Pertemuan Kedua di Sarinah
25 Juni 2026 · 564 kata
Dimas tiba di Sarinah pukul setengah empat sore. Sabtu. Cuaca panas. AC mall berfungsi terlalu kencang, dia harus pakai jaket walau di luar 32 derajat.
Janjian pukul empat, di Kopi Tuku lantai dasar Sarinah.
Dia memilih meja di pojok, dekat dinding kayu. Dia memesan dulu untuk dirinya — Es Kopi Susu Tetangga. 22 ribu rupiah. Dia membayar pakai QRIS.
Dia menatap pintu masuk. Setiap lima menit. Dia tidak yakin Sherly akan datang.
Sherly datang pukul empat tepat. Dia memakai dress katun warna mustard, sepatu kets putih. Rambutnya digerai. Dia tersenyum begitu melihat Dimas.
“Hai.”
“Hai, Sher.”
Sherly duduk. Dia menaruh tas di kursi di sampingnya. Dia membuka menu. Dia memesan Kopi Susu Reguler, ukuran medium.
Mereka diam dulu. Tiga detik.
“Sher, makasih udah mau ketemu lagi.”
“Iya, Dim. Kenapa juga gak mau.”
Dimas mengangguk. Dia menyeruput es kopinya. Manis. Dia memikirkan kalimat berikutnya.
“Sher, kerjaan masih sama? Di startup itu?”
“Iya. Sudah dua tahun di sana.”
“Capek?”
“Lumayan. Tapi tim-nya nyaman. Bos saya gak ngeselin.”
“Bos gak ngeselin itu langka, Sher.”
Sherly tertawa kecil. “Iya. Yang itu doang yang bikin saya bertahan.”
Pesanan Sherly datang. Dia menyeruput. Dia mengangguk. “Enak.”
Dimas mengangguk balik.
“Dim, kamu masih di Pejaten?”
“Iya. Belum pindah. Kontrak baru naik enam bulan lalu, tapi nilainya masih bisa dibayar.”
“Berapa Pejaten sekarang?”
“3,4 juta. Studio. Cukup buat saya.”
“Saya pernah mikir pindah ke Pejaten. Tapi macet ke kantor saya di Kuningan. Tetep di Tebet aja.”
“Tebet enak, Sher. Banyak makanan.”
“Itu juga yang bikin saya nambah berat 4 kilo tahun ini.”
Dimas tertawa. Sherly tertawa balas.
Pukul lima sore, kopi mereka sudah habis. Mereka memesan dua minuman lagi — kali ini Dimas pesan teh tarik, Sherly Lemon Squash.
Topik berlanjut. Film. Sherly baru tonton Past Lives minggu lalu di Bioskop XXI Plaza Senayan.
“Bagus banget, Dim. Pelan banget, tapi gak boring.”
“Saya udah tonton di awal tahun. Saya juga suka.”
“Yang scene di akhir, di Brooklyn—”
“Iya, scene yang nunggu Uber. Saya suka itu.”
Mereka membahas film selama 20 menit. Tidak hanya plot, tapi soal apa yang film itu coba bilang tentang kehidupan yang tidak dipilih.
Sherly menatap Dimas. “Dim, kamu pernah mikir ‘what if’ kayak gitu?”
Dimas terdiam. Dia menyeruput teh tariknya.
“Pernah, Sher. Tapi saya gak terlalu lama mikir. Capek.”
Sherly mengangguk. “Iya. Saya juga gak terlalu lama.”
Pukul setengah tujuh, mereka keluar dari Kopi Tuku. Mereka jalan-jalan di Sarinah, ke toko buku Books & Beyond di lantai 2. Sherly memilih satu novel terjemahan — Banana Yoshimoto. Dia tidak beli. Dia hanya membaca sinopsis dan menaruhnya kembali.
Pukul setengah delapan, mereka keluar dari Sarinah. Di pintu, mereka berhenti.
“Sher, makan?”
“Saya sudah janjian sama temen sebenarnya, Dim. Di Pejompongan jam delapan.”
“Oh.”
“Tapi… mungkin kita ketemu lagi minggu depan?”
Dimas menatap Sherly. Dia tersenyum kecil.
“Boleh. Saya WA kamu nanti malam.”
“Oke.”
Sherly memesan Grab. Dimas berdiri di pintu Sarinah, menonton Sherly masuk ke mobil putih yang datang lima menit kemudian.
Lalu Dimas berbalik. Dia masuk ke MRT Bundaran HI. Pulang ke Pejaten.
Di MRT, dia membuka HP. Dia mengetik draft chat: Sher, makasih untuk sore tadi. Ketemu Sabtu depan ya?
Dia tidak mengirim sekarang. Dia menyimpan draft. Akan dikirim setelah pukul sembilan, supaya tidak terlalu cepat.
Dia menutup HP. MRT berangkat dari Bundaran HI menuju Lebak Bulus.