Ketemu Lagi di Puskesmas Gading
12 Agustus 2026 · 521 kata
Nomor antrean Raka: 47. Nomor yang dipanggil: 29.
Dia sudah duduk di ruang tunggu Puskesmas Kelurahan Pakulonan Barat sejak pukul delapan pagi. Sekarang hampir setengah sepuluh. Bangku plastik oranye di kirinya kosong. Di kanannya: seorang ibu dengan anak balita yang tidak berhenti bertanya kenapa lampunya warna-warni.
Raka membuka HP. Tidak ada yang penting. Dia menutupnya.
“Raka?”
Dia menoleh ke kanan. Bukan ibu itu. Perempuan yang baru duduk — dia tidak sadar kapan perempuan itu datang. Masker diturunkan ke dagu. Wajah yang tidak asing tapi Raka butuh dua detik, tiga detik—
“Winda?”
“Iya.” Perempuan itu tersenyum. “Kamu masih keliatan sama.”
Raka tidak tahu harus menjawab apa jadi dia tidak menjawab dulu.
Winda Kusumawati. Kelas lima dan enam SD Negeri Cisauk 3, sekitar 2002–2003. Rambut dikuncir dua. Duduk di baris kedua dari jendela. Raka ingat dia selalu punya pensil yang berbau buah-buahan.
Sekarang dia duduk di bangku plastik oranye yang sama, rambut pendek sebahu, bawa tas kerja hitam, dan nomor antrean 51 di tangannya.
“Dari mana sekarang?” tanya Raka.
“Tinggal di Cluster Atrium, belakang Summarecon. Kamu?”
“Grand Residences, dekat perempatan Scientia.”
Winda mengangguk. Dua orang yang dulu naik angkot yang sama dari Cisauk sekarang tinggal di kompleks perumahan yang jaraknya tidak sampai dua kilometer.
Mereka ngobrol. Tidak terlalu dalam, tidak juga basa-basi murni. Winda cerita dia kerja di HRD perusahaan logistik di BSD City — setengah jam dari sini kalau tidak macet. Raka bilang dia arsitek, proyek terakhir di Alam Sutera.
“Kamu masih ingat Bu Ningsih?” tanya Winda.
“Guru kelas lima?”
“Iya. Galak banget.”
“Tapi tulisannya bagus.”
Winda tertawa. Suaranya tidak berubah terlalu banyak.
Nomor 33 dipanggil dari dalam. Seorang bapak berdiri.
Raka tidak bertanya apakah Winda sudah menikah. Winda tidak bertanya juga ke Raka. Mereka sudah cukup umur untuk tahu bahwa pertanyaan itu butuh timing yang tepat, dan ruang tunggu puskesmas bukan tempatnya.
Tapi ketika nomor 47 akhirnya dipanggil — Raka berdiri, Winda masih duduk — ada sesuatu yang dia rasakan bukan sedih dan bukan bahagia. Lebih seperti menyadari bahwa dua puluh tahun berlalu dan dunia ternyata tidak sebesar yang dia kira waktu kecil.
“Semoga cepat selesai,” kata Winda.
“Kamu juga.”
Raka masuk ke bilik pemeriksaan. Dokternya muda, mungkin baru setahun dinas. Dia menanyakan keluhan. Raka menjawab: batuk dua hari, tenggorokan.
Dokter mengangguk, mengetik sesuatu.
Di luar, nomor antrean terus berjalan.