Kafe yang Sudah Tutup Tahun Lalu
22 Mei 2026 · 690 kata
Janji bertemu mantannya, Adit, di kafe yang sudah tutup tahun lalu memang ide yang aneh. Tapi Maya sudah setuju lewat WhatsApp tadi pagi tanpa berpikir lama. Adit menulis: Ketemu di Boulev, ya. Jam tujuh. Maya tahu Boulev — kafe specialty di Jalan Bangka II — sudah tutup sejak November tahun lalu, gulung tikar karena rent Kemang naik dua kali lipat setelah satu mall baru buka di sebelah. Tapi dia tidak meralat Adit. Dia hanya membalas: Oke.
Sekarang pukul tujuh kurang lima. Maya berdiri di trotoar di depan ruko yang dulunya Boulev. Sekarang ruko itu kosong, dengan kertas A4 tertempel di kaca, mengiklankan “DISEWAKAN” dengan nomor HP Cina yang sudah luntur dimakan matahari.
Adit datang pukul tujuh tepat, dari arah parkiran motor di gang sebelah. Dia berhenti di sebelah Maya, melihat kaca depan ruko yang gelap, lalu melihat Maya.
“Kafenya udah tutup,” kata Adit, seakan-akan baru menyadari.
“Iya.”
“Aku gak cek. Maaf.”
“Aku tahu kafenya tutup. Aku tetap datang.”
Adit terdiam. Maya tidak menjelaskan.
Mereka berjalan tanpa rute. Kemang malam Jumat selalu ramai — bar-bar yang menyala dengan neon, pasangan-pasangan yang naik motor pelan-pelan, mobil-mobil mahal yang parkir sembarangan di gang. Adit dan Maya berjalan lewat semua itu, tidak menyentuh tangan, tidak mengatakan hal-hal yang mereka pernah katakan dulu.
Adit pacar Maya selama empat tahun. Mereka putus pertengahan tahun lalu — tidak karena ada orang ketiga, tidak karena salah satu pindah kota. Mereka putus karena salah satu hari, di Boulev, Maya bilang: “Adit, aku pengen kita pisah. Aku gak tau kenapa, tapi aku tau kalau aku terus, aku akan bilang hal yang lebih jahat di kemudian hari.”
Adit, waktu itu, tidak melawan. Dia mengangguk. Dia bayar kopi. Lalu mereka jalan keluar Boulev untuk terakhir kalinya.
Sebulan kemudian Boulev tutup. Maya membaca dari Instagram. Dia menangis, bukan untuk Adit — untuk Boulev. Sesuatu di dirinya yang konyol merasa bahwa tempat itu tutup karena dia pernah bicara hal yang patut menutup sebuah tempat.
Sekarang, setahun setelah perpisahan, mereka berjalan beriringan di Kemang. Maya bilang, “Kamu apa kabar?”
“Baik. Kerja di tempat baru. Pindah ke Cipete.”
“Pindah dari Kemang?”
“Sewa Kemang naik lagi. Aku gak sanggup.”
“Aku juga pindah. Ke Tebet.”
“Lebih dekat ke kantor?”
“Lebih dekat ke ibuku.”
Adit mengangguk. Mereka berjalan lima menit lagi tanpa suara. Sampai mereka tiba di depan kedai kopi baru, yang neon-nya pink dan namanya tulisan tangan di chalkboard depan.
“Kita masuk?” tanya Adit.
“Boleh.”
Mereka masuk, pesan dua latte. Duduk di pojok belakang, di kursi kayu yang tinggi sekali. Maya melepas tasnya pelan-pelan. Adit menggosok pegangan cangkirnya.
“Aku tahu kenapa kamu setuju datang ke Boulev,” kata Adit akhirnya.
“Kenapa?”
“Karena kamu tahu Boulev udah tutup. Dan kamu tahu aku tahu. Dan kamu pengen lihat apakah aku tetap datang ke tempat yang udah gak ada.”
Maya menatap latte-nya. “Iya.”
“Aku tetap datang.”
“Iya.”
Hening. Maya akhirnya berkata, “Itu bukan undangan, Adit. Itu cuma… cek.”
“Cek apa?”
“Cek apakah kamu masih datang ke tempat-tempat yang aku pilih, meskipun aku gak ada di sana lagi.”
Adit menelan. “Hasilnya?”
“Hasilnya kamu datang. Tapi itu bukan jawaban yang aku butuh.”
Adit menatap Maya. Maya menatap Adit. Untuk pertama kalinya sejak duduk, Adit terlihat seperti orang yang dia kenal — Adit yang penuh emosi, Adit yang akan ngamuk kalau dipermainkan, Adit yang dia tinggalkan karena dia tidak mau dia jadi alasan emosi itu menetap.
Tapi Adit tidak ngamuk. Dia mengangguk pelan.
“Ya udah,” katanya. “Aku tetap pulang lewat Boulev tiap Jumat, Maya. Bukan untuk ketemu kamu lagi. Tapi karena pernah ada kafe di situ, dan kafe itu pernah ada kamu, dan dua-duanya udah gak ada. Aku belum siap kalau aku gak lewat sana.”
Maya menatap dia lama. Lalu meminum latte-nya.
“Aku juga lewat sana, kalau ke Kemang,” dia berkata.
“Aku gak akan ngajak kamu ngopi lagi, Maya.”
“Aku tahu.”
Mereka duduk di kafe baru itu sampai pukul sebelas malam. Mereka membicarakan kerjaan, ibu masing-masing, kucing baru di kos Adit. Tidak ada yang menyebut Boulev lagi. Tidak ada yang menyebut empat tahun mereka.
Pukul sebelas, mereka pulang ke arah yang berbeda. Adit jalan ke parkiran motornya. Maya naik Grab ke Tebet. Di mobil, Maya melihat dari jendela, dan dia bisa swear dia melihat Adit berhenti sebentar di depan ruko kosong Boulev, sebelum melanjutkan jalan ke motornya.
— Kemang, 22 Mei 2026