Survei Lewat WhatsApp
11 Juni 2026 · 533 kata
Pukul sebelas malam, Dimas berbaring di kasur di kos Joglo. AC nyala di 24 derajat. HP-nya menyala dari WA yang masuk.
Nomor tidak dikenal: Halo! Kami dari LSI Survei Independen. Boleh kami minta 30 detik waktu Anda untuk satu pertanyaan? Jika di pemilu mendatang Anda harus memilih hari ini, siapa yang akan Anda pilih?
Empat tombol di bawah:
- Capres A
- Capres B
- Belum tentukan
- Tidak akan memilih
Dimas mengklik Capres A. Bukan karena dia yakin. Karena Capres A yang paling sering muncul di Reels-nya minggu lalu.
Pesan balasan otomatis: Terima kasih atas partisipasinya! Survei ini anonim dan suara Anda berarti bagi demokrasi Indonesia.
Pukul setengah satu pagi, Dimas tertidur. Pukul setengah delapan, dia bangun untuk kelas online. Dia membuka HP.
Notifikasi Instagram: 37 akun baru mengikuti Anda.
Dimas mengangkat alis. Followers dia biasanya stagnan di 1.247. Pagi ini 1.284.
Dia membuka tab follower. Akun-akun baru: kebanyakan tanpa foto profil, username random — user82091, bagas_2010, indonesia_jaya88. Beberapa akun aktif dengan foto orang asli, tapi feed-nya kosong.
Dimas menggeleng. Dia anggap glitch. Dia masuk Zoom kelas Pengantar Ilmu Politik. Dosen sedang membahas konsep “agenda setting”.
Siang itu, pukul satu, Dimas membuka HP lagi setelah kelas. Notifikasi: 213 akun baru mengikuti Anda.
Dia menatap layar. Dia me-scroll daftar follower. Sebagian besar akun bot. Beberapa memberi like ke post lama Dimas — post tentang isu lingkungan dari tahun lalu, post tentang demo BBM dua minggu lalu.
Dia memeriksa Reels yang dia like minggu ini. Lima dari sepuluh Reels terakhir yang dia like adalah dari akun resmi tim Capres A.
Dia membuka WA lagi. Nomor tidak dikenal yang semalam mengirim survei — masih ada di chat list-nya. Dia mencoba buka. Profil kosong. Foto tidak ada. Status: Hai, saya memakai WhatsApp.
Dia mencoba menelepon nomor itu. Tidak aktif.
Sore, Dimas video call temannya, Bara. Bara mahasiswa Komunikasi UI.
“Bar, gw dapat survei WA semalam. Habis itu follower IG gw naik 200.”
“Bro, lo masuk database mereka. Kontak lo dijual ke caleg.”
“Caleg yang mana?”
“Lo pilih siapa di survei?”
“Capres A.”
“Ya udah, follower lo dari tim Capres A.”
Dimas terdiam. “Bar, ini legal?”
“Legal di mata hukum mungkin gak jelas. Tapi etis? Gak.”
“Gimana cara nyetop?”
“Gak bisa stop bro. Data lo udah ke mana-mana. Best lo bisa: hati-hati di survei berikutnya.”
Malam itu, Dimas buka kembali chat WA dengan nomor surveinya. Dia menulis:
Tolong hapus data saya.
Tidak ada balasan.
Dia mengirim lagi: Saya cabut partisipasi survei.
Tidak ada balasan.
Dia memblokir nomor itu. Dia menatap layar HP. Akun follower baru di IG sekarang sudah 312. Dia memeriksa lagi — beberapa akun bot bahkan mention dia di komentar post-post lama, kalimat-kalimat yang terlalu rapi: Setuju mas, generasi muda harus melek politik!
Dimas menutup IG. Dia menutup HP. Dia menatap langit-langit kos.
Di luar, Joglo masih ramai. Motor lewat, ada penjual mi ayam dorong yang membunyikan ting-ting kayu, ada anak kecil tertawa di kelokan gang.
Dimas tidur dengan HP dimatikan total. Pertama kalinya sejak SMA.