Pacar Pindah ke Bali
24 Juni 2026 · 578 kata
Karin memilih kafe ini, Brood House Cipete, karena dia bilang menu pastri-nya enak. Mereka sudah datang ke sini lima kali sejak pacaran tiga tahun lalu. Reza tidak pernah pilih menu — selalu Karin yang pesan dua croissant, satu Americano, satu cappuccino.
Pukul tujuh malam. Hari Jumat. Kafe ramai, tapi mereka dapat meja di pojok dekat jendela.
Karin meminum cappuccino-nya dulu. Lalu dia berkata, “Za, aku ada kabar.”
“Apa, Rin?”
“Aku diterima kerja di Bali. Mulai bulan depan.”
Reza meletakkan Americano-nya pelan-pelan. Dia menelan kopinya yang sudah ada di mulut.
“Bali.”
“Iya. Posisi senior content strategist. Gaji naik 40%. Plus tinggal di Canggu, satu lantai apartemen yang ditanggung kantor.”
Reza tidak langsung menjawab. Dia menatap croissant di piringnya. Setengah masih utuh.
“Sejak kapan kamu apply, Rin?”
“Bulan lalu. Aku gak bilang dulu karena aku gak yakin bakal lolos.”
“Tapi sekarang udah accept?”
“Iya. Kontrak udah ditandatangani Senin kemarin.”
Reza mengangguk. Pelan.
Dia menyeruput Americano. Pahit. Belum dingin tapi sudah hampir.
Karin menatap Reza. “Za, kamu marah?”
“Gak marah, Rin.”
“Tapi gak ngomong.”
“Aku lagi mikir.”
Karin menyentuh tangan Reza yang ada di meja. Hangat. Reza tidak menarik tangan, tapi juga tidak balas memegang.
“Za, kita bisa LDR.”
Reza menatap tangannya yang ada di bawah tangan Karin. Lalu menatap Karin.
“LDR berapa lama, Rin?”
“Kontrak dua tahun. Tapi bisa diperpanjang.”
Dua tahun.
Reza menarik napas. Dia mengangguk sekali. Lalu lagi.
“Aku perlu mikir, Rin.”
“Iya. Mikir aja.”
Mereka menghabiskan kopi tanpa banyak bicara. Reza menghabiskan Americano-nya pelan-pelan. Karin menghabiskan croissant Karin. Reza tidak menyentuh croissant-nya.
Pukul setengah delapan, mereka keluar dari kafe. Berdua jalan kaki ke parkiran motor di seberang.
“Za, aku boleh nginep di kontrakan kamu malam ini?”
“Boleh, Rin.”
Reza menyetir motor Honda Vario. Karin di belakang, memeluk pinggang Reza. Mereka melewati jalan Cipete Raya, lalu masuk ke jalan kecil ke kontrakan Reza di Cipete Selatan. 12 menit perjalanan.
Di kontrakan, Reza memarkir motor. Mereka masuk. Reza menyalakan lampu ruang tamu. Dia menaruh helm di rak.
Karin duduk di sofa. Dia membuka HP-nya, tidak benar-benar baca, lebih ke sekedar lihat layar.
Reza ke dapur. Dia merebus air. Dia menyiapkan dua mug — Indomilk untuk Karin, teh tawar untuk dirinya.
Mereka duduk berdua di sofa. TV mati. Lampu ruang tamu pelan.
“Za, kamu udah mikir?”
“Belum, Rin. Masih.”
“Aku gak butuh jawaban malam ini.”
“Iya.”
“Aku cuma butuh tahu kamu… gak benci aku.”
Reza menatap Karin. Lima detik penuh.
“Aku gak benci kamu, Rin.”
Karin mengangguk. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Reza. Reza meletakkan tangannya di pundak Karin.
Mereka diam. Lima belas menit. Mungkin lebih.
Pukul setengah sepuluh, Karin pamit ke kamar mandi. Reza tetap di sofa. Dia menyeruput tehnya yang sudah dingin.
Dia memikirkan Bali. Canggu. Apartemen. Pesawat dua jam, tiket sejutaan kalau low season. Mereka bisa ketemu sekali sebulan, kalau jadwal kerja Karin mengizinkan.
Atau bisa lebih jarang.
Karin keluar dari kamar mandi. Dia duduk lagi di sebelah Reza.
“Za, mau tidur?”
“Sebentar lagi.”
“Aku duluan ya.”
“Iya.”
Karin masuk ke kamar. Reza tetap di sofa. Dia menatap mug teh kosongnya. Lalu dia menatap pintu kamar. Lampu sudah dimatikan.
Reza duduk dua puluh menit lagi. Lalu dia berdiri. Dia masuk ke kamar.
Dia tidak menyalakan lampu.