← Kembali

Romansa · Kebayoran · 3 menit

Reuni Pernikahan Tetangga

Gedung serbaguna RT 04 Kebayoran Lama, Sabtu malam, pukul setengah delapan. Resepsi pernikahan anak Pak Yanto, ketua RW yang sudah dua periode. Bu Sumi datang sendirian, pakai kebaya hijau lumut yang dia simpan dari pernikahan adiknya tahun lalu.

Dia naik ojol dari rumahnya di Cipete. Lima belas menit. Macet sedikit di Wijaya.

Di pintu masuk, dia menulis di buku tamu. Sumiati. Cipete. Dia memberi amplop merah ke kotak di samping buku.

Dia masuk ke aula. Lampu kuning. Lagu organ tunggal — “Yang Pertama Kali” versi cover. Pengantin di pelaminan, ada tiga ratus tamu, sebagian besar warga kompleks.

Dia jalan ke meja prasmanan.


Di antrian sate ayam, di depannya, berdiri seorang lelaki berkemeja batik biru. Dia mengenali bahu itu sebelum mengenali wajahnya.

Hartono.

Bu Sumi berhenti tiga detik. Antrian gerak. Hartono pindah ke sate kambing. Dia belum melihat.

Pak Hartono — mantan suami Bu Sumi sejak 2004. Dua puluh dua tahun. Bu Sumi tahu Hartono pindah ke Tangerang setelah cerai. Dia tidak tahu Hartono masih akrab sama Pak Yanto.


Mereka bertemu di meja amplop, akhirnya. Pak Hartono yang melihat duluan.

“Sum.”

“Mas Har.”

Mereka diam empat detik. Lalu Pak Hartono mengulurkan tangan. Bu Sumi salaman. Salamannya, sebenarnya, hanya semestinya satu setengah detik. Mereka salaman empat detik. Lalu Bu Sumi menarik tangannya.

“Sehat?” Pak Hartono bertanya.

“Sehat. Mas?”

“Sehat. Anak-anak?”

“Sehat. Yang besar sudah kerja di Surabaya. Yang kecil masih S2.”

“Bagus.”


Mereka pindah dari meja amplop ke pinggir aula. Tidak duduk. Hanya berdiri di pojok dekat tiang.

“Kamu masih di Cipete?” Pak Hartono bertanya.

“Iya. Rumah yang dulu. Cuma sekarang sendirian.”

“Anaknya udah keluar semua?”

“Iya.”

“Sama siapa di rumah?”

“Sama kucing. Tiga ekor.”

Pak Hartono tertawa. Bu Sumi juga.

“Mas Har di Tangerang masih?”

“Pindah ke Bintaro. Lima tahun yang lalu.”

“Sama istri?”

Pak Hartono diam dua detik. “Istri saya meninggal tiga tahun lalu. Kanker.”

Bu Sumi mengangguk. Dia tidak bilang turut berduka — kata itu untuk teman, bukan untuk lelaki yang dia tinggalkan dua puluh dua tahun lalu. Dia hanya mengangguk dan melihat ke pelaminan.

“Anak Mas Har?”

“Dua. Yang besar di Australia. Yang kecil masih di Bintaro sama saya.”

“Bagus.”


Lagu organ tunggal pindah ke “Kemesraan.” Beberapa tamu mulai joget.

Pak Hartono menatap pelaminan. Bu Sumi menatap pelaminan. Mereka diam selama dua menit penuh — diam yang tidak canggung, hanya diam.

“Sum.”

“Iya, Mas.”

“Saya mau pulang dulu. Besok pagi saya ada visit ke cucu.”

“Iya, hati-hati.”

Pak Hartono menatap Bu Sumi. Dia tidak menyalami. Dia hanya mengangguk pelan.

“Sehat-sehat ya, Sum.”

“Mas Har juga.”


Pak Hartono keluar dari aula. Bu Sumi tidak ikut keluar. Dia ambil piring lagi — kali ini soto betawi — dan duduk di meja kosong dekat panggung.

Dia makan pelan-pelan. Dia tidak menangis. Dia tidak menulis pesan ke siapa pun. Dia hanya makan soto, menonton organ tunggal mengganti lagu ke “Bunga Surga”, dan menatap pengantin yang saling bertukar cincin.

Pukul sepuluh, dia pesan ojol pulang.

Di motor, di Jalan Wijaya, dia melewati BCA cabang Kebayoran. Lampunya menyala separuh — satpam sedang patroli. Lampu yang sama yang dia lihat dua puluh tahun lalu setiap kali pulang malam dari rumah Hartono.

Lampunya tetap kuning. Dia tetap pulang sendirian. Bedanya, sekarang tidak ada yang menunggu di rumah.

Bedanya cuma itu.


— Kebayoran, 30 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Romansa →