← Kembali

Politik · Cilandak · 3 menit

Wawancara Caleg Muda

Niko tiba di kafe specialty Cilandak — namanya Hara Roastery — pukul setengah dua siang. Dia memesan Americano. 35 ribu. Dia membayar pakai QRIS BCA.

Wawancara podcast jam dua. Host-nya: Mas Yoga, content creator politik, 200 ribu subscriber di YouTube, tone-nya selalu santai tapi tajam.

Niko menatap papan kayu menu. Dia tidak benar-benar membaca. Dia mengulang di kepalanya jawaban yang sudah dia hafal dua minggu — dengan timnya, dengan konsultan komunikasi politik yang dibayar Rp 20 juta sebulan, dengan video latihan yang dia tonton di kamar kos Cilandak.


Mas Yoga datang pukul dua kurang lima. Dia bawa kameramen, asisten, dan satu set lighting LED kecil.

“Niko! Apa kabar bro?”

“Baik, Mas Yoga.”

“Santai aja ya. Kita ngobrol biasa.”

Niko mengangguk. Dia tahu “santai aja” artinya bukan santai.

Mereka setting di pojok kafe. Dua mic kondensor, satu Sony A7, satu Sony A7C buat angle dua. Tukang kamera memasang clip-on di kerah Niko.

“Test mic, Niko.”

“Test, test.”

“OK. Roll.”


“Niko, lo 26 tahun, dapil sembilan, partai progresif. Kenapa lo mau jadi caleg di umur segini?”

Niko mengambil napas. Dia menjawab: “Mas Yoga, generasi saya — Gen Z — sudah lama dipinggirkan dalam pengambilan keputusan politik. Saya merasa terpanggil untuk membawa suara anak muda ke parlemen. Saya ingin merepresentasikan aspirasi teman-teman saya.”

Jawaban itu, dia tahu, terdengar seperti video latihan. Mas Yoga mengangguk. Lanjut.

“OK. Tapi banyak orang bilang caleg muda cuma jadi tameng partai. Lo bisa jawab itu?”

Niko menjawab: “Itu kekhawatiran yang valid. Tapi saya bergabung dengan partai progresif karena saya percaya platform mereka. Saya bukan tameng. Saya bagian dari gerakan.”

“Lo dapat dukungan finansial dari mana untuk kampanye?”

Pertanyaan ini tidak ada di latihan.

Niko terdiam dua detik. Dia menjawab: “Sebagian dari tabungan saya sendiri. Sebagian dari donasi keluarga dan teman. Saya tidak menerima dana dari korporasi.”

Mas Yoga mengangguk. Niko tahu Mas Yoga tidak percaya. Niko juga tahu sebagian dari “donasi keluarga” itu sebenarnya dari paman dia yang punya bisnis konstruksi.


Wawancara berlanjut 45 menit. Pertanyaan tentang pendidikan, lingkungan, ekonomi pemuda, magang berbayar. Niko menjawab semuanya dengan jawaban yang sudah dilatih.

Pukul tiga kurang seperempat, Mas Yoga mengakhiri. “Niko, makasih ya bro. Lo tampil bagus.”

“Makasih, Mas Yoga.”

“Episode ini live minggu depan. Gw notif lo.”

Mas Yoga dan timnya berkemas. Lighting dimatikan. Kamera dimasukkan ke tas.


Mas Yoga menawarkan, “Niko, kopinya gw bayarin ya.”

“Gak usah Mas. Saya sudah bayar tadi.”

“Beneran?”

“Beneran.”

Mas Yoga tertawa. “OK bro, fair enough.”

Mereka salaman. Mas Yoga pergi.

Niko duduk lagi di kursinya. Americano-nya sudah dingin. Dia menyeruput sisa. Pahit. Lemak susu di gelas sudah mengering di pinggir.


Pukul setengah empat, Niko keluar kafe. Dia naik Grab ke kos-nya di Cilandak — kos AC, 2,8 juta sebulan, dibayarkan pamannya yang konstruksi.

Di kos, dia tidur. Setengah jam.

Dia bangun pukul empat sore. Dia membuka HP. Tim kampanye sudah mengirim WA: Niko, gimana wawancara tadi?

Niko menjawab: Aman.

Mas Yoga puas?

Iya.

OK. Besok kita ada jadwal blusukan ke pasar Cipulir.

Niko menutup HP. Dia menatap langit-langit kamar. Dia menghitung: 234 hari lagi sampai pencoblosan.

Dia tidur lagi. Kali ini tanpa alarm.


— Cilandak, 10 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Politik →