← Kembali

Politik · Pasar Minggu · 3 menit

Spanduk Wagub di Pasar Minggu

Pukul lima pagi, Bang Edi sampai di Pasar Minggu. Dia turun dari motor Vespa-nya yang sudah berusia lebih lama daripada anak pertamanya. Dia menarik kunci gembok kios.

Kios buahnya — nomor 47, lorong B, blok timur — sudah dia sewa sejak 1999. Dua puluh tujuh tahun. Apel dari kulkas, jeruk dari Medan, salak dari Pondoh, pisang dari Lampung.

Dia menengadah ke atap kios.

Ada spanduk baru. Dua meter kali enam meter. Wajah Wakil Gubernur. Senyum yang dipraktekkan. Slogan: Bersama Wagub, Pasar Lebih Maju.

Bang Edi tidak ingat spanduk itu ada kemarin sore.


Pak Yono, pemilik kios sebelah — kios sayur, nomor 46 — datang sepuluh menit kemudian.

“Wah, Bang Edi sekarang dapat spanduk Wagub.”

“Bukan saya yang pasang, Pak Yon.”

“Saya tahu. Malam tadi, sekitar jam 11, ada tiga orang naik tangga. Saya lihat dari pos hansip. Mereka pasang cepat banget. Lima belas menit jadi.”

“Ada izin?”

“Tahu saya. Mereka bilang ke Pak Hansip katanya ‘tugas dari Pak Lurah’.”

Bang Edi mengangguk. Dia mulai menyusun apel di rak depan.


Pukul tujuh pagi, pembeli mulai berdatangan. Ibu-ibu yang ke pasar untuk belanja mingguan. Mereka memilih jeruk, menimbang salak, menawar harga.

Salah satu pembeli, Bu Sumi — ibu rumah tangga 50-an, langganan Bang Edi sejak tahun 2010 — menengadah ke atap.

“Bang Edi sekarang dukung Wagub?”

“Bukan, Bu. Itu dipasang malam tadi tanpa izin.”

“Lho, kok bisa? Kios ini kan punya Bang Edi.”

“Saya sewa dari PD Pasar, Bu. Bukan punya saya benar-benar.”

Bu Sumi menggeleng. Dia memilih jeruk. “Kasian Bang Edi. Mau diapakan?”

“Sementara begini dulu, Bu. Saya gak punya tangga.”

Bu Sumi tertawa kecil. Dia menyerahkan jeruk pilihannya. Bang Edi menimbang. 17.500 rupiah per kilo. Total 28 ribu.


Pukul sembilan pagi, satu staffer Wagub datang. Pria 30-an, kaos berlogo partai, celana jeans.

“Pak, ini Pak Edi ya?”

“Iya.”

“Pak, terima kasih ya sudah mau dipasang spanduk Pak Wagub.”

Bang Edi menatap staffer itu. Lima detik. Lalu menjawab, “Mas, saya gak pernah dimintain izin.”

Staffer itu tersenyum tipis. “Pak, kami kira sudah dikoordinasikan oleh PD Pasar.”

“Belum, Mas. Saya tahu pagi tadi.”

“Wah, maaf Pak. Kalau ada masalah, nanti kami komunikasikan.”

“Saya gak komplain, Mas. Saya cuma kasih tahu fakta.”

Staffer itu mengangguk. Dia memberi kartu nama. “Pak, kalau ada apa-apa, kontak saya ya.”

Bang Edi menerima kartu. Dia menyimpannya di laci kasir.


Sampai pukul satu siang, spanduk Wagub masih di atas kios Bang Edi. Bang Edi tetap menjual buah. Pembeli tetap datang. Beberapa bertanya soal spanduk. Bang Edi memberi jawaban yang sama: tidak ada izin, tapi dia tidak akan mencopot karena tidak punya tangga.

Pukul tiga sore, Pak Lurah datang. Dengan staffer Wagub yang tadi. Dia minta maaf langsung ke Bang Edi.

“Pak Edi, ini miskoordinasi. Saya minta maaf.”

“Iya, Pak Lurah.”

“Mau kami copot sekarang?”

Bang Edi berpikir sebentar. Lalu menjawab, “Tidak usah, Pak. Biar sampai pemilu selesai saja.”

Pak Lurah dan staffer Wagub bertukar pandang. “Beneran, Pak?”

“Iya. Kalau dicopot sekarang, malah ramai. Biar di atas situ saja.”

Pak Lurah mengangguk pelan. Mereka pamit.


Sore itu, Bang Edi menutup kios pukul setengah enam. Spanduk Wagub masih di atas. Bang Edi menggembok pintu kios. Dia naik Vespa-nya. Dia pulang ke rumahnya di Kalibata.

Di belakang, spanduk wagub menyala sedikit, kena lampu jalan pasar yang baru menyala.


— Pasar Minggu, 9 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Politik →