterai untuk ibu yang tadi pagi.
Ibu itu kembali dari food court pukul setengah tiga. Baterai sudah terpasang. Tes — baterai naik dari 0 ke 100 dengan stabil.
“Pak, terima kasih ya.”
“Sama-sama, Bu.”
Ibu itu bayar Rp 750 ribu tunai.
Pak Iman memasukkan uang ke laci. Dia menatap meja. Stok IC, tinggal sedikit. Besok dia perlu order lagi dari supplier di lantai dua. Pukul tiga sore sekarang. Masih enam jam sebelum tutup.