Tukang Sayur Pikulan Kompleks
25 Mei 2026 · 700 kata
Pak Min, 60-an, mengangkat pikulan sayur ke pundaknya pukul tiga subuh. Beratnya 50 kilo — kangkung, bayam, kacang panjang, tomat, cabe, bawang merah, jeruk nipis. Dia berjalan tiga kilometer dari rumahnya di Kampung Petukangan ke kompleks-kompleks di Cilandak.
Pertama masuk ke Kompleks Mawar pukul setengah lima pagi. Pelanggan tetap: 23 ibu-ibu yang sudah hafal jadwal Pak Min. Mereka berdiri di depan rumah masing-masing, menunggu, sambil mengelap sayur yang dipilih dari pikulan.
Kemudian ke Kompleks Melati. Lalu Kompleks Anggrek. Lalu kembali ke Kampung Petukangan via Kompleks Cempaka. Total: empat kompleks, tujuh jam, 73 pelanggan tetap.
Pukul sepuluh pagi, Pak Min sampai di rumahnya. Pikulan kosong. Kantong celana penuh uang receh dan beberapa lembar uang ribu rupiah. Sekitar Rp 350.000 — untung bersih hari itu.
Pak Min punya satu anak. Adi, 22 tahun, sedang kuliah di Institut Teknologi Bandung. Tahun ketiga. Jurusan teknik elektro. Beasiswa parsial — bayaran kuliah dipotong 50%, tapi biaya hidup tetap dari Pak Min.
Adi tidak tahu bahwa bapaknya masih jualan sayur pikulan. Sembilan tahun lalu, ketika Adi masih SMP, Pak Min mengaku berhenti jualan dan ganti kerja di kantor PT (yang nama-nya tidak pernah dia sebut spesifik) sebagai office boy. Itu cerita yang Adi percayai sampai sekarang.
Kenapa Pak Min berbohong? Bukan karena malu. Pak Min tidak malu jualan sayur — tiga puluh tahun jualan sayur adalah karir yang dia banggakan. Pak Min berbohong karena Adi adalah anak yang sensitif, dan Pak Min tahu kalau Adi tahu, Adi akan berhenti kuliah dan kembali ke Jakarta untuk membantu bapaknya jualan.
Pak Min tidak mau itu. Adi adalah anaknya yang pertama dari tujuh saudara yang lulus SMA, satu-satunya yang akan jadi sarjana di keluarga Pak Min sejak generasi lima. Pak Min mau Adi jadi insinyur. Pak Min mau Adi kerja di kantor yang ber-AC. Pak Min mau Adi tidak pernah pikul beban 50 kilo selama 7 jam per hari.
Bu Sumiati, istri Pak Min, tahu rencana ini. Dia setuju. Mereka berdua adalah konspirator yang menutupi kenyataan kerja Pak Min dari Adi.
Setiap kali Adi telepon, Pak Min akan jawab dari rumah — bukan dari sela pikulan di Kompleks Cilandak. “Iya, Adi. Bapak baik. Hari ini di kantor.”
Setiap Lebaran, ketika Adi pulang, Pak Min libur seminggu dari pikulan. Dia pakai baju kemeja yang dia simpan khusus untuk Adi. Pakaian kerja office boy palsu.
Adi pernah sekali mau ke “kantor” bapaknya. Pak Min menjelaskan: “Wah, kantor tutup buat eksternal, Di. Mau kalau dipotret di depan, Bapak bisa kena masalah.” Adi mengangguk. Mau melindungi bapaknya.
Tiga bulan lalu, Adi dapat info dari sepupu tentang kondisi keluarga di Petukangan. Sepupu, di Whatsapp, “Adi, Pakdhe Min masih jualan sayur ya? Senin kemarin lihat dia di Kompleks Mawar bawa pikulan.”
Adi diam tiga hari. Lalu menelepon ibunya, Bu Sumiati. Tidak bertanya. Tidak menuduh. Hanya, “Bu, kenapa Bapak masih pikul sayur?”
Bu Sumiati menangis di telepon. “Maaf, Di. Bapak gak mau kamu tahu.”
“Saya berhenti kuliah, Bu. Saya pulang.”
“Tidak. Bapak akan bunuh diri kalau kamu pulang sekarang. Pak Min sudah tabung enam juta dari sayur untuk semester berikutnya. Kalau kamu pulang, dia tidak akan menerima itu. Dia akan kasih ke saya, dan dia akan terus pikul sayur tapi tanpa alasan.”
Adi diam lama. Lalu, “Bu, satu syarat. Bapak harus berhenti pikul sebagian. Hanya tiga kompleks. Saya akan kasih dua juta per bulan dari kerja sampingan. Bukan untuk kuliah. Untuk kebutuhan hidup mereka.”
Bu Sumiati: “Adi, kamu kerja sampingan apa?”
“Tutor matematika online untuk anak SMP. Saya sudah punya 8 murid. Saya bisa tabung dua juta sebulan dengan sisa untuk kebutuhan saya.”
Bu Sumiati menangis lagi. “Iya. Saya bilang ke Bapak.”
Sekarang, tiga bulan setelah percakapan itu, Pak Min hanya jualan tiga kompleks: Mawar, Melati, dan Anggrek. Cempaka di-skip. Berat pikulan turun ke 35 kilo. Selesai pukul delapan pagi.
Pak Min masih tidak tahu bahwa Adi tahu. Bu Sumiati simpan rahasia dengan baik. Adi telepon setiap minggu, ngomong dengan Pak Min seperti biasa, “Bapak, kantor gimana?”
“Lumayan, Di. Hari ini santai.”
Pak Min tidak tahu kapan dia bisa bilang ke Adi. Atau apakah dia bisa. Mungkin sampai Adi lulus, dia akan terus pura-pura.
Yang dia tahu: setiap pagi, dia bangun pukul tiga, pikul sayur 35 kilo, jalan ke Cilandak, jualan ke 50-an pelanggan, pulang pukul delapan dengan untung Rp 270.000. Hari yang sederhana. Hari yang dia bangun.
Untuk anak pertamanya yang akan jadi sarjana teknik elektro. Untuk dirinya sendiri yang lebih bahagia di pikulan daripada di tempat tidur tanpa pikulan.
Untuk siklus yang akan dia jaga sampai Adi wisuda. Dan setelah itu, mungkin pikulan akan jadi cerita masa lalu.
Mungkin.