Pacar Diam Setelah Lebaran
27 Juni 2026 · 547 kata
Tiga hari setelah Lebaran, Dimas naik ojol ke Indomaret Cengkareng Indah. Dia butuh kopi sachet dan rokok. Pukul sebelas malam. Toko hampir kosong.
Salsa berdiri di rak alat tulis.
Dimas berhenti dua detik di pintu. Salsa tidak melihat dia. Salsa memegang dua pulpen — satu hitam, satu biru — dan menatap keduanya seperti pilihan itu serius.
Dimas masuk. Dia jalan ke rak rokok. Dia pesan Sampoerna Mild di kasir. Lalu dia jalan ke rak kopi. Rak kopi tepat di sebelah rak alat tulis.
“Hai,” kata Salsa.
“Hai,” kata Dimas.
Mereka tidak bicara apa-apa selama tiga puluh detik. Salsa masih memegang dua pulpen. Dimas mengambil dua bungkus Indocafe Coffeemix.
“Kapan balik?” Dimas akhirnya tanya.
“Sabtu.”
“Oh.”
Selama Lebaran, Salsa ke Padang. Dimas ke Wonosobo. Mereka pacaran enam bulan. Sebelum Lebaran, mereka WA-an setiap malam. Selama Lebaran, Salsa balas pesan Dimas hari ketiga dengan, “Lagi sibuk sama keluarga, nanti ya.”
Lalu diam.
Tiga hari Salsa di Jakarta lagi. Dimas tidak pernah dapat pesan.
“Beli pulpen?” Dimas tanya.
“Iya. Buat magang.”
“Magang dah mulai lagi?”
“Senin.”
“Oh.”
Salsa akhirnya pilih yang hitam. Dia menaruh yang biru kembali ke rak. Dia jalan ke kasir. Dimas mengikuti, tiga langkah di belakang.
Di kasir, Salsa bayar dengan QRIS. Dia tidak menunggu Dimas selesai bayar.
Dimas selesai bayar. Dia keluar. Salsa berdiri di parkiran motor, memegang HP, scroll TikTok.
“Pulang sama siapa?” Dimas tanya.
“Sendiri. Naik ojol.”
“Bareng aja, gw juga ojol.”
Salsa mengangkat kepala. “Beda arah, Mas.”
“Lo di mana sekarang?”
“Kos di Tanjung Duren.”
“Oh.” Dimas berhenti. “Lo pindah?”
“Iya. Senin kemarin.”
Dimas tidak menanyakan kenapa pindah. Dia tahu kenapa. Kos lama Salsa di Kemanggisan — lima belas menit dari kos Dimas di Kebon Jeruk.
Ojol Salsa datang duluan. Honda BeAT biru. Dia pakai helm pinjaman. Dia naik motor tanpa pamit ke Dimas. Dimas tidak bilang apa-apa.
Sebelum motornya bergerak, Salsa berbalik. “Mas.”
“Ya?”
“Maaf ya.”
“Buat apa?”
Salsa berpikir tiga detik. “Buat nggak balas WA lo.”
Motor bergerak. Salsa hilang di tikungan Cengkareng Indah Boulevard.
Dimas berdiri di parkiran sendirian. Ojol-nya masih lima menit lagi. Dia membuka HP. Dia membuka chat Salsa. Pesan terakhirnya, tujuh hari lalu: Sals lagi apa?
Centang dua, dibaca, tapi tidak dibalas.
Dia menutup HP. Dia memasukkan kembali ke kantong celana. Dia menyalakan rokok yang baru dibelinya. Asapnya tipis di udara Cengkareng yang dingin tiga hari setelah Lebaran — Jakarta yang penduduknya baru pulang separuh, masih sepi, masih agak asing.
Ojol Dimas datang. Dia naik. Dia tidak buka HP-nya lagi sampai sampai kos.
Di kamar, dia membuka Indocafe, menyeduh dengan air panas dari dispenser. Dia minum sambil duduk di kasur. Dia tidak nyalakan TV, tidak nyalakan musik. Hanya duduk dan minum kopi yang terlalu manis.
Pulpen hitam Salsa, dia bayangkan, sekarang sudah masuk ke tas magang Salsa di kos baru di Tanjung Duren.
Itu saja yang dia tahu pasti.