← Kembali

Slice of Life · Pasar Senen · 4 menit

Pukul Empat di Pasar Senen

Pukul empat pagi, Pasar Senen sudah lebih ramai dari Mall Grand Indonesia di hari Sabtu. Bukan ramai turis — ramai pekerja. Pikulan sayur dari kebun di Bogor sudah masuk sejak pukul dua. Truk-truk ikan dari Muara Angke sudah parkir di belakang pasar. Lampu neon menyala terang di setiap kios, padahal matahari belum mau bangun.

Bu Mar buka kiosnya pukul setengah empat. Dia jualan sayur — bawang, cabe, tomat, sayur hijau yang berganti-ganti tergantung musim. Kiosnya di Blok C, baris ketiga, satu sebelum ujung. Dia sudah berdagang di sana sejak tahun 1994, ketika dia baru menikah dan suaminya masih bekerja sebagai sopir bus PPD.

Suaminya meninggal tahun 2017. Anak-anaknya — dua perempuan, satu laki-laki — sudah punya keluarga sendiri. Yang sulung di Bekasi, yang tengah di Bandung, yang bungsu di Tangerang. Bu Mar tinggal sendiri di rumah kecil di Kemayoran. Naik angkot pertama pukul tiga lebih lima belas setiap hari, sampai Pasar Senen sebelum azan subuh.


Pukul empat pagi, pelanggan pertama datang. Pak Suparman, ahli grosir restoran Padang di Cikini. Dia beli setiap pagi — bawang merah lima kilo, cabe rawit dua kilo, daun jeruk satu plastik besar. Bu Mar sudah hafal. Dia menyiapkan pesanan Pak Suparman sebelum Pak Suparman tiba.

“Bu Mar, hari ini berapa?”

“Dua ratus enam puluh delapan ribu, Pak. Bawang baru, agak mahal.”

“Saya bayar pakai aplikasi ya, Bu. QRIS yang itu?”

“Iya, Pak. Yang di samping wadah cabe.”

Pak Suparman tap HP-nya ke QRIS. Bayar lunas. Bu Mar mendengar bunyi “ding” dari ponselnya. Dia tidak melihat layar — dia sudah hafal bunyi itu artinya transfer berhasil.


Pukul empat lebih dua puluh, seorang pemuda berdiri di depan kios Bu Mar. Tinggi, kurus, baju kaos abu-abu, ransel di punggung. Dia tidak terlihat seperti pembeli. Dia hanya berdiri.

Bu Mar mengangkat pandangan. Dia menyipitkan mata. Dia memakai kacamata baca, dan kacamata baca tidak bagus untuk melihat jauh. Tapi setelah dua detik, dia tahu.

“Adi?”

Pemuda itu — Adi, cucu Bu Mar dari anak sulung — mengangguk pelan.

“Iya, Mbah.”

Adi belum pernah ke pasar ini. Adi anak Bekasi. Adi sekarang sudah dua puluh tiga, kuliah di Bandung, sebentar lagi lulus. Terakhir bertemu Bu Mar lima tahun lalu, di rumah anak Bu Mar yang sulung, saat Lebaran. Setelah itu Adi sibuk kuliah. Adi tidak datang dua Lebaran berturut-turut. Anak sulung Bu Mar bilang, “Adi ada kepanitiaan, Ma. Maaf ya.”

Bu Mar selalu mengangguk dan bilang, “Yang penting Adi sehat.”

Sekarang Adi berdiri di depan kiosnya, pukul empat dua puluh pagi.

“Adi, kok pagi-pagi sekali?”

“Aku habis dari kosan teman di Salemba, Mbah. Tadi malam kerja kelompok. Pulang ke Bandung naik kereta jam enam. Aku pikir… mampir lihat Mbah dulu.”

“Mbahmu di sini?”

“Mama bilang Mbah biasanya di Pasar Senen subuh.”

Bu Mar terdiam. Anaknya yang sulung tidak pernah menelepon dia lebih dari sekali sebulan. Tapi ternyata anak sulungnya tahu Bu Mar masih jualan di pasar, tahu jam berapa, tahu di mana. Mungkin selama ini anaknya tidak datang bukan karena tidak peduli — karena malu. Karena malu Bu Mar masih harus jualan di subuh-subuh, sementara dia tinggal di rumah dengan dua kamar mandi.


“Mbah, Adi bawa kue. Mama yang bikin.”

Adi mengeluarkan dari ranselnya sebuah kotak plastik biru. Isinya kue lapis legit. Bu Mar membuka, melihat lapisannya rapi, warnanya coklat dan kuning bergantian, harum vanilanya tercium dari jauh.

“Mama yang bikin?”

“Iya, Mbah. Tadi malam. Mama bilang, ‘kalau jadi mampir Pasar Senen, kasih ini ke Mbah.’”

Bu Mar memegang kotak itu. Kotak itu masih agak hangat di bawahnya. Anaknya membakar kue lapis legit tengah malam dan membungkusnya untuk dititipkan ke cucunya. Kue lapis legit butuh tiga jam masak. Anaknya menyisihkan tiga jam dari tidurnya.

Bu Mar menahan air mata. Dia tidak boleh menangis di pasar. Pasar pukul empat pagi bukan tempat untuk menangis. Pasar pukul empat pagi adalah tempat untuk berdagang.

“Adi,” kata Bu Mar pelan, “ini Mbah simpan dulu di lemari es. Adi udah sarapan?”

“Belum, Mbah.”

“Bu Mariam di seberang jual nasi uduk yang enak. Mbah tolong belikan, ya? Ini lima puluh ribu.”

Adi mengambil uangnya. “Iya, Mbah.”

Adi berjalan menyeberang gang ke kios Bu Mariam. Bu Mar memandanginya dari kursinya. Lima tahun, dan dia tetap mengenali cucunya dari cara dia menyenggol bahunya saat berjalan — sama persis seperti ayahnya, anak sulung Bu Mar, yang ketika sebesar Adi juga selalu berjalan dengan bahu yang sedikit miring ke kanan.

Bu Mar tersenyum. Hari ini akan jadi hari berdagang yang biasa. Tapi di lemari es kios kecilnya, ada kue lapis legit dari anak yang baru-baru ini dia kira sudah lupa pada dia.


— Pasar Senen, 20 Mei 2026

← Semua cerpen Genre Slice of Life →