← Kembali

Slice of Life · Tol Cikampek · 4 menit

Kilometer 47 Tol Cikampek

H-2 Lebaran, kami berangkat dari Jakarta pukul empat pagi. Tujuan kampung suami di Tegal. Mobil pinjam adik ipar — Avanza warna abu-abu, AC normal, audio system yang kabel jack-nya longgar. Saya nyetir setengah perjalanan pertama, suami setengah berikutnya. Anak kami — Bila, enam tahun — tertidur di kursi belakang dengan bantal sapi-sapian.

Macet mulai pukul tujuh, di kilometer 30. Lambat-rayap sampai 35. Berhenti total di kilometer 47.

Di kilometer 47, kami menghabiskan lima jam.


Pukul sepuluh pagi, AC mobil mulai panas. Pukul setengah sebelas, suami saya memutuskan mematikan AC dan membuka jendela. Pukul sebelas seperempat, Bila terbangun dengan baju yang basah keringat.

“Mama, aku haus.”

“Air mineral di tas Mama, sayang. Ambil sendiri ya?”

“Tasnya gak ada.”

Saya mencari. Tas saya di kursi depan. Bila tidak bisa meraihnya dari belakang. Saya membuka, ambil botol, kasih ke belakang.

“Pa, lampu hijau di kilometer 50 katanya,” kata suami saya, sambil memutar setir untuk yang kesekian kali sambil tetap diam di tempat. Kami tidak bergerak.

Bila minum air, lalu bersandar di jendela. Dia menatap mobil di sebelah kami — sebuah Innova yang penuh dengan satu keluarga besar, anak-anaknya tiga, neneknya di kursi depan, nampak tidur. Bila menatap lama, lalu menoleh ke saya.

“Ma, ayahnya mereka yang nyetir kan?”

“Iya.”

“Ayah kita yang nyetir juga kan?”

“Iya.”

“Tapi kenapa ayah kita gak pernah nyetir kalau hari Sabtu?”


Saya menatap suami. Suami menatap ke depan. Lampu rem mobil di depan menyala, padam, menyala lagi — siklus yang konstan selama jam terakhir.

Suami menjawab tanpa menoleh, “Hari Sabtu Papa kerja, sayang.”

“Papa kerja Sabtu?”

“Iya. Papa kerja banyak hari.”

“Bahkan hari Sabtu Papa di kantor?”

“Iya.”

Saya tahu ini bohong. Suami saya sudah pisah dari saya secara fisik selama setahun, meskipun secara hukum kami belum bercerai. Dia tinggal di apartemen kecil di Bekasi, dia datang ke rumah Sabtu siang sampai Minggu malam — tapi tidak setiap minggu. Kadang dua minggu sekali. Kadang sebulan sekali.

Bila tahu papanya tinggal di tempat lain — saya jelaskan sederhana, “Papa tinggal di apartemen sementara karena dekat kantor.” Yang Bila belum tahu adalah bahwa apartemen itu adalah pilihan, bukan kebutuhan. Suami saya pindah karena dia menemukan, di umur empat puluh dua, bahwa dia mungkin tidak siap menjadi suami. Mungkin tidak pernah siap.

Lebaran ini, dia bilang dia mau ikut pulang Tegal. “Demi Bila,” dia bilang. “Mertua belum tahu kita… gini-gini.”

Saya mengangguk. Saya tidak punya kekuatan untuk bilang tidak. Anak saya butuh ayah Lebaran. Ibu mertua saya butuh menantu pulang.


Bila masih melihat keluarga di Innova sebelah. Anak terkecil mereka — perempuan, mungkin empat tahun — sudah bangun dan duduk di pangkuan ayahnya. Ayahnya menyuapinya kue kering dari kotak. Mereka semua tertawa pelan, ngobrol pelan, makan kue pelan.

“Mama,” kata Bila, “ayah dia ngasi makan kue. Aku boleh kue?”

“Belum ada kue di mobil, sayang. Nanti kalau berhenti di rest area, kita beli.”

“Tapi mereka punya kue. Kenapa kita gak bawa kue?”

“Mama lupa beli.”

“Ayah dia kayaknya gak lupa beli kue.”

Saya menatap kaca depan. Saya tidak bisa menatap suami. Saya tidak bisa menatap Bila lewat kaca spion. Saya hanya menatap lampu rem mobil di depan saya.

Bila terus berbicara. “Ayah dia juga di rumah kayaknya. Kayaknya tidur di rumah sama mama-nya. Bukan di apartemen.”

“Bila, ayah-ayah punya cara yang beda-beda.”

“Tapi aku mau ayah yang kayak ayah dia. Yang ngasih kue. Yang di rumah.”


Suami saya, akhirnya, menoleh ke belakang. Pertama kalinya dia menatap anaknya langsung dalam tiga jam terakhir.

“Bila,” katanya, “Papa juga mau jadi ayah yang kayak ayah anak itu.”

Bila tidak menjawab. Bila tahu kalimat yang dia tidak mengerti. Dia hanya kembali memandang Innova sebelah.

Pukul setengah satu siang, macet di kilometer 47 mulai longgar. Mobil-mobil bergerak satu meter, dua meter, lima meter. Bila tertidur lagi.

Pukul satu siang, kami melewati kilometer 50. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada kecelakaan. Tidak ada konstruksi. Tidak ada lampu hijau yang dijanjikan. Macet itu, kata satpam tol yang kami tanya di rest area, “Cuma volume aja, Bu. Lebaran sih.”

Lima jam karena volume.

Suami saya menatap saya di rest area sambil minum es teh manis. Saya tahu dia mau bilang sesuatu. Saya tidak ingin mendengarnya.

Saya bilang duluan, “Pa, setelah Lebaran, kita ke pengacara.”

Dia tidak menjawab. Dia hanya mengangguk.

Kami sampai Tegal pukul sepuluh malam. Ibu mertua memeluk kami berdua di pintu. Bila tidur di lengan saya.

Lebaran tahun ini, kami akan jadi keluarga utuh untuk terakhir kalinya. Saya tahu. Suami tahu. Hanya Bila yang belum tahu.

Tapi suatu hari nanti, mungkin di kilometer 47 yang lain, mungkin di rest area yang lain, Bila akan tahu juga. Dan ketika dia tahu, saya akan ada di sampingnya. Saya akan menjelaskan dengan sabar. Saya akan beli kue untuknya.


— Tol Cikampek, 18 Mei 2026

← Semua cerpen Genre Slice of Life →