Tukang Pijat Tunanetra Depan Rumah Sakit
2 Juni 2026 · 760 kata
Pak Karim duduk di kursi plastik biru di trotoar depan RSCM Salemba. Sudah dua puluh dua tahun. Dia tunanetra sejak lahir, mulai pijat di trotoar ini saat usianya tujuh belas — diajar tukang pijat lain yang lebih tua, yang sekarang sudah meninggal lima tahun lalu.
Bisnisnya kecil. Satu kasur tipis di trotoar, satu papan tulisan “PIJAT TUNANETRA Rp 50.000 / 60 MENIT”, satu termos teh hangat. Pelanggannya sebagian besar keluarga pasien rumah sakit yang menunggu — bapak-bapak yang istrinya operasi, ibu-ibu yang anaknya rawat inap, anak-anak yang orang tuanya stroke.
Mereka datang ke Pak Karim bukan karena sakit punggung. Mereka datang karena mereka butuh seseorang yang menyentuh mereka tanpa minta apa pun, dengan tarif yang transparan, dengan suara yang lembut.
Saya tahu Pak Karim karena saya juga pernah jadi pelanggannya. Tujuh tahun lalu, ayah saya operasi di RSCM. Dua minggu rawat inap. Saya menemani ibu yang lebih tua, yang lebih lelah, yang menolak duduk di kursi tunggu yang dingin.
Hari kelima rawat inap ayah, ibu saya menyerah dan tidur di kursi tunggu. Saya keluar mencari udara. Saya menemukan Pak Karim di trotoar dengan papan tulisannya. Saya tidak butuh pijat, tapi saya butuh duduk. Saya duduk di kursi plastik kuning yang dia simpan untuk pelanggan menunggu.
Dia tidak bicara dulu. Dia hanya melanjutkan pijat pelanggannya — seorang bapak yang tertidur sambil dipijat. Setelah selesai, dia membersihkan tangannya dengan handuk kecil, lalu menoleh ke arah saya.
“Mas, mau pijat?”
“Tidak, Pak. Saya cuma duduk.”
“Boleh.”
Tidak ada yang dikatakan lebih dari itu. Saya duduk di kursi kuningnya selama empat puluh menit. Dia memijat satu pelanggan lagi sambil bersenandung kecil — lagu yang saya tidak kenal, lagu yang mungkin dia sendiri yang gubah.
Saya kembali ke kamar ayah saya merasa lebih tenang. Saya tidak tahu kenapa. Saya hanya tahu bahwa dudukku di kursi plastik kuning Pak Karim, dengan suara senandungnya di latar, telah memberi saya sesuatu yang ruang tunggu rumah sakit tidak bisa.
Ayah saya tidak selamat dari operasi kedua. Dua bulan setelah saya pertama duduk di kursi kuning Pak Karim, ayah saya meninggal.
Saya kembali ke RSCM untuk urusan administrasi, mengambil sertifikat kematian. Saya lewat trotoar Pak Karim. Dia masih ada, masih dengan papan yang sama, masih dengan termos teh hangat.
Saya berhenti. Pak Karim memutar wajahnya ke arah saya — saya yakin dia mengenali langkah saya entah bagaimana, atau mungkin hanya merasakan ada orang berhenti.
“Mas, mau pijat?”
“Tidak, Pak. Saya cuma mau bilang terima kasih.”
Dia tersenyum. Saya bisa lihat dia tidak tahu untuk apa terima kasihnya. Tapi dia menerima.
Saya memberi dia seratus ribu — uang yang tidak banyak buat saya, mungkin banyak buat dia. Dia menerima dengan dua tangan. Dia tidak menanyakan untuk apa. Mungkin dia tahu juga.
Saya pergi.
Sekarang, tujuh tahun setelah ayah meninggal, saya masih lewat trotoar Pak Karim kalau saya kebetulan di Salemba. Saya tidak selalu berhenti. Tapi setiap kali saya lewat, saya tahu dia masih di sana — duduk di kursi plastik biru, dengan papan yang sama, dengan termos yang mungkin sudah ganti tiga kali tapi tetap berisi teh hangat.
Pelanggannya akan terus datang. Bukan untuk pijatnya. Untuk dudukan di kursi plastik kuning. Untuk senandung pelan di trotoar Salemba yang ramai.
Untuk diingat bahwa di antara klakson dan ambulans dan deret kursi tunggu yang dingin, masih ada orang yang bisa menyentuh kepala kita dengan lembut, tanpa diagnose, tanpa form yang harus diisi, tanpa biaya yang menanti-nanti di kuitansi.
Itu yang Pak Karim jual. Bukan pijat. Pijat hanya alasannya.