← Kembali

Slice of Life · Pasar Baru · 5 menit

Kedai Pak Wahid

Pak Wahid bangun pukul tiga subuh setiap hari. Dia menyalakan tungku, merebus air dalam panci aluminium yang sudut bawahnya sudah berlubang kecil dan disumpal dengan timah, lalu menggiling biji kopi Lampung yang dibawa adiknya sebulan sekali dari kampung. Kedai kopinya di Pasar Baru buka pukul lima. Pelanggan pertama biasanya datang pukul empat lewat lima, ketuk pintu samping, dan masuk lewat dapur seperti saudara sendiri.

Anaknya, Iqbal, pulang dari Belanda tahun lalu setelah delapan tahun di sana. Iqbal lulusan business management. Iqbal punya rencana.


“Pak, kalau kopinya kita upload ke aplikasi pemesanan, omsetnya bisa naik tiga kali lipat dalam enam bulan.”

Pak Wahid sedang menggiling biji di belakang. Dia tidak menjawab dulu. Setelah giling-an kelima, dia menjawab tanpa menoleh.

“Aplikasi yang mana?”

“Gojek, Grab. Bisa dua-duanya.”

“Lalu kalau pesanan banyak, siapa yang bikin?”

“Bapak yang bikin. Saya yang antar. Atau nanti kita rekrut satu orang lagi.”

“Berarti saya harus bikin kopi tanpa lihat pelanggan.”

“Ya, dari aplikasi.”

Pak Wahid berhenti menggiling. Dia mengangkat pandangan, melihat anaknya yang berdiri di samping etalase kayu. Wajah Iqbal masih anak-anak baginya, meskipun rambut depannya sudah mulai turun. Iqbal seperti ingin meneruskan sesuatu, tapi belum tahu apa yang sebenarnya akan dia teruskan.

“Iqbal,” katanya pelan, “kopi yang saya bikin itu bukan kopi.”

“Apa, Pak?”

“Itu obrolan. Kopi cuma alasannya.”


Iqbal pulang ke rumah malam itu dengan kepala penuh. Dia tidak setuju dengan ayahnya tapi tidak tahu cara membantah. Di Belanda, dia belajar bahwa setiap bisnis bisa di-scale. Setiap proses bisa di-otomatisasi. Customer experience adalah variabel yang bisa dioptimalkan. Tetapi dia juga tahu, dengan sangat jelas, bahwa pelanggan ayahnya tidak datang ke kedai untuk customer experience. Mereka datang karena Pak Wahid hafal cucu mereka. Pak Wahid hafal kapan istri mereka operasi. Pak Wahid hafal pukul berapa Pak Hadi biasanya datang dan akan menyimpankan kursi tertentu kalau Pak Hadi terlambat.

Tidak ada algoritma yang bisa menyimulasi itu.

Sebulan kemudian, Iqbal mendaftarkan kedai ke Grab. Tidak untuk pesanan kopi. Untuk pesanan kue basah yang dijual ibunya sebagai sampingan — onde-onde dan kue lapis. Pesanannya stabil, sehari dua puluh sampai tiga puluh kotak. Tidak revolusioner, tapi membayar tagihan listrik dan tiga bulan internet sekaligus.

Pak Wahid tidak menolak. Pak Wahid juga tidak ikut campur.


Pelanggan lama Pak Wahid mulai bertanya pelan-pelan, “Mas Iqbal yang ngirim kue itu sekarang?” Pak Wahid mengangguk sambil menyeduh. “Iya. Anak saya. Pulang dari Belanda.”

“Belanda?”

“Sekolah. Sekarang pulang.”

“Kembali ke kedai?”

Pak Wahid berhenti sebentar.

“Kembali ke Jakarta.”

Pelanggan itu mengerti. Itu jawaban yang dia inginkan — Iqbal kembali ke Jakarta, bukan ke kedai. Karena kedai bukan tempat. Kedai adalah Pak Wahid. Kalau suatu hari Pak Wahid pergi, kedai akan ikut pergi. Itu kenyataan yang tidak perlu diomongkan, hanya perlu dipahami sambil minum kopi yang pahitnya pas.


Sore itu, ketika kedai sudah mau tutup dan pelanggan terakhir baru saja keluar, Iqbal datang membawa laptop. Dia membuka spreadsheet ke ayahnya. Angka-angka penjualan kue selama dua bulan terakhir.

“Pak, kalau bapak izinkan, saya mau jual onde-onde ke kafe kopi specialty di Menteng. Mereka cari local snack. Margin kita bisa lebih bagus dari Grab.”

Pak Wahid melihat layar. Angka-angka itu tidak banyak artinya buat dia. Tapi tatapan anaknya, dia mengerti. Anaknya butuh sesuatu yang dia bisa kerjakan sendiri. Sesuatu yang dia bisa banggakan tanpa harus menyentuh sesuatu yang sudah jadi miliknya ayahnya.

“Boleh,” kata Pak Wahid.

“Bapak gak keberatan?”

“Onde-onde itu Ibu yang masak. Tanya Ibu.”

Iqbal tertawa kecil. “Saya udah tanya.”

“Bagus.”

Mereka berdua duduk di bangku panjang kedai itu sampai pukul setengah delapan malam. Pak Wahid menyeduh dua cangkir kopi terakhir hari itu, satu untuk dirinya, satu untuk Iqbal. Iqbal menyeruput dan pertama kalinya — pertama kalinya dalam delapan tahun — dia merasa kopi ayahnya sebenarnya enak. Bukan karena nostalgia. Karena memang enak. Karena baru kali ini dia minumnya tanpa keinginan untuk mengubahnya jadi sesuatu yang lain.


— Pasar Baru, 27 Mei 2026

← Semua cerpen Genre Slice of Life →