Rebutan Colokan di Kopitagram
8 Agustus 2026 · 521 kata
Raka tahu persis berapa persen baterai laptopnya ketika dia masuk ke Kopitagram BSD City: tujuh persen. Cukup untuk panic, tidak cukup untuk santai.
Kopitagram yang ini ada di ruko deretan dekat perempatan Pasar Modern BSD. Bukan yang paling instagramable di Serpong, tapi Raka suka karena kursinya tidak terlalu rendah dan WiFi-nya tidak minta password tiap dua jam. Dia sudah kesini sejak bulan lalu, tiap Selasa dan Kamis, sejak kantornya resmi remote-first.
Dia langsung scan ruangan. Ada dua colokan yang dia tahu: satu di balik kursi barista (tidak bisa), satu di sudut kiri dekat rak buku pajangan. Dia jalan ke sana.
Colokan itu sudah ditempati charger MacBook warna putih. Belum ada orangnya.
Raka berdiri sebentar. Dia melihat sekeliling. Tas punggung warna olive diletakkan di kursi sudut, cangkir susu oat setengah penuh. Pemiliknya di toilet, mungkin. Atau memesan ulang.
Dia memutuskan untuk duduk di meja sebelah dan menunggu. Kalau colokan itu tidak terpakai, dia akan tanya baik-baik.
Dua menit kemudian seorang perempuan muncul dari arah kasir, bawa croissant di piring kertas kecil, langsung duduk di kursi olive itu. Dua puluh tahunan. Kaos polos hijau tua. Kacamata frame tipis. Dia membuka laptop — ThinkPad, model lama, stiker kecil di sudutnya: Ship It.
Raka menghela napas pelan.
“Permisi,” dia bilang. Perempuan itu mendongak. “Colokan-nya lagi kepake ya? Laptop gw mau mati.”
Perempuan itu melihat ke colokan, lalu ke Raka, lalu ke bawah meja. “Oh — charger gw juga lagi nancep. Tapi daya colokan-nya dua, kayaknya. Coba aja langsung.”
Raka jongkok, cek. Benar. Satu colokan dua lubang, baru satu terisi. Dia colok adapternya, duduk di lantai sebentar menunggu laptop menyala.
“Makasih,” katanya.
“Sama-sama.”
Raka naik ke kursi di meja sebelah. Laptop nyala. Dia buka VS Code, lanjut kerjaan — bug di API endpoint yang sudah dia defer dari kemarin.
Sepuluh menit kemudian, perempuan itu tiba-tiba bicara tanpa mendongak dari layarnya. “Lo pake TypeScript?”
Raka berhenti. “Iya. Keliatan?”
“Error message-nya keliatan dari sini.” Dia menunjuk ke arah layar Raka dengan dagu. “Itu type mismatch. Baris tiga puluh berapa tuh.”
Raka melirik layarnya. Dia memang buka editor mode split dan font-nya cukup besar. “Oh.” Dia scroll ke baris yang dimaksud. Benar. string | undefined dipaksakan ke string. Tiga hari dia putar-putar di situ.
“Makasih lagi,” katanya.
“Dua kali dalam sejam,” perempuan itu bilang, kali ini sambil senyum kecil ke layarnya sendiri. “Gw Dira.”
“Raka.”
Dira mengangguk dan balik fokus ke ThinkPad-nya. Raka juga. Croissant-nya dia gigit pelan-pelan tanpa mengalihkan pandangan dari kode.
Mereka tidak ngobrol lagi sampai pukul dua belas. Tapi Raka memesan kopi kedua, sesuatu yang biasanya tidak dia lakukan di Kopitagram.