Cinta Pertama di SMA Negeri
29 Juni 2026 · 588 kata
Pak Heru parkir Avanza silvernya di SMAN 6 Pondok Indah pukul setengah tujuh pagi. Anak bungsunya, Daffa, kelas sebelas, masih di dalam mobil mengecek tas. Lupa botol minum.
“Ambil di tas yang lain, Pak. Atau beli aja di kantin.”
“Beli aja, ada uang?”
“Ada.”
Daffa turun. Dia berlari ke gerbang sekolah. Pak Heru tidak langsung pulang. Dia turun, menyalakan rokok — Djarum Super, kebiasaan tiga puluh tahun yang istrinya sudah berhenti komentari.
Di seberang parkiran, sebuah Honda Brio putih parkir. Seorang ibu turun. Rambut sudah beruban di samping kanan-kiri, dipotong pendek, profesional. Dia mengantar anak perempuannya — kelas dua belas, sepertinya.
Pak Heru menatap ibu itu lebih dari dua detik. Tiga detik, lima detik.
Bu Yati. Itu Bu Yati.
Tahun 1985. SMAN 6 baru saja berpindah ke gedung yang sekarang. Pak Heru — waktu itu Heru, kelas dua IPA — duduk di belakang Yati di kelas Matematika. Yati pintar. Heru tidak. Heru meminjam catatan Yati setiap Selasa selama satu semester penuh. Selalu mengembalikan hari Rabu.
Mereka tidak pacaran. Tidak pernah berani. Tahun 1985, kalau Heru menggenggam tangan Yati di kantin, satu sekolah akan tahu di hari berikutnya. Mereka jalan bareng dua kali — ke perpustakaan UI di Salemba, sekali, karena Yati butuh referensi untuk tugas Biologi. Sekali lagi ke Pasar Mayestik, untuk beli buku tulis.
Dua kali jalan, tidak ada yang dilamar, tidak ada yang dijanjikan. Tahun 1986, Yati lulus, masuk Kedokteran UI. Heru lulus, masuk Teknik Sipil Trisakti. Mereka tidak saling cari.
Empat puluh satu tahun.
Bu Yati melihat ke arah Pak Heru. Berhenti. Memicing matanya.
“Heru?”
“Yati.”
Bu Yati menyeberang parkiran. Dia berdiri lima langkah dari Pak Heru. Dia tidak memeluk. Pak Heru tidak menjabat tangan. Mereka hanya berdiri.
“Anakmu di sini juga?” Bu Yati tanya.
“Bungsu. Kelas sebelas.”
“Anakku kelas dua belas. Maya.”
“Yang itu tadi?”
“Iya.”
“Mirip kamu.”
“Lebih pintar dari aku.”
Pak Heru tertawa kecil. Bu Yati tertawa kecil.
“Kerja apa sekarang?” Pak Heru bertanya.
“Dokter di RS Pondok Indah.”
“Praktek di rumah juga?”
“Kadang.”
“Suami sehat?”
“Sehat. Tahun ini dia pensiun BUMN. Kamu?”
“Istri di rumah. Anak tiga. Kerja di kontraktor.”
“Masih main bola?”
“Lutut sudah tidak izinkan.”
Bu Yati tertawa lagi.
Anaknya Bu Yati, Maya, sudah masuk gerbang sekolah. Anaknya Pak Heru, Daffa, sudah hilang ke arah kantin.
Pak Heru mematikan rokoknya dengan sepatu di aspal parkiran.
“Aku harus ke rumah sakit,” kata Bu Yati. “Visit pukul delapan.”
“Iya. Aku juga ke kantor. Tol jam segini sudah macet.”
Bu Yati mengangguk. Dia menatap Pak Heru sekali lagi — agak lebih lama dari sekedar sopan, tapi tidak terlalu lama. Lalu dia jalan ke Brio-nya.
Sebelum dia membuka pintu, dia berbalik. “Heru.”
“Iya?”
“Catatan matematika tahun 1985 itu kamu kembalikan, kan?”
“Selalu. Setiap Rabu.”
“Bagus.” Dia tersenyum sebentar.
Pak Heru menunggu sampai Brio Bu Yati keluar dari parkiran. Lalu dia naik ke Avanza. Dia tidak langsung jalan. Dia duduk di belakang setir.
Dia membuka kotak di dashboard. Bukan untuk mencari apa-apa — hanya kebiasaan, kalau dia butuh menghela napas.
Di dalam kotak: STNK, BPJS card, dan satu permen mint yang sudah tiga bulan di sana.
Dia mengambil permen itu, membuka bungkusnya, memasukkan ke mulut. Lalu dia menyalakan mobil dan jalan ke kantor.